Kamis, 26 Maret 2009

Pengaduan Seni

LAGI, aku terus berlari. Pokoknya aku harus bertemu dengan kau. Betapapun caranya. Kulalui sejengkal demi sejengkal satu-satu sisa desahan nafasku yang kian saat kian melemah, apapun yang terjadi kutemui kau. Sebelum waktuku habis. Denyut jantungku pun semakin kencang, mengalahkan langkahku berlari. Saking lelahnya berlari, aku tidak memperhatikan pandanganku ke depan, mataku hanya tertuju ke tanah karena menurutku cuma tanahlah yang kini dapat menyaksikan perjuanganku untuk bertemu dengan kau. Adakah peluang itu berpihak ke tanganku? Aku tak tahu. Siapakah yang peduli dengan harapanku?

Aku sudah lupa berapa lama sudah aku berlari, karena keberadaan waktu bagiku bukan apa-apa. Aku tidak mau diperalat waktu, meskipun demikian akupun sadar bahwa hidup itu sendiri tidak dapat terlepas dari kekakuan sang waktu. Akh, buat apa memikirkan dia, karena dialah juga, aku begini. Hidup terlunta-lunta, bersembunyi dari satu malam ke malam berikutnya dan hanya kaulah satu-satunya yang bersedia menjadi sahabatku, mendengarkanku. Aku sangat berhutang budi pada kau. Sekarang aku harus menemukan kau. Oh… kau di mana keberadaanmu sekarang ???! Aku sudah tidak tahan lagi…

Tidak. Aku tidak boleh memporsir pikiran hanya demi umpatanku atas ketidakberdayanku melawan segala. Apakah segenap upaya harus diakhiri pengorbanan? Kalau begitu, pengorbanan apa yang pantas membela kehadiranku. Sementara kebenaran dianggap sebagai sebuah anggapan. Sesuatu yang benar belum tentu benar begitupun kesalahan. Di mana letak kebenaran yang sebenar-benarnya? Lalu, tiba-tiba semuanya gelap, udara terbius pekat padahal malam belum saatnya menjelma. “Ada apa ini?”

*****

“Sen! kamu mencariku seperti sebelumnyakah? Karena awan buru-buru menjemputku. Katanya, kamu tidak sadarkan diri. Jangan bergerak!, kondisimu belumlah purna! Istirahatlah!,” pinta kau, disaat Seni mencoba menggerakkan anggota tubuhnya.

“Ternyata, aku masih bernafas!,” kilah Seni tanpa menjawab pertanyaan kau.

“Sen, duka apa lagi yang kamu rasai berbagilah denganku?, ceritakanlah! aku selalu siap mendengar pengaduanmu!?!!”

“Aku minta maaf kau!, karena selama ini aku terlambang hanya bersamamu disaat aku dilanda kepiluan, seperti aku dikecewakan kekasihku dulu. Tapi sungguh bukan begitu hasratku, karena di jalananku ini hanya ada satu sisi yakni minus. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku terlahir dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu kau! Aku malu…,” keluh Seni.

“Sen, bagiku semua itu tidaklah penting. Yang penting, diriku dan dirimu masih tetap bisa memandang senja tenggelam berdua, aku tidak peduli apapun keadaanmu?,” hibur kau.

Kehambaran hati Seni terobati oleh kata-kata itu, “Terima kasih kau. Setidaknya masih ada yang mau mendengarkanku. Aku tidak tahu harus memulainya darimana? Jujur saja kau!, aku sudah penat. Orang-orang di bumi semuanya… mereka memfitnah aku. Aku yang tidak tahu apa-apa!??, aku bingung mengapa hal ini bisa demikian??”

“Bisa demikian? Maksudmu apa Sen???, aku tidak paham!,” tanya kau heran.

“Ketahuilah kau, bahwasanya semua manusia telah memakaiku sebagai tameng. Semua kelakuan buruk apalagi! Aku… Aku…benci! Sementara aku tidak mengenal siapa mereka? Tapi atas perilaku mereka itu disebut-sebutnyalah aku. Seni!”

kau semakin heran, “Sen, mengapa demikian? Aku tidak mengerti penjelasanmu itu?”

“Akupun demikian kau. Ketika aku berjalan di stasiun kereta api yang dipenuhi kerumunan penumpang, satu di antaranya berteriak ‘Jambret… Jambret….!!!’, lalu orang di sampingku tertawa sementara yang lainnya asyik mengejar si penjambret tersebut ‘Bodoh! andainya saja ia tahu seni mencopet manalah mungkin ia ketahuan, dasar payah!’ dan aku hanya diam mengartikan maksudnya. Aku berjalan lagi, entah kemana? Kulihat orang-orang berdesakan. Aku merasa heran ada apa? Lalu kudekati mereka, salah satu di antaranya mengatakan bahwa sebentar lagi pertunjukan seni teater akan segera dimulai. Akupun terdorong oleh desakan orang-orang di belakangku. Aku masuk ke tempat itu. Tempat yang sangat gelap dan yang ada hanyalah lampu-lampu kecil yang menyoroti dari atas sebuah podium dengan ukuran yang maha besar. Kudengar mereka menyebutnya panggung arena. Satu-satu orang keluar dari bilik podium raksasa itu serta merta lenggak-lenggok bergaya sambil berkata-kata. Sebuah tontonan yang mengaysikkan yang mengisahkan seorang lelaki dengan bolanya, ia gelindingkan dan sesekali dilemparkannya. Suatu ketika bola itu melayang menyambar ke arah salah satu jendela di keliling podium itu, lalu pecah. Lagi, aku diam. Lagi, mengartikan maksudnya. Kemudian aku berjalan lagi, lagi-lagi aku bertemu orang-orang. Ada seorang betina menangis, dengan tak sehelai kainpun membalut tubuh eloknya. Ia terus menangis dan meronta. Ia histeris dan berkata dalam tangisannya yang sebisa-bisanya itu; ‘Keperawananku telah dirampok, kemaluanku telah dijarah, diriku sudah disahaya…, biadab! Bangsat!’ lagi-lagi aku hanya diam. Dan lagi-lagi, mengartikan maksudnya. Aku tidak kuat menahan amarahku, aku teriak lepas, tanpa peduli dengan sekelilingku. Lalu aku berlari… berlari… dan berlari mencarimu! Aku pusing, aku bingung dengan apa yang terjadi!?”

“Begitukah???, begitukah mereka??? Memakaimu atas dasar hal yang dianggapnya lumrah. Mereka benar-benar telah memfitnahmu!,” iba kau.

“kau, setiap apa yang mereka lakukan berazaskan aku. Orang memperkosa orang dikatakan seni memperkosa, Orang mengikuti lomba tari dikatakan mengusung dan membudayakan seni tari. Ada juga orang yang bercinta mereka mengatakan seni bersenggama. Bahkan mereka menjabarkannya lagi dalam sebuah buku yang berjudul 69 seni bersenggama, khusus bagi anda yang ingin menikmati kenikmatan lebih. Penasaran, apa isinya lalu kubuka halaman perhalaman ternyata? Jijik aku melihatnya. Sepasang insan dengan kebugilannya berdekapan, sang betina dipeluk lawan jenisnya dari arah belakang menuju ke kiri. Ini dinamakan teknik menyamping. Bulshit, pantaskah buku semacam itu beredar dengan kandungan yang memuakkan? Parahnya lagi, aku membaca spanduk yang bertuliskan seni adalah seni. seni berkebebasan. lakukanlah apa yang kau mau sesukamu! Hidup seni!!! nanar aku melihatnya, sedemikian burukkah sudah seni di mata mereka. Lalu diinjak-injak oleh mereka yang mengaku-ngaku bagian dari seni. Padahal tahu apa sih mereka tentang aku? namaku dijual dimana-mana. Diseluruh belahan dunia ini. Bahkan mungkin sudah merambah ke luar angkasa sana. Katakan kau, aku harus berbuat apa?”

“Sen, tenanglah. Ini adalah ujian dari Tuhan bagi hambaNya dan Ia masih memberikan kesempatan bagimu untuk membeberkan semuanya kepada manusia-manusia itu, mengubah persepsi yang salah kaprah atas dirimu Seni. Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Tapi……!!!???”

Mendengar jawaban yang menggantung dari kau, Seni bertambah bingung “Tapi…, tapi apa kau?”

“Maaf Sen, bukan apa-apa. Tapi, Tuhan sendiri memakaimu atas apa yang ia kehendaki. Ia membuat dunia ini dengan seni. Tanpa seni, aku tak tahu apa jadinya tempat kita menginjak ini? Ayat-ayat yang diturunkanNyapun memakai seni bahasa yang indah-indah. Bahkan ada umat agama yang menuliskan ayat-ayat kitab suci agamanya ke dalam seni kaligrafi dan ajakan untuk mengerjakan perintah Tuhannya dengan seni azan!,” papar kau pelan dan berhati-hati.

Sedang Seni hanya diam, ia merasa hidup tidak adil untuknya. Batinnya terus berontak, ia merasa dilakukan semena-mena oleh apa saja yang mengaku-ngaku atas dasar seni. Ia membenci semuanya, termasuk Tuhan. Ia merasa dimanfaatkan oleh semua.

“kau, dengan kata lain apa yang kita lakukan ini juga kamu katakan seni? seni mengadu!,” Seni mengapi-api bersama gaya laut merahnya.

Namun kau hanya diam. Seakan-akan ia mengiyakan pernyataan Seni.

“kau, kukira kau dapat menolong aku. Kukira hubungan kita dapat menjadi abadi. Aku salah menilaimu. Kamu sama saja dengan mereka. Kamu sama dengan kekasihku yang meninggalkan aku setelah puas mendapatkan apa yang dikehendakinya dengan atas dasar seni, ya… seni menghancurkan perasaanku. Seperti kamu, kau!!! Kamu jahat kau, Aku benci semua, aku benci SEMUA!!!”

“Sen, kontrol semua emosimu! Dengar!, sisi minus yang kau keluhkan tadi adalah sisi plus bagi yang mau memahaminya! Sadarilah segala kata-kata yang terdengar manis pada hakikatnya adalah mimpi. Kedamaian, keadilan dan kebahagiaan salah satunya. Bukankah kamu juga berupaya mewujudkannya? Kamu lupa, damai, adil dan bahagia adalah kebohongan belaka, untuk mengatasi kemelut pertahanan agar tetap senantiasa menetap untuk hidup. Adakah yang mampu menggapainya? Tak satupun. Apakah damai, jika di luar sana peperangan menggema? Apakah adil, jika di sekeliling kita masih terdapat gadis peminta-minta yang mengharap pasokan makanan demi menempa hari berikutnya? Apakah bahagia, jika duduk di punggung yang lain sementara yang didudukinya merasakan sakit yang maha. Seni sahabatku!, aku, kamu, mereka yang berada pada kehidupan adalah sama, bertahan bukan demi mimpi-mimpi itu. Tetapi demi luka!,” setelah mengucap luka kau menangis. Apakah baginya bertahan itu berarti menangis?

“Tidak… tidak… tidak kau!, kamu bicara sekenanya saja bukan? Menurutmu, segala seni, termasuk; damai, adil, bahagia merupakan semacam teka-teki yang berkutat di situ-situ juga. Layaknya labirin. Menurutmu, segala perlakuan tentang seni itu wajar? Haruskah semua jalan di lalui nestapa. Segenap derita. Demi luka?,” Seni menggeram, karena saat hanya berkeliling untuk kesia-siaan.

*****

Lagi, aku terus berlari… aku harus menjelaskan pada mereka bahwa aku adalah Seni yang tidak rela melihat perbuatan dengan mengatasnamakan aku, Seni. Aku tidak seperti yang mereka pikirkan, Jangan fitnah diriku lagi… kumohon, Mengertilah!!! Sambil berlari akupun menangis seperti yang dilakukan kau untuk bertahan, aku tak peduli. Sesekali kutengok ke atas, mengapa malam selalu dipenuhi kebungkaman. Tapi tidak dengan bintang yang berhamburan yang tidak bisa dijabarkan dengan hitungan tetapi diukur dengan perkiraan karena tak satupun yang tahu berapa jumlah bintang-bintang itu.


Hudan Nur, Guntung Payung, 20 Juli 2005 04:25 PM

MAKLUMAT PENTING



FABEL


O… coba binatang berkenan. Berbusana baju manusia. Entah jas, safari, kebaya dan yang lain. Yang lumrah orang pakai.
O… coba binatang berkenan berkeliling pakai protokol, ajudan, bodyguard. Saatnya kuangkat sebagai menteri. Gajah menteri sosial, Kelinci menteri riset, Orangutan Menlu, Siamangnya Mendagri.
Gajah tinggi besar, pantas ngurus sosial. Agar rakyat nyangka, betapa tinggi besar perhatiannya pada keadilan sosial, kuping gajah sangat lebar sekali agar rakyat nyangka ia sangat peduli. Ia selalu ingin mendengar soal keadilan sosial. Yang penting jangan sampai dia cuma ambil pusing sekolah gajah di Lampung.
Kenapa Kelinci menteri riset dan teknologi? Karena saking banyaknya sangat banyak percobaan. Cobaan di negeri sendiri. Kalau rakyat nggak taha. Tidak tahan cobaan. Biar menteri sendiri, hayo, jadi kelinci percobaan.
Orangutan jadi Menlu, Siamang Mendagri. Kenapa kok Orangutan? Kenapa mesti Siamang? Tanya saja pada Kancil, yang sedang mencuri timun, beliau adalah Sekretaris Kabinet.
O… sori pak Kancil sedang sakit, Tanya saja sama pak Kambing, beliau itu menteri juga lho, menteri Kesehatan merangkap Sekretaris Kabinet Ad Interi, O ya kenapa kok Kesehatan? Karena kambing itu hebat lho, semua rakyat takut kolesterol. Rakyat takut stroke, persis takut amerika, nggak berani makan kambing, padahal kambing seluruh badannya kolesterol semua, gak papa tuh, jangan jadi kambing hitam.
Tikus ngurus Industri, Ular ngatur Jaksa, Bekicot Perumahan, Kuda menteri Wisata.
Tikus ngurus Industri tahukah kau kenapa? Supaya gudang-gudang tak digerogoti tikus, karena sungkan kepada pak menteri, yang masih terhitung sanak family sendiri.
Ular jadi Jaksa, itu sudah jelas, alasannya jelas, kenapa-nya jelas, itu sudah jelas. Karena jaksa perlu urat leher, urat leher panjang untuk terus menuntut siapa saja tak pandang bulu_leher ular sudah panjang karena sepanjang badannya leher semua.
Bekicot jadi teladan bawa rumah kemana-mana oooo pantes banget jadi menteri Perumahan, oooo sehingga rumah-rumah aman, nggak ada garong, oooo biar pak polisi nganggur…nemenin anaknya ngerjain pr.
Di tempat-tempat wisata , bayak kuda-kuda ngangkut anak-anak beputar-putar oooo senangnya, lebih senang lagi kalau menterinya yang kuda, turun ke bawah sendiri, turba turba, turun ke bawah, wah nanti anak-anaka akan cerita di kelas, di depan bu guru, “Bu, kemarin aku, di tempat wisata naik punggung menteri, menteri pariwisata, hebat ya… hebat ya…” ya pansti semua orang tergiur berwisata.
Kadal dan Kambing Hitam, Bunglon, Louhan dan Teri, Beo dan Kuda Hitam, semua kulantik sebagai menteri. Walau kerja tak becus, tapi yang yang paling cocok. HEWAN GAMPANG DIURUS, LEBIH SUSAH DISOGOK!

…. Demikianlah sumbangsih pra pesta demokrasi yang saya kutip dari karya seorang Maestro Sujiwo Tejo. Meski terkesan prontal, tetapi inilah anekdote nyata yang cukup relevan dengan suhu di Nusantara. Ketika Tuhan menciptakan Flora, manusia lebih memilih Fauna untuk dicontoh, tetapi lebih lajut kalau boleh kita berpikir lebih intens, binatang lebih baik daripada manusia. Terlepas bekal akal yang sudah dikarunianya yang bisa meramu pekerti, manusia kehilangan bentuk dalam kadar makna manusia itu sendiri! Menjelang PEMILU 2009, ada kabar gembira bagi para caleg yang stress… gagal dalam Pemilu 2009 yakni telah dibukanya pengobatan alternatif, silakan menghubungi ABAH GOLPUT di www.gilasi@njing.puas.om
Sementara kampanye terbuka yang menghabiskan dana yang tak kalah besarnya, melibatkan artis-artis erotis dalam menarik simpatisan, sementara di belahan Indonesia korban Lapindo belum mempunyai tempat tinggal, dengan segala keterbatasan dan pengembirian atas pemerintah bahkan Gubernur Jatim yang baru saja terpilih! Euphoria Indonesia dalam Kategori sangat memprihatinkan. Saatnya kita semua merenung dengan hati. Buka mata lebar-lebar. Tanya diri kita. Apakah masih ada perjungan yang mengatasnakan rakyat tanpa embel-embel selain kawan-kawan mahasiswa dan aktivis???

Rabu, 11 Februari 2009



Sore hari, di belakang rumah-Palu Feb' 2009


DEAR DIARY,

Selalu ada yang berlalu di kelaluan waktu. Setelah tersimpang maka akan habis masanya. Sudah beberapa minggu aku menemukan jiwa di pinggiran kota kecil di Sulawesi. Aku tak terlalu mengerti arti pengorbanan. Hari ini masih saja terlihat sampah-sampah kecil di ujung-ujung jalan. Aku memungutinya untuk dijadikan daur ulang dalam memperbaharui lagi arti perjuangan dalam memetakan fungsi.

Aku harus melambangkan merah dalam warna darah yang menunjukkan perjuanganku. Aku harus bertahan dalam warna biru yang menunjukkan antipatiku dan segenap kesedihanku. Sebab setiap manusia diciptakan dalam alegori pasangan.

Disini, aku merindukan kampong halaman. Dua minggu di Palu membuatku merindu.



Pemandangan Kota Teluk-Palu dari Kaki Gunung




Mein Diary


Kota Teluk-Palu, di sore hari...

Sabtu, 24 Januari 2009

Legenda Sangsai



: Hudan Nur


AKAN ada masanya kita saling mengerti. Kita saling berpraduga. Ada waktunya kita memang harus bersama dan suatu saat kita juga berpisah. Semuanya memang begitu adanya. Ada masanya malam menjelang dan tiba-tiba saja mentari menerjab. Lalu dirundung usia menuju senja. Lalu, lalu dan berlalu…

Selalu begitu. Selalu saja masa berlalu dengan adanya. Tahun ini, aku berdiri di barisan usia hampir seperempat abad. Waktu berjalan dengan lagunya, penuh suka-cita. Dan berlalu. Tanpa bayang-bayang. Cukup tegak berdiam, sesekali menengok ke belakang, sekadar mengingat kelaluan waktu yang telah lewat. Sesekali juga menelah air liur: pahit.

Semuaya mempunyai garisan yang keteraturannya sudah dikadarkan. Sekarang, adalah masa lalu untuk esok hari. Bukankah kerinduan yang paling syahdu, ketika batang bambu yang sudah terpisah dari rumpunnya dan menjadi suling, akan terdengar betapa suaranyanya melengking-menyayat hati pendengarnya. Betapa ia merindukan rumpunnya tersebut. Betapa ngilu tembangnya. Kita tak pernah mengerti!

Lalu, jalan kita lampaui dengan segala liku-likunya. Bukankah selama perjalanan ini belum pernah kita lalui jalan yang mulus? Selalu saja ada gundukan tanah di tiap-tiap kilometer jalan atau perbatasan wilayah suka-duka bahkan lobang-lobang kecil di pesisir jalan? Atau jalan-jalan yang tak sempurna, tak layak yang tetap kita sebut jalan.

Selalu saja kita lalui itu semua dengan kelapangan, dengan segala keterbatasan sebagai seorang manusia. Hingga waktu bergulir seiring pembaruan yang dipenuhi intrik dan teror-teror kehidupan dalam katalika rampang perjuangan.

Sejenak, kita ramu semua benalu kepedihan yang kita anggap cenaku di setiap interval usia sebagai squad yang patut kita banggakan (karena usai kita khatamkan) tetapi perlu kita hayati bahwa setiap benalu tidak hanya menghinggapi di rumbai cenakumu tetapi, aku-kamu-dia-mereka-kami-kita, tak terkecuali. Setiap insan merasakan dicenaku, ini bagian dari dinamika dan tak perlu kita sebut fenomena. Begitupun dengan bencana, ia datang dengan belenggu masa lalu sebab apa yang dilandainya adalah sebuah persejarahan. Dalam artian, semua yang menimpa hanyalah refleksi yang pernah terjadi sebelumnya. Awal-akhir-awal-akhir (mengenang awal-mempertanyakan akhir), ada-tiada-ada-tiada… selalu begitu-begitu saja.

Pada akhirnya kita akan tersadar dari dagelan nyata kehidupan ini. Hah! Hidup itu statis!

Tak perlu didesaukan ke palung hati-hingga patah hati!

Sebentar, mari bersama kita lihat di sekeliling kita. Adakah ini semua sebuah teater jiwa yang mengiris raga? Keterasingan, kemanusiaan, belenggu dan senandung hati kian menghiasi makna kesendirian saja? Ya! Ini adalah kata akhir bagi kita! Dari pilihan yang memilihkan kita, sebab ada waktunya kita memang tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab ada kalanya seorang aktor menonton pemeranan tokoh-tokoh lainnya, agar dia bisa merenungi diri dari bilik yang dipentaskan rekanan yang lain. Pun sebaliknya. Selalu begitu…

Maka, bila kita disentuh angin, diraba mentari, dibuai malam, dan sebagainya… rasailah sebagai sangsai kehidupan yang berjalan dengan kodratnya. Memang seharusnya! Akhirnya kita berada di titik nadir! Percayalah, segalanya akan berakhir… kita hanyalah mini micky yang dikendalikan sesuatu. Dan sesuatu itu memiliki kedahsyatan yang maha. Sesiapapun takkan menandinginya. Kita kembali ke awal. Berjalan. Dan berlalu ke akhir!

Sabtu, 17 Januari 2009

(Sedikit Bocoran) Bab Pembuka Novelku ENIGMA

1

BEBERAPA dekade setelah ditemukannya Osiris di penghujung desember 2003 sebagai planet yang memiliki persamaan dengan Bumi diperoleh transmisi angkasa lokal bahwa 23 juta kilometer cahaya dari Bumi terdapat sejenis noktah dengan ukuran tiga-per-empatnya Bumi yang dikelilingi kripton namun di dalamnya terdapat hidrogen dan helium. Ia terletak antara Planet Bumi dan Planet Zahara atau Venus. Kadar gravitasi di sana mencapai dua kali lipat dan atmosfernya delapan kali lipat lebih baik dari Bumi, karena lapisan O3nya masih tidak terjamah oleh polusi.

Hal itulah yang menyebabkan perbedaan waktu antara Planet Bumi dan Planet baru itu. Ia berevolusi selama 274 hari dan kala rotasinya 18 jam. Jika di Bumi empat tahun, maka di sana hanya berada di posisi usia tiga tahun. Dalam setahun, ia terbagi menjadi 9 bulan (Dev, Rad, Sid, Edk, Zro, Dbe, Dre, Oex dan Fce) yang masing-masing terbagi menjadi 29-30 hari secara bergantian ditiap bulannya. Satu bulan terbagi menjadi 3 minggu yang setiap minggunya berjumlah 9-10 hari. Nama-nama hari tersebut adalah; Zeraid, Igma, Degom, Brevid, Sardag, Zwaiz, Gaybrav, Merdhan, Sanbler dan Uapias. Namun, pada minggu terakhir atau minggu ke-3 hanya sampai pada hari ke-9 yakni Sanbler.

Konon menurut kabar, planet baru itu ditemukan oleh seorang Guru Besar Fisika di Institut Teknik Bandung, ketika ia memantau benda-benda angkasa di Boscha pada tahun 2023. Ia menyebut benda itu Enigma karena benda itu merupakan tanda tanya. Ia tidak menduga bahwa benda itu adalah sebuah planet. Tak ada yang menyangka tanda tanya dapat bermutasi mengubah semuanya. Infiltrasi sedikit demi sedikit dari sebutir telur yang tidak diketahui apa induknya suatu kelak tentu menetas.

2

Seperti debu yang tertiup angin, kabar itu melesat, membahana menyeruakkan segala. Setiap manusia yang menyatakan manusia pasti paham tentang enigma. Suatu tambang emas bagi yang juga mengaku orang, yang padahal orang-orangan alias manusia jejadian. Ooo? Siapakah itu? Enigma nampaknya mengubah style gossip yang ada di bumi. Apapun itu, selalu dikaitkan dengan eksistensi enigma. Ekonomi, politik, sejarah, budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan, lebih-lebih lagi ideologi. Enigma dijadikan tolok ukur aktivitas mereka. Tak satupun sadar apakah hal tersebut benar? Mewarisi tradisi pembebek, karena paham yang ada; kesalahan dan kebenaran adalah sebuah anggapan. Sesuatu yang benar belumlah benar. Sesuatu yang salah belumlah salah. Puih!!

Sembilan tahun kemudian, planet tersebut dijadikan sebagai wadah pembuangan bagi para pemberontak dari Planet Bumi, yang memiliki daya kecerdasan lebih, namun tidak mau bekerjasama dalam kegilaan eksplorasi dan ekspansi. Karena diwaktu itu, manusia-manusia berhasil direngkuh oleh dogma kebinatangan yang menjanjikan kemenangan. Mereka lupa akan hakikat hidup karena keegoisan telah menutupi hatinya melalui kebahagiaan material.

Dua dasawarsa berikutnya, diperoleh lagi transmisi angkasa lokal bahwa beberapa planet di jagat raya sudah dihuni oleh makhluk-makhluk seperti manusia. Dan tiga tahun berikutnya dideklarasikanlah Bahasa Galaksi sebagai sarana komunikasi di seluruh jagat raya. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan hubungan antar planet tidak dapat terlaksana tanpa kehadiran Bahasa Galaksi. Karena pada masa itu, planetpun mempunyai karakter seperti manusia, yakni membutuhkan pertolongan dari yang lain. Di Bumi, Bahasa Galaksi menjadi bahasa global yang mengalahkan bahasa-bahasa di seluruh dunia.

3

Enigma, Zeraid 21 Rad 2063

Te Zeusubim tampak anggun malam itu, karena ia dikelilingi beberapa lampu-lampu tenaga bintang yang terpancar dari sudut-sudut Enigma. Sedang Domi bertaburan di sana-sini. Domi adalah wujud dari sintesa seluruh tumbuhan di permukaan Bumi yang dikirimkan melalui unsur-unsur radioaktif. Domi berbentuk kerucut yang mana pada bagian tengahnya dipasangi platina yang berisi karbon dioksida, ia bekerja sebagaimana fungsi batang yang mentransformasikan seluruh substansi dalam bentuk cairan yang diperlukan oleh tanaman. Disetiap permukaannya terdapat pori-pori yang berwarna hijau, tempat pertukaran gas. Selain itu, ia juga bertugas sebagai pelindung Enigma dan penyaring pemanasan matahari yang hanya berjarak 126 juta kilometer cahaya.

Te Zeusubim adalah bangunan yang berbentuk persegi dengan bahan kristal yang dicampur platina dan dibuat oleh seluruh hacker serta ahli pikir yang berdaya nalar impian di seluruh negeri dari Planet Bumi. Mereka seakan-akan dikutuk karena kecerdasan yang dimilikinya dan dikhawatirkan akan menggagalkan misi-misi yang telah dicetuskan oleh One World Highest (OWH) milik negara-negara maju di muka Bumi yang bermarkas di Kutub Selatan. Te Zeusubim adalah sebuah pusat peradaban yang dijadikan sebagai tempat penelitian benda-benda angkasa yang secara laten bekerjasama dengan Ferrinova Binggo Amadeus milik Yupiter. Sedang tujuannya adalah mencari sesuatu yang baru guna penyelamatan umat di Bumi karena mau tidak mau mereka berasal dari Bumi, yang tidak rela kalau anak-cucunya dibodohi oleh para penguasa untuk memenuhi seluruh nafsu keserakahan, khususnya dalam pemenuhan segala keperluan sumber energi yang kian hari kian menipis. Mereka mendambakan sesuatu karsa dan karya yang agak berbeda namun fantastik. Mereka tidak mau dijadikan orang-orang flagiat bahkan disebut generasi pembebek, yang hanya bisa meniru ciptaan orang lain, karena hal itu sungguh memalukan.

Seperti malam-malam biasanya, laki-laki yang kini berusia 37 tahun dengan postur tubuh yang tegap itu, kembali menatap bintang-bintang dari teropong planetarium tempatnya bekerja. Namun, ia tidak tahu apakah bintang itu yang dilihatnya kemarin malam. Ia betul-betul tidak bisa membedakannya. Lalu ia menggeser fokus lensa dari tempatnya memandang tadi, sejauh 26 derajat. Dan …, “Apa itu ?”

Palestina, Kebodohan Bangsamu Sendiri

Salam,
Ketika (masih) terjadi hiruk-pikuk pergolakan politik Israel-Hamas Palestina. Saya membesut di kediaman sendiri. Whateverlah, itu murni persoalan politik Boleh kita menilik konflik yang terjadi di beberapa daerah di bumiku, Kalimantan! Ketika setiap daerah mencibir sukuku 'yang mereka katakan kaum kanibal' betapa ngilunya hatiku?
Pembantaian-pembantaian dilakukan oleh keluargaku terhadap suku-suku yang merasa lebih terhormat dan pandai! Katakanlah 'jawa'. Orang Kalimantan disebut bodoh. Kami diam saja. seperti puisi ini:

Juga ketika mereka duduki tanah leluhur ini

Kita tidak diberi pilihan lain

Selain mencoba bertahan

Dan ketika mereka adakan penggusuran

Kita tidak diberi pilihan lain

Selain terus berjaga

Tapi ketika mereka mulai main pukul

Kita tidak diberi pilihan lain

Selain berkeras melawan



Ketika suku tersebut melakukan intimidasi, sekaligus perusakan terhadap apa yang telah dikaruniakan Tuhan untuk dijaga datu-datu kami, pembantaian terjadi... Sukuku marah. Sebab sudah terlalu sering orang-orang pendatang (suku asing) itu membuat kekacauan di tanah kami. Bumi Kalimantan yang Tercinta!
Nah, begitu juga ketika aku mengenal watak suku bangsa arab. Yang serta merta menyombongkan dirinya sebagai golongan ter-paling- golongan lux dan dijamin masuk surga. Hahaha. Apalagi yang membuatku berang, ketika mereka menduduki ranah Kalimantan lalu suatu ketika hadir di tengah-tengah kegiatan-mereka selalu berkelompok-dan selalu merasa lebih terhormat-lebih segalanya

Begitupun halnya ketika anak suku bangsa Yahudi memeluk agama Islam, apa yang terjadi? mereka tetap dengan bangganya mengolok-olok suku bangsa lain dan meninggikan derajatnya! Huh!
Ketika saudara sebangsanya sendiri mengalami perang. Apa yang terjadi???
Sikap apa yang diambilnya? Masa bodohkah?
Akhirnya saya sadar, mereka---suku bangsa mereka---arab--adalah suku bangsa yang egois, suatu saat kemurkaan Allah akan menggelegar... salah satunya Perang Israel dan Palestina...

Minggu, 11 Januari 2009

WAJAH DEPORTAN pra Rilis

SILATURRAHMI SASTRA PENULIS MUDA INDONESIA

PADA awalnya Antologi Wajah Deportan ini ditujukan untuk menjalin silaturrahmi penulis puisi pada lingkup yang lebih luas. Tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan untuk membukukan karya penulis muda yang berada di tanah air. Hadirnya antologi ini dalam klasifikasi penulis muda (penulis yang berusia di bawah 40 tahun) dikarenakan adanya persinggungan dalam takaran penulis senior dan junior, hal ini sangatlah beralasan sebab kecenderungan eksistensi penulis muda yang berbakat khususnya penulis-penulis muda di daerah dipandang sebelah mata. Ketika pertama kali diwacanakan mengenai pembukuan puisi-puisi ini kepada rekan-rekan seluruh tanah air, respon positif diterima oleh tim kerja dalam antologi ini.

Tak kurang dari hitungan bulan, karya rekan-rekan penulis muda terkumpul di markas besar Komunitas Teras Puitika. Pengiriman tersebut diterima melalui e-mail, surat, dan ada juga yang langsung mendatangi markas tersebut. Uniknya puisi yang dikirimkan tersebut memuat kultur geografis, khazanah budaya, dan eksotika daerah yang sangat kental namun tetap nyaman untuk dibaca. Selain itu, unsur perlawanan juga mewarnai di antologi ini. Setiap penulis di antologi ini memekikkan kegelisahan dan pengenangan terhadap apa yang dialaminya pada situasi negara sekarang ini. Hingga akhirnya tim penyusun menyepakati untuk membagi puisi-puisi itu ke dalam beberapa bagian yakni: kehidupan, kemanusiaan, perjuangan, perjalanan dan cinta. Pengemasan semacam ini dimaksudkan agar pembaca pemula yang ingin mengenal puisi dapat mengetahui secara langsung langgam maksud yang disuratkan lewat puisi oleh penulisnya.

Antologi ini memuat 41 penulis muda Indonesia dengan kecakapan pengetahuan yang beragam sesuai dengan kondisi wilayah mereka masing-masing. Inilah yang menjadi kebhinekaan yang dimiliki Indonesia. Daya pikir yang mereka refleksikan ke dalam puisi tidak semata-mata torehan tinta di atas kertas. Melainkan sebuah upaya untuk menggugah para pembacanya untuk bersama-sama merenungi apa saja titik-titik komplekstitas hidup dan kulminasi moral yang diramu menjadi satu dalam rangka memanusiakan manusia untuk makna yang sesungguhnya.

Tak dapat dipungkiri bahwa karya-karya puisi yang menjadi mahakarya dan sangggup merubah tatanan sosial ditulis oleh golongan muda, bisa kita lihat angkatan-angkatan penulis puisi sejak boomingnya karya Chairil Anwar. Sayangnya, dominasi golongan senior menyebabkan arus warna yang mempengaruhi karya penulis-penulis baru tersebut. Sehingga mereka tidak mempunyai ciri khas dalam pencitraan puisi-puisinya. Selalu saja ada bayang-bayang karya pendahulunya. Hampir seluruh puisi yang tergabung di Wajah Deportan adalah puisi-puisi yang lahir pada tahun 2000an, semoga kelak ada dobrakan baru untuk membawa perpuisian Indonesia khususnya puisi yang ditulis penulis muda ke arah perubahan dalam rangka pencarian jati dirinya.

Di luar itu semua, selaku manusia yang masih berumur muda kehadiran Wajah Deportan ini tidak terlepas dari dukungan moral dan materiil dari berbagai elemen pihak seperti: Pusat Bahasa, Balai Bahasa Banjarmasin, Arsyad Indradi, H.M. Mugeni, Dewa Pahuluan, Ogi Fajar Nuzuli, Isuur Loeweng S, Eza Thabry Husano, Ariffin Noor Hasby, dan berbagai organisasi kesenian yang bernotaben di Indonesia. Mudah-mudajan antologi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, generasi penerus bangsa kita tercinta ini. Amin.

Banjarbaru, Januari 2009

Kanatoshi Ariwa

Minggu, 04 Januari 2009

Harapan di Tahun 2009


Hari ini aku tiba-tiba saja ingat idealita kawan-kawan se-esensi kala LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) Regional B yang diselenggarakan oleh DIKTI, November 2007_Universitas Sebelas Maret-Solo. Selalu ada yang baru, ada cita dan ada yang dikalahkan. tahun ini adalah tahun ke-24 aku menjalani kehidupan. Ada harapan baru yang diam-diam aku impikan. Aku ingin membangun squad-gerakan bawah tanah_yang selama ini hanya menjadi impian rakyat marjinal saja. Aku akan wujudkan beberapa doa-doaku sesuai hak yang diberikan Allah kepadaku. ISTIKOMAH!
Harus ada yang dikorbankan. Setiap jalan selalu mengandung intrik yang tidak pernah dibayangkan oleh logika manusia, bukan? Takdir Allah luar biasa. Di luar akal manusia. Nah kawan-kawan se-tanah air, satukan kata_kepal tangan ke udara suarakan "KEBENARAN"!!!.
Kejujuran akan terus landasi langkah kita. Betapapun sulitnya! Salam



Kenangan Tawangmangu-Surakarta November 2007

MEIN SQUAD

: In Memoriam LKMM 2007

aku tiba di tawangmangu

mengakrabi sekawan pipit kecil

dan berkenalan pada seregu squad resimen

: unisri, unpadj, unsoed, undip, ipb, uny, ugm, untanj, isi, unlam, ums, unnes, usd, unad, univet, uns

kegelisahan dirasakan dalam fitur gunung merapi

di sawangan

sesekali membilas pikiran dalam keciprak air kehidupan

bakti ketiga insan mahasiswa

sebentar aku riwayatkan dalam tanah

di bawah perkebunan cermai dan hutan cemara

: heny indriastuti, mekka miqdadia, suci lestari, muhammad nawawi, haryudhi widiasmoro, yogi waldingga, palestina santana, nuky hanggara, rendra hadi saputra, pranti da, m. yuris hamdani, mustadi, nyawitri, eny nurliani, taufik kurniawan, agi suprayogi, zaid romegar mair, intan rawit sapanti, joko susilo, yanto, agus budiarso, triana setyawati, damas lukis andarwan

kita bersama akan di kubur di kedalaman sejarah

bercengkarama dengan burung-burung yang sempat membuat kupu-kupu

terpesona pada ketajaman mata seekor capung

: seperti kita

memadukan perbedaan dalam kepalan tangan di udara

mein squad

jangan kau artikan sebuah belenggu karena hari itu kita terpatri di kata akhir

kau abdikan sebagai bukti kesenjangan

: tak mau diam tertindas

aku, kau, mereka sudah kembali ke peristirahatan masing

menebus bela sungkawa yang terlanjur dimaknai sebagai upeti

pun hak yang tak berinisial

: jihad kepada golongan!

Teras Puitika, Januari 2009

Senin, 29 Desember 2008

Catatan Akhir Tahun

Ke Aras Nun Jauh
Kuhitung Bintang-Bintang....

Di bawah rinai gugus rasi, ketika suara-suara cangkerik seakan bersahutan dengan riuh gemeretak suara-suara katak dalam kebisuan, ketika desir angin dan gemerisik dedaunan seakan berpaduan dengan musik yang kudengarkan, ketika itu pulalah seorang lelaki menengadahkan wajahnya ke langit malam. Dikhayalkannya bintang-bintang serupa kerlap-kerlip lampu-lampu kota yang dibangun di atas awan. Dibayangkannya Aras nun jauh tempat para malaikat berada. Ketika ia sendiri ragu adakah surga tempat segala harapan dan keinginan terkabulkan seketika tanpa penantian. Ketika kita lupa segala yang pernah membuat kita kecewa dan putus-asa.
Andai kita sama-sama menghitung satu-satu bintang-bintang itu di bawah keteduhan malam sembari kau hamparkan urai rambutmu di dadaku yang bimbang dan ragu. Ketika itu kita hanya berharap pada yang biasa saja. Meski kita juga selalu bermimpi sekedar untuk menghibur hati. Ketika itu ingin kudengarkan setiap kata yang bergetar dan mendesah dari hatimu sembari kudekap mimpi-mimpi dan harapan-harapan yang bergolak di dadamu. Ketika itu waktu bagi kita adalah saat-saat yang memberi detik demi detik yang riang untuk mengkhayalkan apa saja yang ingin kita angankan. Seakan apa yang telah berlalu tak sepenuhnya berlalu.
Ketika kita mempercayai bahwa kita semestinya selalu menjadi anak-anak untuk memenuhi hasrat kita pada kebebasan. Agar kita bisa selalu memaafkan kegagalan dan kekecewaan yang pernah kita alami ketika dewasa. Agar kita bisa tersenyum dan tertawa dalam kesedihan. Sebab apalah artinya sebuah kata jika karenanya kita menderita. Bukankah anak-anak merasa bahagia ketika mereka tak mempertanyakan arti sebuah permainan. Ketika mereka hanya tahu bermain dan tak pernah mempersoalkannya. Karena itu aku ingin usia tak mengalahkan jiwa kita.


****

Kuhitung satu-satu bintang-bintang di langit itu. Di antara bulan yang redup terhalang awan, kupandangi satu bintang yang bersinar lebih terang dari semua bintang-bintang yang kupandang. Ia telah menyita perhatianku seakan adalah harapan dan keinginan dalam kesunyian.
Konon bintang-bintang adalah perlambang masa-depan yang mendengar doa dan keluh-kesah kita. Dan bila kita tiada, kita pun akan menjelma bintang-bintang. Karena itu bintang-bintang adalah perlambang harapan sekaligus kehilangan. Kepada bintang-bintang kita pun menengadah dan berharap mereka mengabulkan apa yang kita inginkan. Dan di saat mereka tak tergapai, di saat itu pula harapan kita semakin kekal. Suatu hari yang entah kapan itu, kita pun akan bersatu dengan mereka di Aras nun jauh itu. Di sana kita kekal selamanya dan tak lagi takut pada kematian.
****
Malam itu kubacakan sajak-sajak romanku untukmu. Dan kau hanya terdiam di hadapanku. Lalu kau raih tanganku dengan keramahan yang tak kuduga sebelumnya. Saat itu aku percaya aku telah jatuh cinta dengan segera dan tiba-tiba.

****
Malam ini aku pun tiba-tiba teringat sebuah dongeng tentang sepasang kekasih yang mengalami kutukan. Ketika siang, yang perempuan berubah menjadi burung elang. Dan ketika malam, yang lelaki berubah menjelma anjing hutan. Yang lelaki menjadi pengembara siang dan sang elang kekasihnya itu selalu menyertai dan bertengger di pundaknya. Dan begitu pun sebaliknya, yang perempuan hidup di sebuah gubuk yang dibangun kekasihnya di hutan yang jauh dari perkampungan. Bila senja, sang elang lekas terbang menuju gubuk tersebut. Dan kekasihnya segera menyusulnya. Karena ketika malam-lah ia bisa melihat dan mengagumi kecantikan kekasihnya. Ia akan berbaring di pangkuan kekasihnya sembari mendengarkan keluh-kesah, doa, dan cerita-cerita kekasihnya tercinta. Di gubuk itu kekasihnya memandangi bintang-bintang dan si anjing hutan hanya mendekap di pangkuannya dengan lembut dan mesra.
Selama bertahun-tahun mereka seperti itu bergantian menjadi manusia dan binatang sembari terus berjuang untuk menemukan azimat yang dapat menghilangkan kutukan mereka. Agar tak lagi dipisahkan oleh siang dan malam. Yang tak lagi harus menunggu giliran untuk menjadi manusia ketika yang lainnya menjadi binatang.
Dan selama bertahun-tahun itu pula mereka menjalani hidup saling setia dan terus berharap doa mereka terkabulkan. Begitulah bila malam mereka sama-sama berdoa kepada bintang-bintang agar kutukan bisa hilang dan kembali sama-sama menjadi manusia.
****
Dan adakah nubuat bintang-gemintangmu itu? Apa yang kau nubuatkan? Nasibkah atau harapan masa depan seperti yang dijanjikan para mesiah itu? Aku juga tak mengerti arti sebuah rasi dan gugusan galaksi yang hanya mampu kukhayali.
Mungkin kau berbicara tentang sesuatu yang tak dapat kita pastikan. Yang hanya mampu kita duga-duga karena ketakpuasan hasrat kita pada yang ada. Tapi aku tak ingin kau ragu akan ketulusanku. Ketika kau bilang padaku: “jiwaku lelah!” Karena rasa lelah adalah ciri kenormalan. Karena keluh-kesah adalah ciri hidup yang mesti kita syukuri tanpa ragu. Meski harapan bagiku tak lebih kerinduan bawah-sadar kita pada ketiadaan yang tak teramalkan. Dan tak dapat kita pahami kenapa kita menginginkannya sekaligus takut padanya.
****
Hari demi hari mereka jalani bersama dengan doa dan harapan yang tak kenal kata menyerah dan putus-asa. Bila sang elang menjelma perempuan cantik saat matahari tenggelam, kekasihnya yang berubah menjadi anjing hutan akan selalu merebah di pangkuannya sembari mendengarkan dongeng-dongeng kekasihnya. Layaknya Syahrazad bercerita kepada Syahrayar dalam buku Kisah Seribu Satu Malam yang kubaca. Begitu juga ketika matahari terbit di pagi hari, sang anjing hutan yang berubah menjadi lelaki gagah akan selalu ditemani kekasihnya, sang elang, yang menjadi pemandunya mencari tempat-tempat untuk mencari pekerjaan dan makanan sehari-hari mereka.
****
Setelah bertahun-tahun mereka hidup dalam kutukan, di suatu malam ketika mereka tertidur lelap, mereka sama-sama bermimpi sebuah bintang jatuh di hadapan mereka dan menjelma seorang Peri Cantik. Peri itu berkata kepada mereka: “Carilah oleh kalian sebuah pulau yang bernama Negeri Phantasmagoria. Kalian akan menemukannya jika kalian menengadahkan wajah dan berdoa kepada rasi Orion di atas langit malam kalian. Dan jika kalian telah sampai di negeri itu, carilah sebuah goa tempat Sang Naga. Bunuhlah Sang Naga itu dan ambillah jantungnya untuk kalian persembahkan kepada si Putri Duyung di Danau Phantasmata yang tak jauh dari goa tersebut. Setelah itu kalian harus saling berciuman tepat ketika waktu menunjukkan titik yang mempertemukan sekaligus memisahkan batas antara siang dan malam. Di detik terakhir matahari akan tenggelam.
Dan ketika Sang Peri itu pergi ke langit dan kembali menjadi bintang, mereka pun terbangun karena terkejut dengan mimpi itu. Mereka pun segera melakukan apa yang dikatakan Sang Peri itu.
****
Keesokan harinya sang anjing hutan yang telah berubah menjadi lelaki gagah pergi dengan ditemani kekasihnya, sang elang, menuju sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari gubuk mereka. Sesampainya di pantai yang mereka tuju, si lelaki segera mengayunkan alat yang mirip kapak pada sepohon besar yang rindang.
Dengan tekun mereka membuat perahu. Dan ketika siang, mereka pun telah menyelesaikan perahu yang mereka buat. Mereka pun menaiki perahu tersebut dengan si lelaki yang mendayungnya.
Selama setengah hari dan satu malam mereka mendayung bergantian dan belum juga mendapatkan tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan Negeri Phantasmagoria. Ketika matahari terbit, maka sang anjing hutan yang berubah menjadi lelaki gagah yang akan mendayungnya. Dan bila malam, sang elang yang berubah menjadi kekasihnya yang akan mendayung. Mereka pun terus mengarungi lautan selama delapan hari sebelum akhirnya mereka tiba di Negeri Phantasmagoria yang membuat mereka terkagum-kagum karena keindahannya. Negeri itu tertutup kabut putih keperakan yang lebih mirip dinding es tebal.
****
Tapi aku tak ingin meneruskan dongeng itu. Karena aku ingin kau menduga-duga sendiri akhir cerita itu. Aku ingin kau yang meneruskannya. Mengarangnya kembali dan menceritakannya kembali sebagai dongeng kehidupan layaknya Kisah Seribu Satu Malam yang kubaca. Aku hanya ingin berkata arti pentingnya sebuah dongeng untuk mengobati kesepian. Agar kita selalu memiliki harapan dan tak menyerah untuk meraih apa yang kita inginkan untuk menjadi manusia. Aku tak ingin kau berhenti untuk terus berangan-angan. Aku ingin kau terus menuliskan dongeng-dongengmu sebagai penghiburan. Aku ingin kau memandang kesederhanaan dan kesahajaan sebagai sesuatu yang berharga. Agar kita bisa menerima kenyataan. Agar kita tak mencari kebahagiaan di tempat yang tak ada. Aku ingin dongeng itu dapat mencegah kita menjadi manusia yang terkutuk dan putus-asa. Dan aku ingin kau menyanyikannya.
***
Di atas langit itulah kini mereka telah menjelma bintang-bintang. Dan yang kuceritakan padamu hanyalah sepenggal kisah mereka untuk berjuang melawan kutukan yang telah menimpa mereka. Kutukan yang telah menjadi ikatan paling kuat dan paling setia cinta mereka yang tak kenal kata menyerah dan putus-asa. Kini mereka bahagia di sebuah tempat nun jauh itu. Di sebuah tempat nun entah di mana, aku juga tak tahu.

Desember, 2008.

Minggu, 28 Desember 2008

Topeng dan Kawan-Kawan Teater di Banjarbaru

Kegiatan Rekan Teater se-Banjarbaru
Workshop Keteateran dan Artistik (buat topeng karakter)
20-28 Desember 2008
Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru

Teater Ambang Wuruk-Tasikmalaya


Di Bawah Gunung Nun
(Tokoh Amus)
SAKWASANGKA
: ashmansyah timutiah


+ jangan larang aku menyanyangimu!

- biarkan mereka mengenal sisi lain teater?

semuanya kita selesaikan dengan jiwa lelatu yang terlanjur salah dalam memahami ruang dan waktu dari kota bumi tasikmalaya menuju banjarbaru ranah lambung mangkurat. memaknai adalah obade yang harus diupacarakan ke suasana penuh khuyuk. biarkan kugenggam tanganmu dari jauh, itu lebih berarti dalam imaji gerak.

+ jangan larang aku mengenal moyangmu!

- biarkan kami mendorongmu untuk melihat dunia yang serius?

alangkah lukanya melihat ragamu dirasuki ego dan terjadilah keterjebakan dalam diskusi artistik: membuat topeng-topeng karakter yang telah lama diperkenalkan kepada hidupmu sebelum jumat memanggilmu untuk sekadar menelan kepahitan. sekali lagi.

+ perkenalkanlah aku ke orang-tuamu!

- bukankah besok harus mempersiapkan manusia raksasa di refleksi tahun?

peduli dengan besok? untuk memperistirahkan anak-cucu kita yang ditakdirkan dari generasi Siliwagi menebus dosa neneknya. kejujuran tak bisa dipadukan dengan keseriusan karena berbeda haluan. seperti angkasa yang selalu menjadi hijab bumi-langit dalam membesarkan dan memperkenalkan kau rubayyat takdir.

+ jadi?

- tidak!

+ tidak!

- ya?

Banjarbaru, 26 Desember 2008

Sabtu, 13 Desember 2008

Esai

Katagrafi Sebuah Roman
Dan Monogram-Diaris Seorang Penyair





”Diamonds are forever....”

Selantun lagu yang dinyanyikan Shirley Bassey itu mengalun lembut di ruang kerjanya sebagai seorang penulis. Ia diam termenung dan mengarahkan pandangan matanya ke arah pintu yang terbuka. Sesekali ia jatuhkan abu rokoknya pada asbak kaca yang tergeletak di meja kerjanya. Di ruang kerjanya itu ia ingin menulis apa saja yang sesuai dengan suasana hatinya dan gerak-gerak jari tangannya yang tampak gemetaran karena dingin malam selepas hujan yang masih menyisakan ricik gerimis. Ia hanya ingin menulis tentang dirinya dan bukan tentang yang lainnya. Karena ia seorang egois murni yang merasa bahagia dengan angan-angan narsistiknya. Ia ingin mencairkan kebekuan sintagmatik ketika ia mengalami kebuntuan sintaksis sebagai seorang penyair untuk menemukan diksi dan nada. Ikhtiarnya itu adalah sebentuk penebusan intelektual dalam kesendirian dan kesepiannya. Dengan menulis ia ingin membuktikan eksistensi dirinya. Sebuah pekerjaan yang dipilihnya sebagai seorang yang tak memiliki legalitas akademik untuk mencari uang. Dengan demikian ia adalah seorang intelektual dalam pengertiannya yang longgar dan amatiran sejauh pergulatannya dengan khasanah pemikiran yang sifatnya pribadi dan subjektif. Ia bebas karena ia tak mendalam dan spesifik dalam disiplin tertentu. Karena apa yang ingin ditulisnya tak lebih sebuah fiksi otobiografis.
Ia percaya bahwa hidup tanpa imajinasi seperti penyakit yang tak menemukan obat. Karena itulah ia menganggap penting arti sebuah ingatan dan kenangan. Dan ia bertahan hidup karena keduanya. Ia akan selalu mempercayai keduanya untuk melawan waktu yang membuatnya kecewa di masa lalu. Dan dengan itu pula ia mengatasi kebosanan dan keputusasaannya.
Di malam yang kesekian kalinya itu ia merasa cukup dengan apa yang telah ditulisnya. Sebelum ia menambah daftar panjang dusta. Sebelum ia kehabisan bahan untuk menuliskan dusta-dusta yang lain dengan cara dan penuturan yang lain pula. Ia berhenti untuk sebuah awal yang lain.
Malam itu dikenangnya masa-masa ketika ia belum mengalami rasa kecewa karena hasrat seksual dan keinginan birahi yang tak tersalurkan pada seorang perempuan yang diinginkannya. Kini ia telah menjadi seorang pendusta ketika ia tak lagi menjadi seorang bocah. Ia berbicara tentang hal yang sama dengan beragam tuturan dan cara. Kepalanya telah menjadi sebuah perpustakaan kebohongan. Ia telah kehilangan masa-masa kanaknya yang riang dan tanpa beban. Dan pada saat yang sama ia pun terus mengkhayalkan raut-raut geometris yang menyusun tatapan mata dan senyuman seorang perempuan yang mengagumi daya-ingatnya. Ia masih merasakan keindahan dan persahabatannya dengan perempuan tersebut di saat ia mengalami rasa kehilangan karena kematian yang juga membuatnya tak berdaya sebagai seorang lelaki dewasa. Kini ia dikuasai keraguan yang tak bisa disembuhkan.
****
Di atas meja kerjanya itu berserakan buku-buku puisi, novel, dan filsafat. Juga buku-buku biografi yang telah menjadi menu malam-malam kesendirian dan kesepiannya. Dalam gerimis selepas magrib itu akhirnya ia menyulut dua pucuk lilin pengganti lampu listriknya yang padam. Meski ia tak merasa tenang menulis karena harus menghalau hembusan angin pada dua pucuk nyala api lilinnya dengan kedua telapak tangannya yang lembab itu. Sementara senandung jazz terus mengalun pada channel 99.90 FM radionya. Kemudian hujan pun turun kembali. Ia membiarkan helai demi helai pandangan matanya menerawang dan melangkah ketika kedua telinganya merenungi ricik dan gemuruh. Tetapi pikirannya pergi jauh ke masa-masa kanaknya yang telah tak ada itu.
Dalam duduk termenung itu ingatannya tertuju pada seorang bocah lelaki di masa lalu yang mengumpulkan batang-batang padi bersama ibunya di sawah berair. Seorang bocah lelaki yang juga berlarian melintasi pematang mengejar para belalang dengan setongkat batang songler yang ia genggam bersama teman-temannya dalam guyur hujan. Seorang bocah lelaki yang juga bersama teman-temannya bermain sepakbola dengan bola yang terbuat dari sejumlah plastik yang disatukan dan dibulatkan dengan sejumlah ikatan dari karet, selepas hujan. Tapi kini ia sadar bocah yang riang itu telah menjadi lelaki pengecut dan pecundang. Seorang lelaki yang selalu dihantui keraguan dan kegagalan yang pernah dialaminya. Seorang lelaki yang telah melupakan arti sebuah permainan dan ketakacuhan yang riang. Seorang lelaki yang tak lagi bebas dan menghargai arti sebuah ketelanjangan dan keluguan hidup.
Dalam duduk itu ia sebenarnya gelisah. Seperti seorang pemikir yang tengah menghadapi kebuntuan axiomatik. Ketika malam menenggelamkan angan-angannya.
****
Di ujung senja mendung awal November itu ia duduk sambil memandangi gugusan awan. Hasratnya pada keindahan telah menjadikannya seorang lelaki yang tak mudah dikalahkan kebosanan dan kejenuhan. Meski ia senantiasa terjebak di antara kehilangan masa-lalunya dan kehadiran masa kininya yang seringkali menyulut gejala melankolianya yang sentimentil dan kekanak-kanakkan. Waktu dan kesepian telah memberinya kebebasan yang paling tulus. Kesendirian yang juga telah menciptakan sebuah dunia bagi kesepian dan angan-angannya.
Dalam sapuan angin senja di bawah keteduhan serimbun bambu itu ia merasakan kedamaian dan ketenangan. Pandangan matanya tertuju pada sekelompok burung yang mematuki sisa-sisa biji padi pada setumpuk jerami. Dan tiba-tiba pandangan matanya beralih pada seekor burung berbulu biru yang terbang rendah di atas air. Tak lama kemudian di paruh burung yang panjang itu melintang seekor ikan kecil yang lekas ditelannya dengan tangkas. Ia menganggap apa yang dilihatnya itu adalah sebuah puisi yang belum ditulis. Sebentuk lukisan impresionis yang belum disalin pada kanvas. Bahasa yang belum dituturkan dengan aksara dan kata-kata.
Di ujung senja itu ia ingin mendekatkan diri dengan alam dan musim-musim demi merasakan suatu moment dan peristiwa. Ia ingin melebur dalam cuaca dengan mengaktifkan semua pancaindera dan pencerapan bathinnya untuk menyimak suara-suara alam dan nyanyian-nyanyian musim yang akan memberinya sejumlah bait-bait puisi.
****
Di sepanjang jalan setapak pematang itu ia terus melangkah dan mengagumi gugusan kepang putih kembang akasia. Lalu ia pun berhenti dan duduk bersandar pada sepohon akasia sambil memandangi hamparan hijau sawah yang memberinya impresi keindahan dan kedamaian bathinnya. Ia pun seakan merasakan sisa keriangan November masa kanaknya yang kini telah silam dalam kenisbian yang lelap. Seolah tak ada yang tersisa dengan tatapnya yang basah dan telungkup pada daun-daun akasia itu. Ketika dalam angannya pendar cuaca seakan pudar dan tercerai di sela-sela awan dan jejak-jejak petang yang mulai merambat pelan-pelan terseret waktu.
Dalam keteduhan senja itu ia asik mendengarkan cericit-cericit burung pada ranting-ranting dan rimbun dedaunan. Ketika dalam fantasinya daun-daun pun seakan menggigil dan tertunduk seperti seorang lelaki yang terserang gejala melankolia. Ketika sepi terus bergetar dalam senyap rembang yang terbentang di depan matanya yang seolah menjauh dari tubuhnya. Ketika ia berada di antara kegelisahan dan kepasrahan. Ketika gumpalan-gumpalan awan hitam terus bergugusan menyusun kegelapan. Ketika ia sadar selalu saja ada yang luput untuk dipahaminya.
****
Di sana ia dapat mengagumi karya-karya seni yang paling nyata. Lukisan-lukisan alam dan moment keheningan. Warna-warna yang berbaur dan berpadu dengan langit dan awan. Pohon-pohon yang berjajar sepanjang sungai. Ia pandangi apa saja yang membuatnya dapat merasakan kedamaian. Ia percaya di sanalah rahim puisi. Di sana pula ia percaya imajinasi bersembunyi, mencair, dan kembali menguap ke udara. Kemudian seperti nyanyi hatinya yang sunyi, gerimis November merintik dalam ricik yang menghitung bait-bait puisi yang ingin ia tulis.
****
Kini ia kembali tertegun dan merenung selepas isya di gubuk itu. Malam itu ia ingin menulis lirik senandung seindah Claire De Lune yang mengalun di atas meja kerjanya itu. Sebuah roman dalam puisi. Sebentuk sonata dan Rubayyat. Sebuah nyanyian delapan nada. Sementara udara lembab terus menghembus rambut dan wajahnya yang lembab. Apa yang diperjuangkannya adalah sebentuk idealisme egoistik. Ia tengah memperjuangkan sebuah mahkota bagi nama diri dengan upaya estetiknya. Di meja kerjanya itu ia terus menggerakkan pena-nya pada lembar-lembar diarinya yang mulai lengket dan lembab karena buih-buih rintik gerimis. Sesekali ia pun sibuk merapikan kertas-kertas yang terlempar dari meja kerjanya karena hembusan angin.
****
Pagi itu matahari belum muncul setelah hujan malam kesenduannya. Cuaca pun masih mendung dan redup. Ketika dingin dan lembab angin terus menjalar. Ia memandangi orang-orang yang sibuk memotong batang-batang padi di sawah yang tak jauh dari gubuk tempatnya duduk dan merenung itu. Ia pun teringat masa-masa ketika ia dan ibunya memanen padi. Ketika ia memandangi sekelompok angsa dan para unggas berkecipakan mengibaskan lengan-lengan mereka di sungai. Ketika ia bersandar dalam keadaan lelah pada sedahan akasia yang tumbuh di bukit kecil ujung pematang sawah.
Dalam ingatannya itu ia masih terbayang para belalang yang berlesatan di antara semak dan ilalang dalam keheningan yang tak terhindarkan untuk seorang bocah lelaki belia. Ketika ia memandangi langit senja dalam kesunyian. Dan kini ia yang bocah itu sudah tak ada. Dan mungkin tak pernah ada. Tanpa terasa ia telah menghabiskan segelas kopi hitam dan empat batang rokok dalam cuaca mendung dan redup itu. Meski dalam cuaca lembab itu ia tiba-tiba berkhayal erotik yang membuat anu-nya menegang dan menghangat di saat tubuhnya merasakan dingin yang masih menusuk.
****
Dalam duduk itu ia terus bertanay apa yang diinginkannya ketika menulis? Apakah hanya untuk memenuhi dorongan narsistiknya? Egoisme dan ilusinya? Apa yang dibacanya dari sebuku psikoanalisa itu seakan telah menyadarkannya bahwa menulis merupakan proyeksi dan pengalihan hasrat seksual dan upaya untuk mendapatkan kembali kekuasaan yang hilang dengan diagungkannya sebuah nama diri seperti yang dicurigai Michel Foucault dan Roland Barthes itu. Kini ia sadar bahwa menulis adalah kehendak politis dan libidinal setelah ia membaca tulisan-tulisannya Nietzsche dan Luce Irigaray. Kini ia memahami menulis sebagai upaya pengalihan pemuasan diri karena apa yang gagal dipenuhinya dalam dunia nyata setelah membaca tulisan-tulisannya Jacques Derrida dan Jacques Lacan. Sebuah upaya untuk mengatasi rasa sia-sia dan tak berdaya seperti Sisiphus yang terhukum ketika ia membaca esai-esainya Albert Camus dan Jean Paul-Sartre. Kenangannya dan keretakan identitas dirinya di masa lalu yang telah tak ada itu.
Karena buku-buku yang dibacanya itu ia pun memahami menulis sebagai tindakan bunuh diri egoistik demi pengalihan dorongan libidinal, kehendak politis, sekaligus penghiburan diri. Meski ia tak pernah bisa melampauinya. Dan ketika itu pula ia tak tahu apa yang ingin ia tulis dan ingin diungkapkannya pada lembar-lembar diarinya dengan sebatang pena di antara jari-jari tangan kanannya yang gemetar karena dingin gerimis selepas hujan itu. Baginya menulis adalah sebuah aktivitas yang ia lakukan karena tak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Terlebih dengan tak adanya kesibukan yang cukup menyita waktu di hari-hari dan malam-malamnya yang monoton dan membosankan. Kini ia mempercayai pendapatnya sendiri bahwa tujuan menulis adalah untuk menulis itu sendiri. Sebuah apologi karena kemalasannya sambil mendengarkan alunan-alunan jazz dan komposisi-komposisi musik klasik instrument, tenor, dan sopran.
****
Dari kursi gubuknya itu ia hanya mampu memandangi langit malam dan mendengarkan desau angin pada dedaunan. Angan dan pikirannya terus mencari kata dan nada untuk stanza-stanza yang ingin ditulisnya. Ia ingin menyatukan diri dengan alam dan musim-musim yang telah memberinya fantasi dan imajinasi. Ia tengah meminta sebuah puisi dari keabadian dan mengharapkan kias dari ketiadaan.
Singkatnya ia adalah seorang romantik yang tak tahu diri bila dilihat dari kegandrungannya pada puisi dan musik. Tetapi ia juga ingin dipahami bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah keadaan yang mau tak mau ia melakukannya sebagai sebuah upaya pengalihan dan proyeksi dari kenangan dan ingatannya tentang sebuah kegagalan. Kepengecutan dan kepecundangannya sebagai seorang lelaki yang telah kehilangan dan kebebasan kanak-kanaknya yang tanpa beban. Dan hanya ingatan dan kenangan yang dapat memuaskan hasratnya pada keabadian dan ketiadaan. Juga kerinduannya pada kematian yang lembut.
Malam itu ia seakan hanyut bersama kesenduan suaranya Lara Fabian yang menyanyikan Adagio-nya Albinoni.
2007-2008. Sulaiman Djaya, penyair dan esais.

Launching Malaikat Hutan Bakau 10 Desember 2008

Launching Malaikat Hutan Bakau
di Book Cafe Banjarbaru
10 Desember 2008

ODE KAMPUNG#3 5-7 Desember 2008, Serang Banten



TEMU KOMUNITAS LITERASI SE-NUSANTARA DI BANJARBARU
Hasil Ode Kampung#3 5 – 7 Desember 2008 di Rumah Dunia, Serang Banten
:Hudan Nur*


KEGIATAN Ode Kampung#3 (OK3)di Rumah Dunia, Komplek Hegar Alam Ciloang Serang Banten baru saja usai. Kegiatan se-kaliber kampung nusantara ini melibatkan 70 lebih komunitas seni, sastra, teater, dan literasi yang tersebar di wilayah Indonesia, delegasi Kalimantan Selatan di wakili oleh Zurriyati Rosyidah, Dias Baradanu, Panglima Restu Giffarie dan Hudan Nur yang bernaung di Komunitas Teras Puitika.
Tahun ini kali ketiga, Gola Gong selaku mantan Presiden Rumah Dunia mengadakan kegiatan yang serupa mengenai diskusi ‘Indonesia Membaca’. Acara tersebut dihadiri oleh Tantowi Yahya, Angelina Sondakh, Dik Doang, Asma Nadia, Myra Junor, Firman Venayaksa, Wien Muldian, Kiswanti, Toto ST Radik, Halim HD, Bambang Trim, Wawan Husein, Moh. Wan Anwar, Fahmi Faqih, Fakhruddin, Faisal Komandobat, Thopmson HS, dan sejumlah penyair dari Jogjakarta, Bandung, Surabaya, Tasikmalaya, Jakarta, 1001 Buku, beberapa Birokrator dari DEPDIKNAS, beberapa penerbit seperti MIZAN, Salamadina, dan Gramedia. Serta delegasi koran Nasional dan Lokal khususnya yang bernotaben di Jawa dan Sumatera.
Hari pertama OK3 disuguhi parade dan tawuran seni (musikalisasi puisi, teater, monolog, deklamasi puisi, dan pembacaan cerpen) mulai dari anak TK, tukang Becak, peserta, dan orang-orang kampung di Komplek Hegar Alam, Ciloang. Kemudian Anwar Holid memulai diskusi tentang gerakan eksistensialisme dan gerakan FLP yang dipikir masih massif berpengaruh besar dalam industri penerbitan di Indonesia. Lalu dikaitkan dengan “the lone wolf” alias Saut Situmorang selaku sarjana sastra yang menyatakan bahwa keberadaan gerakan seni menyiratkan kesamaan ideologi berkesenian atau estetika, walau ungkapan dan pelampiasan (ekspresi) maupun gaya mansing-masing penggeraknya ‘anggota’ belum tentu sama. Dalam sejarahnya, pembentukan gerakan seni lazimnya bertujuan melakukan “pembaruan estetika” melawan dominasi status quo. Dia juga meyakinkan bahwa penulis yang tidak ikut dalam komunitas sastra tertentu (artinya bergerak sendirian), juga bukan kelemahan.
Berbicara mengenai kepenulisan, penulis yang berhasil pasti memberi pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun implisit. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya. Di sinilah pentingnya mencatat dan mendokumentasi agar penelitian dan kesinambungan generasi berikutnya cukup mudah ditelusuri. Salah satu kelemahan umum dari gerakan seni yang terjadi di Indonesia buruknya dokumentasi, yang pada gilirannya akan menyulitkan generasi selanjutnya kesulitan menelaah signifikansi gerakan tersebut bila gerakan tersebut sudah mati atau inaktif.
Hari kedua kembali suguhan diskusi yang menarik tentang Is there a book inside you? Yang menjadi pertanyaan ‘sakti’ kepada orang-orang yang menyatakan diri ingin masuk dalam dunia buku. Sebab menulis adalah kehidupan yang tenang, sedangkan menerbitkan adalah kehidupan yang aktif. Keduanya menjadi dua aktivitas yang menopang kemajuan Bangsa dengan ujungnya adalah masyarakat membaca (reading society). Di sini yang menjadi permasalahan Bambang Trim (Direktur Salamadani Publishing) adalah bagaimana membuat penerbit melek literasi? Bagaimana membuat penerbit sadar bahwa komunitas literasi berikut umat yang menghimpun di dalamnya adalah sebuah potensi untuk meledakkan aktivitas membaca dan menulis? Dengan kemajuan teknologi informasi kini, komunitas-komunitas literasi harus mengeluarkan bunyi nyaring dan menunjukkan eksistensi. Sejuta takzim untuk upaya keras Mas Gola Gong beserta relawan Rumah Dunia yang tiada henti ‘berteriak’ dan berkarya sehingga banyak penerbit akhirnya melek komunitas literasi.
Menjelang hari ketiga Mw Fauzi mengupas kontenks dunia pers yang dikaitkan dengan gerakan literasi, koran menjadi media paling dikedepankan mengingat karakternya yang punya kontinyuitas dan berdaya tarik tinggi. Dalam bahasa sederhana, dengan posisinya yang menawarkan berita-berita aktual terkini dan terbit setiap hari, keberadaan koran telah sejak lama menjadi asupan bacaan sehari-hari masyarakat luas.
Saat ini, menyusul kian ketatnya sektor persaingan dalam bisnis pers, para pengelola koran dituntut selalu mampu menarik minat masyarakat untuk membaca korannya. Pada sisi inilah salah satu faktor krusial pers melakukan dosanya terhadap gerakan literasi baik secara disengaja maupun tidak.
Dosa pers paling utama adalah menyuguhkan bahan bacaan yang sama sekali berlawanan dengan gerakan literasi, atau menyimpang dari kaidah penulisan bahasa yang baik dan benar. Tak hanya dalam penulisan judul, kadang dalam badan beritapun amat sering ditemukan istilah ‘buatan orang koran’ yang tidak ditemukan dalam kamus besar bahasa Indonesia. Repotnya, pelaku dosa ini tak hanya koran lokal yang notabene menghadapi kendala minimnya budaya minat baca di daerah, sehingga kerap menuntut “aksi kreativitas tersendiri” dalam menyuguhkan sebuah berita agar dibaca, namun juga koran di level nasional. Hingga muncullah istilah “di sweeping”, “dipolisikan”, “disoal”, dan banyak lagi contoh kesalahan penulisan yang tidak disengaja lantaran keterbatasan pengetahuan terhadap kaidah bahasa dan arti sebuah kata yang sesungguhnya.
***
Banyak sekali diskusi fenomenal yang dilaksanakan OK3 sampai sidang pleno dan perampungan rekomendasi-rekomendasi dari hasil OK3 yang akan disampaikan kepada DPR-MPR RI antara lain tentang sikap pemerintah tentang perpustakaan-perpustakaan yang peranannya masih kurang dirasakan oleh masyarakat umum, mewajibkan setiap desa memiliki perpustakaan dan mendesak dewan terhomat tersebut untuk merealisasikan gerakan literasi (bukan berarti memberantas buta aksara seperti yang pernah digaungkan pada orde-baru tetapi budaya membaca) dengan membuka Taman Baca Masyarakat (TBM) di se-antero nusantara. Selain itu, akan ada temu komunitas literasi lokal yang rencananya dilaksanakan di Banjarbaru 2010 dan didukung penuh oleh XL.

Suporting Local Literacy Movement!


*Anggota Komunitas Teras Puitika


SEMBILAN REKOMENDASI ”ODE KAMPUNG #3: TEMU KOMUNITAS LITERASI SE-INDONESIA

Rumah Dunia, 5-7 Desember 2008milis: www.yahoogroups. com/group/ komunitas_ literasi Kami para peserta Ode Kampung III: Temu Komunitas Literasise-Indonesia 2008 bersepakat bahwa literasi adalah hak kunci untukmendapatkan hak berekonomi, bersosialisasi, partisipasi politik danpembangunan, khususnya dalam masyarakat berbasis pengetahuan. Literasimerupakan kunci peningkatan kapasitas seseorang, dengan memberikanbanyak manfaat sosial, di antaranya cara berpikir kritis, meningkatkankesehatan dan perencanaan keluarga, program pengurangan angkakemiskinan, dan partisipasi warga negara. Literasi bukan hanyapersoalan individu, tapi juga menyangkut persoalan komunitas danmasyarakat luas. Literasi bukan sekadar melek huruf, tapi merupakandasar penopang bagi pembelajaran di masa datang. Literasi memberikanpiranti, pengetahuan dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitashidup, untuk lebih dapat memberikan kemungkinan berpartispasi dalamaktivitas bermasyarakat dan membuat pilihan-pilihan informasi yangakan dikonsumsi. Untuk mewujudkan hal tersebut, kami mengajukan sembilan rekomendasi: 1. Mendesak pemerintah pusat untuk segera menyusun regulasi yanglebih teknis terkait dengan UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.2. Mewajibkan Pemerintah daerah untuk membangun perpustakaan yangrepresentatif, meningkatkan pelayanan yang optimal dan menyediakantenaga pengelola perpustakaan yang profesional.3. Menjalin kemitraan antara perpustakaan daerah dan perpustakaankomunitas. Serta membangun kerjasama antara perpustakaan komunitaslokal dan daerah lainnya4. Mewajibkan lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan yangmemiliki perpustakaan agar memberikan pelayanan bagi masyarakat luas.5. Mewajibkan pengembang komplek perumahan/ pengelola pusatperbelanjaan untuk membangun perpustakaan sebagai bagian darifasilitas umum 6. Mewajibkan penerbit menyumbangkan buku-buku kepada perpustakaankomunitas dan mengadakan peluncuran buku terbaru serta pelatihanmenulis bersama para penulis buku.7. Mendorong warga masyarakat untuk mendirikan perpustakaankomunitas di setiap desa/ kelurahan.8. Mewajibkan perusahaan mengalokasikan tanggungjawab sosialperusahaan (Corporate Social Responsibility) untuk perpustakaan komunitas.9. Menumbuhkan kebiasaan membaca dengan menyediakan bahan bacaan dilingkungan keluarga, lembaga pendidikan, dunia kerja, instansipemerintah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya. Demikian sembilan rekomendasi ini diajukan kepada khalayak. Semogamendapat dukungan dari semua elemen terkait demi mewujudkan kejayaanIndonesia di masa mendatang. Tim Perumus,Gola Gong, Wien Muldian, Firman Venayaksa, Kiswanti, Halim HD,Subhan, Amel, Mahmudin, Ariful Amir.

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI