TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI

Salam Sejahtera

Kedua tangan terulur menyambut dan mengikat tali persaudaraan dan mengeratkan silaturrahmi. Berbagi pengalaman dan kreatifitas sangatlah kita dambakan. Maka tak ada kata lain yang dapat diucapkan selain Matur Sembah Nuwun.

Hudan Nur

Senin, 12 Oktober 2009

Dari Seorang Sahabat

Jarak Menamakannya Sepi


Arlika dan ariwa

mungkin kalian belum terlalu mengerti

malam benarbenar mendingin ketika hujan bersamaan

menulis beberapa cerita lelaki yang tak bisa cepat berbuai mimpi

dengan kelopak mata selalu menggantung tinggi tanpa tiang

rebahkan hatinya sepasrah mungkin dilumat sepi


Arlika dan ariwa


jarak menghapus bagian yang harusnya kalian tahu

sekata yang kini piatu

lalu waktu meyatimkan tanpa babibu

mengubahnya menjadi sederet huruf mati.


Ariwa


memang diam tak selalu berikan arti pada malam yang begini

sebab dengan lidah siapa mampu terbacakan huruf mati piatu

hanya untuk pahamkan definisi belaka kepada telinga mereka

yang lebih melogika ketimbang nurani seperti kita

bukankah sepi itu adalah hati, bukan masalah sendiri dan hujan ini

malah tidur kalian pun permainan sepi.


Arlika


sepakat sajalah bahwa pergantian malam itu pasti

tak perlu perdebatkan lebih jauh dengan ariwa

pun jika lelaki itu pernah terlelap sebentar menjenguk mimpi

pahami saja sebagai pergantian yang begitu itu

lupakan malam abaikan siang jangan perdulikan angka angka kalender

cukup pahami saja sebagai pergantian.

Minggu, 27 September 2009

Lebaran di Pelabuhan Pantoloan


(kita akan bersinggah di simpang waktu: sementara waktu masih menyisakan kenang. seoga ramadhan berikutnya masih bisa kupeluk dengan senyuman dan pisah sesegukan liralira)

Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia

“BISIKAN HATI ANAK NEGERI”



Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri adalah kumpulan (antologi) puisi para penyair Indonesia yang direkam dalam keping CD Audio dan berisi suara-suara penyair yang membacakan puisinya sendiri.

Tanpa bermaksud asal beda, diharapkan, dengan terwujudnya antologi ini akan mampu membawa pencerahan (atau setidaknya warna lain) dalam wacana perpuisian Indonesia. Dasar pemikirannya sederhana, yakni sebagai ajang silaturahmi antar penyair dari lintas generasi yang berbeda. Sekaligus menawarkan bentuk lain dari antologi puisi dari yang biasanya hanya berupa media cetak visual (buku) menjadi media yang bisa dinikmati secara audio.

Bahkan tidak menutup kemungkinan pada perkembangan selanjutnya antologi bersama ini bisa berupa audio visual (video art/video klip) seperti yang pernah dilakukan oleh Almarhum WS Rendra beberapa tahun silam. Nah, format audio dipilih karena sangat memungkinkan untuk memuat banyak karya serta secara ekonomis biaya produksinya lebih hemat.

Kami sadar, pekerjaan ini tidaklah akan mudah diwujudkan. Mengingat akan segala keterbatasan panitia secara materi dan tentunya membutuhkan dukungan serta kerjasama dari banyak pihak yang peduli. Sekedar informasi, hingga sekarang panitia belum mendapatkan sponsor dari pihak manapun. Panitia hanya mampu memberikan sumbangan tenaga, pikiran serta berusaha semaksimal mungkin guna mewujudkan misi yang cukup berat ini. Tentu saja peluang tersebut bisa direspon oleh siapa saja.

Persyaratan :
1.Event ini terbuka untuk penyair WNI (Warga Negara Indonesia) dengan tanpa dibatasi usia, ras, kasta, agama atau golongan tertentu,
2.Domisili penyair masih di wilayah Indonesia,
3.Karya puisi yang direkam adalah karya puisi terbaik (menurut penyairnya sendiri) dan sudah pernah dipublikasikan ke khalayak luas meskipun dalam bentuk lain diluar rekaman suara. Misalnya telah dimuat di media cetak atau telah masuk dalam buku kumpulan puisi tertentu (tidak termasuk yang dipublikasikan di internet). Maksudnya, supaya memberikan gambaran kepada publik sastra itu sendiri tentang perjalanan (proses) sebuah karya termasuk pula akan menjadi gambaran eksistensi sang penyairnya itu sendiri,
4.Melampirkan photo copy kliping puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat media cetak) atau photo copy sampul buku kumpulan puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat di dalam kumpulan puisi),
5.Karya yang dikirim adalah karya asli dan dibacakan sendiri oleh penyair bersangkutan dan bukan hasil jiplakan, saduran, hasil adaptasi maupun terjemahan dari karya orang lain,
6.Tema bebas, asal tidak mengandung unsur-unsur yang mencedrai SARA, Susila (pornographi dan pornoaksi) serta bukan sebagai bentuk kampanye politik praktis,
7.Menggunakan bahasa Indonesia,
8.Durasi rekaman minimal 1 menit dan maksimal 5 menit/judul,
9.Diperbolehkan memakai ilustrasi musik atau latar suara lainnya yang mendukung, dengan catatan pemuatan musik atau ilustrasi tersebut tidak merugikan pihak lain,
10.Jumlah karya yang dikirim minimal 3 judul dan maksimal 5 judul,
11.Lampirkan surat pernyataan pribadi yang menyatakan persetujuan mengikuti event ini dan tunduk pada semua peraturan (persyaratan) yang ditetapkan panitia,
12.Lampirkan juga photo copy KTP / SIM atau bukti identitas lainnya yang masih berlaku,
13.Pengumpulan karya akan dimulai pada tanggal 17 Oktober 2009 dan ditutup pada 27 Desember 2009,
14.Karya bisa dikirimkan sendiri atau via Pos/jasa pengiriman paket ke alamat:
PANITIA Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
d/a Irvan Mulyadie, Jl. Nagrog Kidul Indihiang RT.008 RW.002
Kel: Indihiang Kec: Indihiang Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46151
Contak Person: 08180 212 8581 (irvan mulyadie) e-mail: vanmydie@yahoo.co.id
15.Persyaratan lain yang harus dikirim dalam bentuk file dalam kepingan CD, berisi:
File rekaman suara pembacaan puisi yang dibacakan langsung oleh penyairnya sendiri dalam format WAV, tapi lebih diutamakan dengan format MP3,
File naskah puisi yang dibacakan penyair bersangkutan dalam format doc / rtf,
File Biodata diri penyair bersangkutan, termasuk alamat lengkap, alamat e-mail, alamat website/blog pribadi dan No HP/Telp,
File Potret diri penyair bersangkutan (close up),
16.File Materi yang telah dikirim ke panitia (diluar hak cipta karya), menjadi milik panitia,
17.Pengumuman selanjutnya akan dipublikasikan pada 1 Januari 2010 di alamat http://irvanmulyadie.blogspot.com

Hak Peserta:
1.Setiap penyair yang karyanya dimuat akan mendapatkan 1 buah master antologi puisi digital dengan tajuk: Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
2.Setiap penyair yang karyanya dimuat diperbolehkan memperbanyak, menyebar-luaskan, serta memperjual-belikan Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri tersebut sepanjang tidak menggunakan cara-cara yang melanggar hukum seperti pemaksaan dan merugikan pihak lain,
3.Keuntungan yang didapatkan dari hasil memperbanyak, menyebarluaskan, serta memperjualbelikan antologi digital Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ini seluruhnya diberikan kepada penyair masing-masing (sebagai royalty).

Kewajiban lain Peserta:
1.Memberikan dana partisifasi Rp. 50.000,- /orang.
2.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) jumlah antologi yang diperbanyak oleh masing-masing penyair secara berkala (maksimal 3 bulan sekali) dengan maksud sebagai kontrol peredaran antologi yang menyebar di masyarakat,
3.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) apabila akan mengadakan launching terbuka Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri yang meliputi waktu, tempat, serta jumlah peserta yang mengikutinya.

CATATAN :
-Meski dengan sangat berat hati, dana partisifasi dipungut sebagai pengganti biaya untuk proses pembuatan Mastering (penggandaan), pencetakan materi pendukung, publikasi dan ongkos kirim antologi ke alamat masing-masing peserta,
-Dana partisifasi dihimpun di Bank Mandiri 13104 KC Tasikmalaya Ottoiskandar-dinata dengan Nomor rekening : 131 – 00 – 0633214 – 4 a/n Irvan Mulyadie,
-Dana partisifasi diserahkan paling lambat 5 hari setelah pengumuman atau tanggal 6 Januari 2010,
-Pengiriman master Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ke alamat peserta masing-masing paling lambat 2 hari setelah dana partisifasi diterima. Dan diperkirakan akan sampai ke alamat tujuan (khususnya di luar pulau Jawa) paling lambat dalam 3-5 hari,
-Bagi peserta yang belum atau tidak menyerahkan dana partisifasi tapi telah memenuhi persyaratan, karya-karyanya tetap akan diikutsertakan dalam Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri,
-Dari data yang pernah ada dalam event serupa (pembuatan antologi bersama), target peserta yang akan mengikuti kegiatan ini dapat mencapai lebih dari 200 peserta.



(irvanmulyadie.blogspot.com)

Minggu, 06 September 2009

Sesenda Ringan

Ideologinya Sastra
(Merunut Pembentukan Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia di Palu)
: Hudan Nur )*


PALU secara krusial berada dalam ‘kegelisahan’ akan eksistensi sastra yang mulai kehilangan warnanya, ditambah lagi para pelakunya dalam konteks internal. Munculnya keberagaman versi dan pola pikir mengakibatkan perkembangan sastra secara terpadu mengalami kemunduran. Tidak hanya pada karya-karyanya, tetapi juga terhadap lintas generasi berikutnya yang secara perlahan ikut terbunuh karena tidak mempunyai wadah untuk menyalurkan bakatnya. Jika dibandingkan dengan kota lain di Sulawesi ini, Palu sungguh jauh tertinggal. Di tanah air ini sudah mempunyai wadah aspiratif untuk para sastrawan ‘berladang’ yakni Komunitas Sastra Indonesia (KSI).
Ketika dirunut ke belakang KSI terbentuk sebelas tahun yang lalu pasca presiden Soeharto lengser dari jabatannya sebagai kepala Negara karena pada masa kekuasaanya karya sastra kurang berkembang disebabkan tekanan militer yang selalu waspada terhadap kegiatan sastra seperti pembacaan puisi yang dicurigai akan merusak integrasi bangsa. Namun sejak tahun 1998 resmilah KSI sebagai rumah komunitas yang mempunyai akta notaris sekaligus sebagai yayasan legal di Indonesia. Sastrapun mempunyai peranan mulia dalam mengusung jati diri bangsa yang sekarang bisa kita lihat faktanya bahwa Indonesia mulai kehilangan ke‘aku-an’nya.
Komunitas sastra adalah bentuk pelaksanaan kegiatan sastra yang khas di Indonesia. Sebenarnya, jika kita menganggap bahwa komunitas sastra sebagai sarana produksi atau mengkonsumsi sastra secara kolektif, hal ini sudah terlihat umum di banyak Negara selain Indonesia pada zaman pertengahan Perancis, ataupun pada abad ke-19 di Jepang, membaca buku secara berkelompok adalah hal yang umum, sebab buku adalah benda yang masih sangat berharga dan langka di wilayah tersebut pada zaman tersebut. Namun keunikan di Indonesia adalah pada pola menikmati sastra secara kolektif yang tetap saja digemari hingga kini meskipun buku sudah dapat diperoleh di masyarakat tanpa dengan banyak kesulitan. Di Indonesia, komunitas sastra berupa sekelompok atan sejumlah orang yang bertujuan untuk melakukan sastra. Sebetulnya, kelompok sejenis ini telah eksis di nusantara setidaknya sejak zaman kolonial, supaya orang bisa mendapatkan akses untuk membaca dan membahas buku bersama-sama, ketika kebanyakan orang yang mengalami kesulitan mempunyai buku. Kelompok tersebut seringkali memiliki sebuah tempat untuk berkumpul, dimana para anggotanya bisa saling belajar dan berdiskusi untuk berkarya lebih baik. Istilah ‘komunitas’ untuk menggambarkan kelompok seperti ini mulai digunakan pada tahun akhir 1980an dan berbagai aktivitas komunitas mulai terlihat dalam masyarakat sejak awal tahun 1990an. Setelah orde baru runtuh, jumlah komunitas sastra mulai bertambah drastis lagi dengan jenis kegiatan yang lebih bervariatif. Pertumbuhan komunitas sastra ini sebagian didukung oleh perkembangan ekonomi dan perbaikan standar pendidikan warganegaranya selama satu dekade terakhir, serta sebagai akibat perkembangan sosial yang memungkinkan bertambahnya populasi yang mampu membeli buku atau sudah terbiasa menulis dan membaca. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda (Ketua KSI Pusat Jakarta), ideologi kesusastraan adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang terkandung di dalam teks-teks yang disebut karya sastra – baik prosa (esai, cerpen atau novel) maupun puisi. Definisi tersebut merujuk pada penjelasan dari ideology Perancis, Desstutt de Tracy (1976), yang menciptakan istilah ‘ideologi’ guna menunjukkan suatu ilmu baru yang meneliti ide-ide manusia, asal mulanya, sifat-sifatnya, serta hukum-hukumnya. Dalam kacamata politik, ideologi adalah paham, teori atau tujuan terpadu yang merupakan satu program sosial-politik. Namun, dalam arti umum ideologi adalah ide-ide yang mendasari sebuah sistem filsafat atau pandangan hidup suatu kelompok tertentu, yang menampak pada pola aktivitas, ekspresi dan tujuan kekaryaannya.
Di sisi lain, Budi Darma berkata kalau ingin tahu komunitas sastra tanpa label ‘komunitas’, cobalah berkunjung ke makam Sutan Takdir Alisyabana di Tugu, Bogor. Makamnya di sana berdampingan dengan makam isterinya sendiri, tidak jauh dari sebuah lereng sungai. Makam ini terletak di pekarangan sebuah rumah besar milik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Dalam sejarah sastra Indonesia, rumah ini mungkin tidak tercatat, namun sebetulnya rumah ini mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembagan sastra. Dulu, ketika STA masih muda, sekali-sekali dia mengundang sastrawan-sastrawan yang umurnya lebih muda daripada dia, antara lain Mochtar Lubis. Rumah itu dijadikan tempat ngobrol dan berdiskusi. Lalu pada angkatan ‘45 pada hakikatnya bukan komunitas. Tengok sedikit perihal kehidupan mereka. Ada sepasang tokoh sentral yakni, HB Jassin sebagai penemu bakat dan Khairil Anwar sebagai pembeharu. Dua orang ini dan teman-temannya sering berkumpul-kumpul, berdiskusi dan langsung ataupun tidak, diskusi mereka masuk ke dalam karya mereka. Tengoklah misalnya; surat Idrus kepada HB Jassin dan jawaban HB Jassin kepada Idrus.
Berbeda dengan Anis Sholeh Ba’asyin yang menganggap bahwa ada banyak sudut pandang yang bisa dipakai untuk membedah gejala komunitas sastra, mulai dari yang paling sederhana; terbentuk karena seorang sastrawan ingin membagi ilmunya pada orang-orang yang mencoba berguru padanya, atau karena sekelompok orang bersepakat menajamkan kemampuan sastranya dalam satu wadah; sampai dengan yang paling rumit: sinergi sastrawan-satrawan yang merasa butuh wadah untuk menegaskan posisinya dalam peta sastra Indonesia, atau sinergi dari para sastrawan yang punya musuh bersama dengan kegiatan sastranya. Tapi, di luar niat awal semacam ini, posisi sastra Indonesia sendiri dalam peta sosial budaya sebenarnya sudah cukup untuk menjadi alasan untuk memaklumi kehadiran komunitas sastra. Sebagai sebuah spesies baru, sastra Indonesia bukan cuma harus berjuang menemukan capaian-capaian estetikanya saja, tapi juga sekaligus harus berjuang merebut khalayak pembacanya.
Akhirnya dengan pemahaman yang matang akan eksisensi tersebut di atas dan beragamnya tradisi etnik di tempat kita berpijak ini. Maka perlulah dibentuk sebuah wadah aspiratif bagi insan sastra di kota Palu yakni: Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia yang nantinya akan menjadi pionir dan sambung akar ke penerus berikutnya agar kelestarian budaya dan keberlangsungan sastra secara keseluruhan dapat dipertahankan dengan berbagai ragam sastra ataupun tradisi lisannya.[]




)* Anggota Wanita Penulis Indonesia (WPI)

Sabtu, 22 Agustus 2009

Temu Sastrawan Indonesia di Pangkalpinang


Reza Fahlivie dan Zurriyati Rosyidah: Teamwork AUK (Menikmati salah satu pantai di Pangkalpinang, 2 Agustus 2009)



Seumlah rekan dari tanah air: Budhi Setyawan, M. Mus'ab, Sandi Firly, Hudan Nur, Sisiy, Reza Fahlivie, Samyong, Bojes, CS

Pasca TSI#2


CATATAN SINGKAT TEMU SASTRAWAN INDONESIA DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

: Hudan Nur)*



KEGIATAN Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang kedua di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung sudah selesai. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli-2 Agustus 2009 lalu mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.
Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusstraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.
Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.
Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.
Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah. Berkenaan keberlanjutan TSI 3 tahun 2010 akan kembali di gelar di Sumatra tepatnya di Tanjung Pinang. Mudah-mudahan ada perubahan yang lebih baik dalam karya sastra. Semoga! []




)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan
Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah

Senin, 20 Juli 2009

LAUNCHING BUKU


LAUNCHING WAJAH DEPORTAN
: Antologi Penulis Muda Lintas Propinsi 2009


PADA awalnya Antologi Wajah Deportan (WD) ini ditujukan untuk menjalin silaturrahmi penulis puisi pada lingkup yang lebih luas. Tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan untuk membukukan karya penulis muda yang berada di tanah air. Hadirnya antologi ini dalam klasifikasi penulis muda (penulis yang berusia di bawah 40 tahun) dikarenakan adanya persinggungan dalam takaran penulis senior dan junior, hal ini sangatlah beralasan sebab kecenderungan eksistensi penulis muda yang berbakat khususnya penulis-penulis muda di daerah dipandang sebelah mata. Ketika pertama kali diwacanakan mengenai pembukuan puisi-puisi ini kepada rekan-rekan seluruh tanah air, respon positif diterima oleh tim kerja dalam antologi ini.
Tak kurang dalam hitungan bulan, karya rekan-rekan penulis muda terkumpul di markas besar Komunitas Teras Puitika. Pengiriman tersebut diterima melalui e-mail, surat, dan ada juga yang langsung mendatangi markas tersebut. Uniknya puisi yang dikirimkan tersebut memuat kultur geografis, khazanah budaya, dan eksotika daerah yang sangat kental namun tetap nyaman untuk dibaca. Selain itu, unsur perlawanan juga mewarnai di antologi ini. Setiap penulis di antologi ini memekikkan kegelisahan dan pengenangan terhadap apa yang dialaminya pada situasi negara sekarang ini.
Antologi ini memuat 44 penulis muda Indonesia dengan kecakapan pengetahuan yang beragam sesuai dengan kondisi wilayah mereka masing-masing. Inilah yang menjadi kebhinekaan yang dimiliki Indonesia. Daya pikir yang mereka refleksikan ke dalam puisi tidak semata-mata torehan tinta di atas kertas. Melainkan sebuah upaya untuk menggugah para pembacanya untuk bersama-sama merenungi apa saja titik-titik komplekstitas hidup dan kulminasi moral yang diramu menjadi satu dalam rangka memanusiakan manusia untuk makna yang sesungguhnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa karya-karya puisi yang menjadi mahakarya dan sangggup merubah tatanan sosial ditulis oleh golongan muda, bisa kita lihat angkatan-angkatan penulis puisi sejak boomingnya karya Chairil Anwar. Sayangnya, dominasi golongan senior menyebabkan arus warna yang mempengaruhi karya penulis-penulis baru tersebut. Sehingga mereka tidak mempunyai ciri khas dalam pencitraan puisi-puisinya. Selalu saja ada bayang-bayang karya pendahulunya. Hampir seluruh puisi yang tergabung di WD adalah puisi-puisi yang lahir pada tahun 2000an, semoga kelak ada dobrakan baru untuk membawa perpuisian Indonesia khususnya puisi yang ditulis penulis muda ke arah perubahan dalam rangka pencarian jati dirinya.
Pada Acara Temu Sastrawan Indonesia di Bangka Belitung (30 Juli-2 Agustus) tepatnya di Pangkalpinang WD akan diluncurkan mengingat pada moment tersebut merupakan ajang dan tempat berkumpulnya sebagian besar dari sastrawan tanah air tak terkecuali. Mudah-mudahan dengan launchingnya WD dapat menggugah semangat menulis dan baca semua kalangan yang ada di nusantara.