Minggu, 13 November 2011

DIALOG SASTRAWAN PALU-YOGYAKARTA


Dalam rangka festival teater dan sastra (dalam rangka bulan bahasa yang sadah lewat) sastrawan asal Yogyakarta, Raudal Tanjung Banua dan Andika mengadakan travel sastra ke daerah-daerah. Kehadirannya mencari bentuk ruang kegelisahan dan kerinduan yang ada di tempat yang dikunjungi, setiap tempat akan bermakna apabila ada Kantong Budaya-nya, jika ada tempat yang tadak ada kantong budaya akan seperti abnormal jika sebuah kota hanya dibangun dari gedung-gedung modern dan birokrasi.
“Harus ada penyeimbang dari kawan-kawan di suatu tempat untuk kantong-kantong budaya, komunitas sekecil apapun yang mempertemukan yaitu kegelisahan tersebut untuk mengimbangi kota-kota yang cenderung rakus, kebijakan yamg tidak bijak,” papar Taudal di CafĂ© Nemu Buku milik Neni Muhidin seorang aktivis budaya di Kota Palu, pecan lalu.
Dalam pertemuan dan dialog dengan sastrawan Yogyakarta itu hadir pula sastrawan Kota Palu, Ts. Atjat, Mas’amah M. Syam, Satries, Ashar Yotomaruangi dan sejumlah pemerhati dan peminat sastra yang tergabung dalam Komunitas Nombaca. Berbagai masalah dan saling tukar informasi terjadi dalam pertemuan tersebut, sebagai bentuk apresiasi terhadap perkembangan sastra Indonesia yang makin terbuka.
Menurut cerpenis dan penyair Raudal Tanjung Banua yang pertama kali hadir di Kota Palu dalam rangkaian tour dari Talaud, Sulawesi Utara itu, kesenian adalah dunia yang sunyi, bunyi yang dikeluarkan tidak terlalu banyak aplus dari public. Namun sedikit demi sedikit jaringan tersebut akan menjadi dasar yang potensial untuk membangun karakter dan budaya di berbagai kota.
Kata Raudal, ketika berkunjung ke suatu kota, jejaring, jalur-jalut sastra, progresif menjalankan misi keseniannya, menjadi alternatif komunitas yang keras kepala bertahan. Tanpa harus menunggu lembaga negara yang seharusnya mengayomi dan melirik mereka, tidak ambil pusing drng kondisi yang ada dan jalan terus.
Kehadiran raudal juga menceritakan tentang komunitas di kota lain yang pernah didatanginya. Ia mencontohkan, di Kendari ada Komunitas Arus yang diasuh oleh dosen sastra, dan sangat tidak formal, kios buah yang dijadikan perpustakaan untuk oase sastra. “Mereka bergabung bukan hanya sastrawan dan budaya, juga kalangan dari politikus lokal, agendanya diskusi rutin dan pertemuan informal yang dilakukan,” cerita Raudal. Radudal sendiri dikenal sebagai sastrawan yang produktif menulis cerpen dan puisi, serta esai di berbagai media nasional.
Dialog yang berlangsung sederhana itu sekaligus sastrawan Palu banyak memberi masukan dan cerita tentang perkembangan sastra di Kota Palu dalam beberapa tahun terakhir. Termasuk mengenai geliat berbagai kegiatan kesenian yang bertalian dengan sastra sebagai bagian perkembangan kesenian uumnya di Kota Palu. Di satu sisi, Ts. Atjat dan Ashar Yotomaruangi, juga tidak menutupi soal adanya keterbatasan-keterbatasan dalam berbagai aktivitas kesenian, namun menurutnya itulah sebuah dinamika perkembangan kesenian di Kota Palu. (HILDA/JAMRIN AB)

1 komentar:

replika angan - angan mengatakan...

keren :) salam blogger

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI