Minggu, 06 Mei 2012

GURU TUANYA SULAWESI TENGAH

: Hudan Nur )*



DATA BUKU

Judul        : GURU TUA PAHLAWAN SEPANJANG ZAMAN
Penulis        : Jamrin Abubakar
Penerbit    : Ladang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, 2012
Tebal        : 98 Halaman
ISBN        : 978-602-96792-7-4

                                      

SEKALI lagi oleh penulisnya Jamrin Abubakar,  menyumbangkan kesaksiannya bahwa dalam hidupnya pernah tahu dan sempat mengenal Guru Tua dari berbagai hal. Ada baiknya mengungkap Guru Tua, karena di luar pulau sana. Sebutan Guru Tua yang sangat akrab di telinga orang Sulawesi Tengah tidak dikenal luas, bahkan tidak diketahui sama sekali.
Padahal dari pemaparan di dalam buku, Guru Tua yang berasal dari Timur Tengah itu sangat disegani oleh Pemerintah Hindia Belanda. Guru Tua atau yang bernama Al Habib Sayyid Idrus bin Salim Aldjufri adalah seorang pedagang, diplomat, dan penyasastra. Ia juga tokoh kemanusiaan yang tak hanya disegani oleh kalangan atas namun seluruh lapisan. Ketika terjadi pengeksekusian PKI pada tahun 65-66, Guru Tualah yang menengahi persilangan masalah di masyarakat kala itu. Oleh kekharismatikan beliaulah, hanya di Sulawesi Tengah tidak terjadi eksekusi. Semua patuh akan anjurannya, yang tidak boleh menghukum apalagi membunuh manusia. Padahal kala itu, ada isu yang beredar dan menyatakan bahwa PKI akan membunuh Guru Tua. Namun isu itu tidak terbukti.
Mungkin tak banyak yang tahu kalau hobi dari sang Guru Tua yang melegenda itu adalah menonton sepak bola. Selain itu sosok Guru Tua yang menurut DRS. Tjatjo Tuan Saichu yang juga dosen sastra di Universitas Al-Khairaat dan sastrawan itu bahwa seorang guru tua ternyata adalah penyasastra, ia adalah penyair yang yang menuliskan sajaknya dalam bahasa arab. Ada satu puisinya yang telah diterjemahkan oleh HS. Saggaf Aldjufri, pada April 1973 yakni:

SANG MERAH PUTIH

Wahai sang merah putih
lambang kejayaan
berkibarlah engkau
di bumi Indonesia
yang subur dan hijau lagi tercinta

Setiap bangsa
mempunyai lambang kenegaraan
dan kejayaan
dan lambang kejayaan kita
adalah Sang Merah Putih


Dalam syairnya yang ditulis dengan bahasa arab, terasa sekali pengaruh syair arab yang lekat dengan makna sesungguhnya.
Ada yang menarik dari Guru Tua yang kharismatik ini yakni beliau adalah seorang tokoh yang sangat demokratis dan mempunyai empati dan sifat toleransi yang tinggi. Pernah suatu waktu ia mengangkat seorang pengajar yang beragama Kristen yakni P.K Entoh untuk mengajari ilmu eksakta di lingkungan sekolah Al-Khairaat. Hal ini beliau lakukan karena mengingat keilmuan yang dimiliki P.K Entoh, bukan melihat dari sudut agamanya. Sungguh rasional, dan begitu moderat.
Selama 40 tahun Guru Tua membawa Al-Khairaat menjadi wadah yang mempunyai kekuatan Islam yang tak hanya di Sulawesi Tengah, tetapi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, Papua Barat, dan Kalimantan Timur.
Guru tua wafat di Palu dalam usia 80 tahun, pada senin 12 Syawal 1389 H atau 27 Desember 1969, beliau dimakamkan di salah satu serambi Masjid Al-Khairaat Palu, Sulawesi Tengah. Secara silsilag Guru Tua dan keluarga, beliau mempunyai enam orang istri. Dari kesemuanya melahirkan tujuh orang putra-putri.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan saya atas kesahihan nasab Guru Tua, yang bila saya bandingkan dengan nasab yang diketahui oleh kakek Guru Tua, ada perbedaan yang sangat mencoloh. Baik dari urutan silsilahnya maupun penomeran urutan hasil silang perkawinan. Mungkin, karena penulis Jamrin Abubakar adalah wartawan yang melakukan investigasi hanya melalui fakta dan opini di masyarakat, yakni data dari catatan H. Nungci H. Ali bukan penelitian secara komprehensif maka kehadiran pernasaban  di buku ini bisa jadi kontroversi di suatu masa.
Di luar terjadi atau tidaknya kontroversi pernasaban, gelar Guru Tua adalah makna dari Guru yang Dituakan. Oleh masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan dikenal dengan sebutan “Andregurutta”. Oleh keistiqomahannnya dalam menjalankan syariat dan dakwah Islam sepanjang hayatnya, Pemerintah menganugrahinya Bintang Mahaputra Adipradana tahun 2010.
Sekarang Guru Tua sudah puluhan tahun meninggalkan dunia, dan khususnya masyarakat Sulawesi Tengah namun beliau tetap dikenang. Dan setiap hal-hal apa saja selalu dikaitkan dengan anjuran, dan yang pernah beliau sikapi dalam menghadapi persoalan hidup dan tentunya dalam hal keberagamaan.
Buku Guru Tua Pahlawan Sepanjang Zaman ini membawa pencerahan tersendiri karena selama ini belum ada yang menuliskannya secara kitab, hanya sepotong-sepotong. Buku ini mesti bermanfaat bagi perjalanan sejarah, khususnya eksistensi beliau bagi masyarakat Sulawesi Tengah.[]





)* Pustakawan di Rumah Buku Zeusagi


SENSIBILITAS BERTRIWIKRAMA TUHAN DALAM SAJAK IBERAMSYAH BARBARY

: Hudan Nur)*



SAYA percaya dengan Iyut Fitra bahwa semakin banyak menulis puisi maka akan terasa semakin sulit. Timbul ketakutan terjadinya pengulangan-pengulangan, entah itu diksi, gaya dan tema. Sehingga semakin tinggi usia penyair maka puisinya akan semakin sedikit, tidak sebanyak  di awal-awal kepenyairan yang masih cair dan mencari. Akibatnya produktifitas menjadi terhambat. Karenanya, boleh jadi Iberamsyah Barbary (IB) yang sebelumnya membukukan sajak-sajak situasinya yang privat ke dalam Serumpun Ayat-Ayat Tuhan juga mengalami keterbatasan produksi, di samping kesempatan untuk memuja kata-kata yang minus.
    Dalam Asmaul Husna, buku sajak kedua IB ini ada semacam perayaan batiniah yang sepi, menyibak ke jurang kontemplasi diri. Sehingga ada jarak yang mengurai antara Manusia dan Tuhannya. IB berusaha untuk menggapai lebih dalam jurang yang selama ini ia temukan untuk menggali dan terus menggali kejauhan pemaknaan akan dirinya dan Tuhannya lewat sifat yang ternyata sama-sama seimbang.
     IB relatif berhasil menguak makna nama-nama Tuhan dalam agamanya, yakni Islam menjadi pembuktian atas keseimbangan yang tak hanya ada di alam semesta dan pelakunya tetapi persamaan secara balance dengan penciptanya. Ada warning dalam sajaknya antara lain; ketika Tuhan Maha Merendahkan (Al Khafid) tetapi pembaca diingatkan bahwa Ia juga Maha Meninggikan (Ar Rafi’), kadang Tuhan bisa Memuliakan (Al Muiz) tetapi jangan lupa Ia juga bisa Menghinakan (Al Mudzill). Yang lebih mengerikan adalah bahwa Tuhan itu Maha Penghukum (Al Muntaqim) tetapi Ia juga Maha Pengampun (Al ‘Afuw).

    Bisa dilihat dalam penggalan sajaknya, Asmaul Husna halaman 22

    …   
    …
    Terpuruklah dalam, kehinaan membelam
    Jiwa sesak menyimpan malu
    Cermin pecah terserak tajam, menusuk dalam
    Martabat, runtuh silsilah yang dibanggakan selalu
    Hilanglah mahkota di tangan yang tergenggam
    …
    Kalau sudah terpuruk jiwa memudar
    Panjatlah tiang, iman yang telah ditancapkan didataran tinggi
    Teriak keras-keras, didengar orang sekitar
    Sampai hina melebur, menyentuh kaki
    Yakinlah akan keberadaan Kasih Sayang-Nya
    Mengangkat tinggi teriak yang sumbang
    Ketengah pertarungan kembali


    Jelas sekali dalam sajak Yang Merendahkan ini IB menyampaikan gugu dan duka sungkawa bagi manusia yang hina akan dihinakan, sehina-hinanya tak hanya oleh alam tapi juga Tuhannya. Akan tetapi di epilog sajaknya IB juga menyatakan kalau Tuhan juga akan meninggikannya. Seakan dalam sajak-sajaknya ini IB mengajak kita untuk sama-sama masuk ke jurang kontemplasi yang ia jalani, setidaknya memberitahu kepada pembaca bahwa ketika ada malam ada siang, sisi baik dan buruk, bagian kiri dan kanan, atas dan bawah begitu juga Tuhan dengan nama-namaNya. Begitu juga dengan sajaknya Yang Maha Menghukum halaman 81:
    …
    …
    …
    Jangan sampai kita terhukum
    Ditinggalkan cinta yang bertabura rindu dendam
    Jaga rumah dengan hamparan permadani hijau yang ranum
    Terangi lorong-lorong, kalbu selalu benderang dengan nyala
    Nyanyikan dengan suasana, dengan lagu-lagu rindu yang memelas
    Nyala hukum-Nya sangat tegas
    Gelora cinta-Nya sangat luas
    Pengampunan tidak mengenal batas
    Karena Dia Maha Pengampun

   
    Di setiap ending sajaknya sebagian besar yang berpasangan secara sifat keseimbangan IB menjelaskan makna nama Tuhan selanjutnya. Maka antar satu sajak dengan yang lainnya kalau dipadukan akan menyatu menjadi irama lalu berubah lagu, seperti kesatuan tubuh yang utuh. Dan benar saja, bila analogi Asmaul Husna adalah manusia maka mesti ada tangan kanan dan tangan kiri, sepasang mata, setangkup bibir, dan seluruhnya adalah pasangan untuk menyeimbangkan begitu pula dengan kumpulan sajak IB ini.
    Hanya saja belum ditemukan perbedaan sajak-sajak IB secara substansi dari kurun waktu puluhan tahun silam baik di kumpulan sajak Serumpun Ayat-Ayat Tuhan dan Asmaul Husna. Ketika sajak menjadi penanda dan pemisah sejarah maka genre menjadi tempat sensibilitas yang murni, dalam artian tidak terpengaruh secara sosial. Sensibilitas ini bisa berubah menjadi transedental sesuatu triwikrama. Ada tiga triwikrama kategori sajak di dunia ini dalam garisan besar yakni; sajak kritik yang memaki-maki, sajak cinta (universal) yang terelukan dan sajak religi yang mendayu-dayu.
    Sangat disayangkan secara ambivalensi simbolik Kumpulan Sajak Asmaul Husna ini belum ketat menyuguhkan struktur organisasi sajak yang kuat. Bahkan ketika prolog sajaknya di putar ke tengah, atau epilognya di bawa ke tengah paragrap, atau menggabungkan epilog dan prolog di penghujung sajak, niscaya sekali bisa dilakukan. Dan nampaknya tidak merubah pemaknaan sama sekali.
    Barangkali sajak-sajak IB tersebut adalah hasil pengaruh historis dari epigon penyairnya pada era tahun 70-an. Maka ini akan sah-sah saja. Saya jadi ingat puisi-puisi cinta Pablo Neruda yang katanya “Kita mesti saling cinta ketika yang lain hancur,  berantakan semua.” Nerudalah si penyair subur yang merambah aneka bentuk dan tema. Ia menerima Hadiah Nobel untuk puisi dan hadiah perdamaian Stalin. Ia komunis yang istiqomah dan romantis. Suatu hari, Junta militer Chili, Jendral Pinochet, menjarah rumahnya. “carilah – hanya ada satu benda berbahaya untuk kalian di sini – puisi.” Dan kelak seperti Neruda, IB juga wariskan petitihnya lewat sajak-sajak bertriwikrama Tuhannya, yang tentu saja bertendensi warning!

    Sekali lagi saya juga percaya dengan Binhad Nurrohmat dan Adin bahwa perpuisian di Indonesia hari ini makin dilegitimasi oleh sesama Penyair melalui antologi, festival, maupun forum. Sehingga kritikus dan pembaca tak lagi ambil bagian. Realitas ini membuat perkoncoan antar penyair menjadi “seni” tersendiri di luar lisensia puitika. Banyak sekali perayaan di era ini, selebrasi sastra dari tahun ke tahun terakhir semakin menjamur. Sesungguhnya selebrasi tanpa tindak lanjut akan menjadi hal yang hambar, karena dunia sastra tidaklah sesederhana karya dimuat atau tidak dimuat, dianggap penyair atau tidak, dianggap sastrawan atau bukan.
    Sastra Indonesia hari ini mempunyai problematika yang rumit, gawat, dan memprihatinkan. Celakanya tidak semua orang tahu dan ingin tahu. Sangat dinantikan kehadiran penyair-penyair yang tidak hanya memikirkan dirinya sebagai penyair,  namun juga mampu membuka mata dan bersikap terhadap persoalan dunia kesusastraan di Indonesia. Mudah-mudahan dengan kehadiran buku Asmaul Husna, yang bermandikan peringatan-peringatan religi ini dapat berarti untuk resepsi masyarakat, tidak hanya masyarakat sastra. []




)* Pustakawan Rumah Buku Zeusagi
TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI