“Budi Palopo dapat hadiah seni dari gubernur. Tahun depan aku njagoin Lan Fang. Tahun depannya lagi Tjahjono Widianto terus A. Muttaqin, S. Yoga ==> lha kok klik DKJT semua ya? Politiknya kayak TUK ya… atau sama juga DKL. Wah politicking jadi virus juga di seni. Bencana nih!” (sms seorang teman)
NAMPAKNYA keberlangsungan sejarah sastra memang harus bertengkar dan berludah-ludah. Tidak hanya menyuarakan ketertindasan sosial tetapi juga bertengkar dengan koleganya. Sehingga penyasastra yang idealnya soliter cenderung berklik. Seperti Pramoedya Ananta Toer yang layak mendapatkan Ramon Magsasay bahkan Nobel dijegal karena dendam lama Taufik Ismail kala Pram berkuasa. Pun halnya Pablo Neruda di tahun 1964 saat ia menjadi petinggi Chile, ia tidak mendapat Nobel. Saat itu, Sartre sendiri mengakui Neruda-lah yang layak mendapatkan Nobel tetapi karena ada campur tangan CIA, Nobel diberikan kepada Sartre dan ia menolaknya.
Sejarah sastra memang identik dengan pertengkaran dalam arti sempit. Gabriel Garcia Marquez pernah ditonjok Mario Vargas Llosa, begitupun Chairil Anwar juga pernah ditonjok HB. Jassin. Kini pertengkaran diwarisi dengan sistem perkubuan atau istilah berklik. Sebut saja, klik Salihara atau klik TUK atau klik KSI dan lain-lain. Bahkan penghadiahan bidang seni, budaya, atau sastra berdasarkan sistem kolega dan berklik.
Ironisnya karya tidak lagi dinilai dari segi kualitas tetapi faktor-faktor lain yang bersifat kepentingan tertentu dan acapkali berhubungan dengan kekerabatan. Tentu hal ini tidak fear! Ada banyak sesi penghadiahan yang diberikan oleh petinggi daerah, SKPD tertentu yang menjadi kontroversi karena dinilai tertutup dalam menentukan si penerima anugrah atau hadiah. Sebut saja Dinas Budaya dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Selatan dengan Anugrah Budayanya yang dinilai bagi sebagian kalangan hal ini ganjil. Idealnya sebuah hadiah diberikan dengan kriteria tertentu dan sistem penjurian oleh pihak yang kompeten. Sejauh ini, pihak panitia tidak pernah mengeksposedan terkesan tertutup. Selanjutnya baca disini
Kota Tanjungpinang merupakan salah satu pusat penting Kerajaan Melayu. Ia pernah menjadi menjadi gerbang Kerajaan Bintan sejak tahun 1673 Kerajaan Johor muncul gemilang di Hulu Sungai Carang – atau dikenal sebagai Sungai Riau. Pada masa itu dunia kalam, tulis-menulis berbagai ilmu pegetahuan, khususnya agama Islam dan sastra tumbuh subur. Maka dikenallaah nama pengarang Raja Ahmad dan Engku Putri Hamidah, anak Raja Haji Fisabilillah. Kepengarangan terus berlanjut sampai kepada Raja Ali Haji (anak Raja Ahmad dan merupakan cucu Raja Haji), Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau dan sampai kepada Aisyah Sulaiman Riau. Selepas itu, muncul Hasan Junus, Rida K. Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, BM. Syamsuddin dan lain-lain sampai Suryatati A. Manan.
tapi pada saat api mencapai pinggiran kota kecil itu,
berkelarian liar besar, terlalu banyak hidangannya,
dan pilihannya – ada yang dihancurkan,
dan pipa rumah berbelit-belit,
seperti gula gula terbakar.
…
(Ian Campbell)
1
Asap-asap berhamburan di sekeliling.
Pukul 06.20
“Hidup terus saja menderu , mengikuti aliran zaman yang tak tahu dimana ujungnya, hari ini aku mau istirahat tanpa gangguan dari seluruh kepenatanpekerjaan di kantor!” Namun ….
“Ayah…!!! Ayah…!!! Aku menemukan sesuatu!” Khudhan yang mendengar teriakan anaknya langsungkeluar kamar dan mencari sumber suara itu. Ia tahu kalau Adetra tidak akan begitu histeris jika ….
“Ayah, coba lihat benda itu! Apa itu ayah? Aku tak pernah melihat sebelumnya. Benda itu kulihat ketika aku selesai merapikan meja makan !” Adetra menunjuk ke sebuah benda yang sangat aneh yang letaknya hanya 100 meter dari ruang dapur tempat merekatinggal.Bendaituberbentukovaldenganwarnasilver, ia seperti igmobilef yang mempunyai bentuk setengah lingkaran, namun benda itu lebih mirip seperti cakram.
“Adetra, ayah mau keluar memeriksa benda itu!” Tegas Khudhan sambil mengenakan jaket hitam dan celana abu-abu yang dibuat dari bahan alumunium.
“Baik ayah, tapi sebentar lagi aku mau latihan teater buat kolaborasi persahabatan di Yupiter minggu depan. Dan igmobilef ayah akupinjam ya…?” Pinta Adetra, tapi Khudhan tidak lagi mendengar ucapan anaknya, seluruh indranya kini tertuju ke benda aneh tersebut. Dan dulu, sebelum Khudhan dikirim ke Enigma, ia adalah seorang seniman dibidang teater.Bakatnya itu, ternyata diwarisi oleh putranya. Meski generasi terus berganti, aura seni yang penuh abstraksi selalu mengalir mengikuti zaman. Seni akan tetap tumbuh pada jiwa yang mengerti betapa berharganya arti sebuah kehidupan. Seni tidak akan pernah mati. Ia selalu abadi dalam fitrahnya.
“Hati-hati ayah!”Pesan Adetra ketika Khudhan membuka pintu belakang dan iapun hanya membalas dengan acungan jempol.
Dengan perasaan was-was Khudhan mendekati benda aneh itu namun, sebelum iasampai di tempat tujuan, ia dikejutkan oleh dua lelaki yang keluar dari samping kanan benda tersebut. Keduanya memakai seragam ketatberwarna perak, baik baju, celana maupun sepatu. Yang satu berbadan gemuk dan satunya lagi agak kurus. Namun tinggi keduanya tetap setara. Tinggi mereka kira-kira 1,6 meter. Tapi Khudhan tidak pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini sebelumnya, mungkin mereka berasal dari planet lain.
“Siapa kalian?” Khudhan mencoba memecahkan keheningan.
Lalu yang berbadan gemuk menjawab, ”Maaf, jika kedatangan kami mengejutkan anda. Tapi kami di sini tidak bermaksud jahat, kami hanya tersesat!” Selanjutnya baca disini
PAHIN pahinakan kada kawa baungkara. Manjanaki madah pahumaan wadah kita maniti rasa. Sasinggam tatak pambanihan masih haja takaluar mun maitihi kalakuan inya. Liwar. Kada kawa tehapus dalam buluh paingatan ulun nang saban hari mamintal ija dami ijaan puisi bariannya. Mun malam bahinggap di lindau urat, kacilangan buhul kiyauan mata kada lagi taturuti. Ulun baca pulang puisi-puisi pian nang meanduh. Hibak buhauan. Sri Nur Nengsih.
Sulawesi Tengah khususnya Palu memiliki ragam tersendiri untuk menjaga keseimbangan alam seiring perjalanan bumi yang semakin menua. Diakui atau tidak, Palu (masih) beranjak remaja ke arah Megapolitan. Terlepas dari adat dan keseharian orang kaili, Kota Teluk Palu memiliki eksotitas yang khas dibandingkan daerah lain di Indonesia (umumnya) sebab Palu terlahir dari alam yang membentangkan pantai, lembah, dan gunung. Kecantikan Palu yang adanya mau (tidak mau) lambat laun tercemar oleh peradaban manusia yang semakin berkembang, kini Palu mulai mengenal lipstik dan beberapa jenis kosmetik luar. Kota ini terhunus kemajuan, ditambah lagi manusia yang makin egois dalam memanfaatkan alam. Selanjutnya baca disini
beginilah cuaca memainkan hatiku di saat seekor kelelawar mengepakkan sayap pengeluhannya karena hidup mesti dimaknai jua karena derita mesti dialami jua karena resah mesti diresapi jua karena gundah gulana mesti digauli jua
karena nelangsa mesti diresapi jua beginilah cuaca memainkan melodinya di saat tak satupun lagu yang bisa kunyanyikan untuknya
HETEROTEMATIS DALAM KUMPULAN PUISI-PUISI KAHLIL GIBRAN : Hudan Nur)*
HARMONI sosial dalam heterotematis puisi-puisi Kahlil Gibran mampu memberi kesadaran tentang kehidupan yang penuh nyanyian beserta suka-citanya lewat semiotika kata-kata. Sang penyair berhasil menghadirkan seluruh rekaman berisikan himpitan dan kegelisahannya sebagai penyair yang selalu diselimuti airmata. Puisi-puisinya adalah saksi jiwanya yang berimplikasi menyadarkan pembaca tentang suatu hal. Dalam bagaimanapun puisi berfungsi untuk mengingatkan kita terhadap hal tertentu dan pada akhirnya dari bacaan yang dibaca oleh pembaca di harapkan mampu mensinergikan harmoni positif dalam cakrawala pikirnya, seperti puisinya yang berjudul Bangsa Kasihan ;
Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya, memakan roti dari gandum yang tidak dituainya dan meminum anggur yang tidak diperasnya ..... Kasihan bangsa yang negarawannya serigala, falsafahnya karung nasi, dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru. .....
Puisi ini mengingatkan kita kepada negeri kita sendiri dengan segala kemirisannya dalam berkehidupan. Ada banyak hal yang mesti dibenahi untuk bisa menuju bangsa yang maju. Di samping itu ada juga puisi-puisi yang memotret tema cinta, kehidupan, alam, serta hasil kontemplasinya dalam mewarnai sebuah kehidupan yang mengelukan sekali. Hanya saja barangkali apabila pembaca membaca karya Kahlil Gibran dari versi Bahasa Indonesia akan sulit menemukan makna dari semiotika yang dibangun oleh Kahlil. Sebagian masyarakat pembaca tertentu akan merasakan kesulitan dalam memahami karyanya hingga sudut menarik dari puisi-puisinya tak mampu dinikmati. Kecuali bila kita membacanya lewat versi Bahasa Inggris. Saya secara pribadi sangat menikmati puisi-puisinya dalam versi Inggris, mungkin karena language is arbitrary. Sehingga spirit penyadaran yang ditularkan Kahlil dalam puisinya mampu saya resapi.
CATATAN UNTUK MENGGUGAT KEBUDAYAAN TADULAKO DAN DERO PERDAMAIAN : Hudan Nur)*
Nubuat kecil yang dicatat Jamrin Abubakar adalah kontemplasi penuh dengan segala daya yang dimilikinya selaku wartawan selama puluhan tahun. Dalam buku ini, ada beberapa tema yang diusung untuk mengingatkan pembaca terhadap hal besar, seperti; lengkatuwo sang tadukalo murni, sejumlah hipokrit kejadian PID Forum, atau sejumlah ceceran kesedihan terhadap modero. Tidak dapat dipungkiri tulisan-tulisan ini adalah hasil kehamilan eksperimental oleh penulisnya selama merekam himpitan-himpitan, gejolak, kegelisahan, hingga dengan nubuat kecil inilah penulis bersaksi. Bahasa yang sederhana dengan ventilasi lokal yang utuh membuat nubuat kecil ini menjadi istimewa. Khususnya bagi orang luar yang notabenenya bukan orang Kaili, atau penduduk Palu untuk masuk dalam mindset papakerma lembah Palu dengan sejumlah adat, sejarah, warna, bahkan polemik yang pernah terbangun sebelumnya. Di samping itu, secara tidak langsung semiotika yang dituturkan secara implisit dalam Menggugat Kebudayaan Tadulako ini membuat para pecinta khasanah budaya, sastra, etimologi, dan sebagainya menjadi tertarik untuk melihat langsung betapa tragisnya dan seriusnya kulminasi moral yang sebenarnya (masih) terjadi di lembah Palu dan yang terpenting ada nadir yang belum terungkap. Mengingat, di Indonesia belum ada responsif secara apresiasi yang ditulis serius dan kontinyu untuk pelan-pelan membuka tabir ‘pusat peradaban dunia’ di Sulawesi Tengah. Tidak banyak orang tahu tentang pusat peradaban dunia, hanya sedikit kalangan yang bisa dihitung. Dan kalaupun ada, hanyalah yang berkepentingan secara instansi atau pelancong asing dengan misi tertentu seperti penelitian akademik. Dari nubuat kecil ini, penulis berusaha menggugah semua pihak untuk peduli. Tulisan-tulisan ini adalah rekaman jejak yang perlu ditelusuri ulang demi kepentingan sejarah. Secara pribadi, saya tercenung dengan gejolak yang pernah terjadi dalam masa penulisan nubuat kecil ini. Ada spirit yang tertangkap, hingga penulis tuliskan dan spirit itu perlu ditularkan. Lalu tabir lokalitas bisa mengglobal bila nubuat kecil ini bisa ditindaklanjuti, entah dalam bentuk apapun. Sebab apresiasi serupa sangat jarang direkam oleh masyarakat Kaili khususnya, dan bahkan masyarakat etnis Kulavi, Napu, Behoa, Bada,Mori, dan Pamona. Semoga kehamilan berikutnya, penulis mampu menggugah masyarakat sastra, sejarah, dan budaya untuk memposisikan diri sebagai pemeduli.
Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Palu menerbitkan buku yang mereka namakan cerita rakyat Kaili di Kota Palu. Sayangnya, isinya sangat memprihatinkan karena semua cerita yang mereka sebut cerita rakyat sama sekali bukan cerita rakyat tetapi cerita sehari-hari yang berbahasa Kaili. Ada di dalamnya berjudul ; orang berkebun, orang bersepeda, orang mandi, dsb. Kesemuanya hanyalah cerita dingin dan sama sekali tidak mencerminkan Cerita Rakyat Kaili. Awalnya, ketika buku itu diberikan ke saya saya berharap isinya adalah tentang Tadulako, atau legenda-legenda yang pernah ada di Kota Palu. Faktanya? Sangat mengecewakan. Belum lagi di cover buku ada foto Walikota Palu, Wakil Walikota Palu, dan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Palu yang terkesan sangat dipaksakan dalam rangka kepentingan SKPD. Penting untuk membedah buku ini. Sebab bagi saya pribadi, buku semacam ini tidak layak beredar karena menyesatkan pembaca sastra. Atau kalau memang betul-betul ingin menerbitkan buku cerita rakyat orang Kaili, bisa menghubungi penulis cerita yang ada di Kota Palu. Bukannya ditulis oleh Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata beserta staffnya yang isinya tidak jelas! bagaimana menurut komiu?
HOMOTEMATIS BERTRIWIKRAMA CINTA DALAM KARYA HAMAMI ADABY
: Hudan Nur)*
HAMAMI ADABY, penyairgenerasi 70-an yang telah menelurkan sejumlah antologi pribadi; Iqra (1997), Nyanyi Seribu Sungai (2001), Kesumba (2002), BungaAngin (2003), Dermaga Cinta (2004), UmaBungasBanjarbaru (2005), Keduluran (2006), 36 MataPena (2007), DiJariManismuAdaRindu (2008), dan SarjanaCinta (2009) ini termasuk penulis puisi yang menitikberatkan karyanya dalam kontekstual sehari-hari, puisi-puisinya ditulis berdasarkan perkembangan yang terjadi di sekelilingnya. Apa yang ia lihat, dengar, dan rasa semuanya diramu dalam puisi.
Dalam kumpulan antologinya yang terakhir Sarjana Cinta, bukan hanya puisi yang termaktub tetapi juga sehimpun cerita pendek yang pernah ditulisnya kurun waktu 1969-1971 dan semuanya tertemakan cinta. Diusianya yang semakin senja, sisi keromantisan menjadi pilihan dalam menuangkan apa yang ada dipikirannya. Lihat saja Puisi Sarjana Cinta:
Kuperoleh kedamaian di wajahmu nak,
ketika bapak merebut gelar sarjana
dalam pertahankan skripsi cinta
“SURAT dan KEKASIH”
pada penjara ibukota.
Sering kita dengar orang masuk bui
karena putus cinta dan hidup siri
dari pahitnya putaran jaman
gelisah menendang badai kehidupan.
Wajah-wajah resah berloncatan
dari reruntuhan harapan
yang bergetar mendekap kegelisahan
menghadang bisik-bisik pertambatan.
Wajah-wajah ceria bertebaran
bagai perahu layar mengejar lautan
saat bunda cium keningmu, anakku
pertaruhkan skripsi cinta
“SURAT dan KEKASIH”
Lihat juga cerita pendek yang pernah ditulisnya di bawah ini, ada enam cerita pendek yang terhimpun di Sarjana Cinta salah satunya berjudul Hati Wanita dan Kedamaian:
SEUJUNG KUKU aku tidak percaya lagi dengan lelaki. Sering bohong dan mengobral janji. Mungkin itu dirasakan olehmu, dan telah dibuktikan berkali.
Lelaki yang kumaksud tadi bukan kamu, tapi Akli lelaki inilah yang kukutuk sampai akhir hayat. Entah lelaki yang lain aku belum mengambil kesimpulan.
Ucapan Saadiah mendapat perlawanan dari Masni.
+ Tapi tidak semua kan?
- Yang , Ketiga. Kalau juga putus dengan Bakri, yang keempat, baru mengambil keputusan, bahwa lelaki sama semua.
+ Boleh saja. Itu rumus Saadiah. Aku tak menyangkal.
Saadiah diam sambil menggigit ujung jari. Menunduk mempermainkan jempol kaki ke kursi.
Kertas catatan bekas kuliah pagi tadi masih terletak di daun meja ruang tamu.
- Kejam sekali. Ia telah berbohong. Saadiah geregetan sambil melontar pandang ke Masni. Tapi Masnin tidak tahu, karena terhalang buku Anthropology Budaya yang dibaca.
Setelah beberapa menit buku Anthropologyitu diletaknya diatas meja. Saadiah mengulang apa yang diucapkan tadi.
- Kejam amat. Ia telah berbohong. Kata Saadiah.
+ Sebagai sahabat maklum hal itu. Nanti kau akan ketemu seorang lelaki yang penuh pengertian.
- Terima kasih Masni.
Masni kembali mengambil buku Anthropology yang di atas meja tadi. Membuka dan membacanya.
- Jadi tidak semua lelaki tidak bisa dipercaya?
+ Tentu ada yang bisa dipercaya, bukti aku!
- O, Jadi begitu toh?
+ begitulah, kata Masni sambil tersebyum menatap Saadiah. “Dengan keyakinan bulat Allah memberikan yang terbaik.”
Buku Anthropology yang dipegang dan dibaca, diletakkannya kembali.
Saadiah tercenung dengan pandang hampa dan kosong. Ada seberkas cahaya dalam binar mata, ketegaran menghadapi kemelut yang merontok bathin.
Kelembutan hatinya masih tergambar dalam setiap kata yang diucapkan.
- Itu kan masa lalu yang tak perlu diingat. Begitukan? Apa iya Masni?
+ Iya. Betul!
Masni sudah mengerti semua ucapan Saadiah itu. Ia berharap sungguh pada Saadiah agar bisa melupakan semua peristiwa kenangan bersama Akli.
- Sulit buat melupakan.
+ Memang sulit, tapi pelan-pelan.
Saadiah berargumen.
- Mungkin hanya penyair yang bisa melupakan. Kenapa? Dituangkannya dalam bentuk puisi. Lalu jadi plong. Mau jadi penyair seperti Bayah? Itukan pertanyaanmu?
Masni tidak membuka mulut, sebab pertanyaan itu sulit untuk dijawab. Saadiah masih menunduk sangat kesal dengan peristiwa silam.
“Seberkas harapan yang hilang, mungkinkah akan ditemukan kembali?”. Kata-kata itu selalu berputar di otak. Tiba-tiba ia bicara.
- Mas, mungkinkah cahaya itu dapat kutangkap lagi?
+ Kenapa tidak! Doa dan usaha yang sungguh.
saadiah ditawari Ajam untuk main drama, berjudul “HATI WANITA DAN KEDAMAIAN”. Ia terima tawaran itu, karena sejak lama ingin dan kebetulan hari ini ada kesempatan.
- Aku akan main drama Mas. Tawaran dari Ajam.
Masni tercengang hampir tidak percaya apa yang diucapkan itu. Ia semakinheran dan mengulang ucapan Saadiah.
+ apa? Main drama? Pendengaranku begitu?
- Ya. Kau pemain kedua. Ajam yang menunjuk!
+ Kapan mulai latihan?
- Dua hari lagi, Rabu. Kuharap Masni jangan menolak.
+ Baik, aku bersedia. Thema cerita bagaimana?
- O, nanti kuberikan naskahnya. Karya Ajam sendiri.
+ Sutradara, siapa?
- Ajam juga.
Ditulisnya naska ini oleh Ajam karena Saadiah memberikan bahan untuk diramu dalam scenario.
Mulanya Saadiah tidak tertarik samasekali dengan permainan panggung ini. entah kenapa ia juga tidak tahu, mulanya untuk belajar acting dan terjun kedunia ini.
Mungkin hanya untuk sekedar pelarian, atau memang suatu keinginan yang lahir dari sanubarinya. Biarkan dunia ini dijalaninyua agar harapan datang suatu kegembiran.
Bagaimana pun rasa asing baginya dan geram.
****
Dari 58 puisi dan 6 cerita pendek yang terhimpun di Sarjana Cinta patut untuk disimak oleh pembaca sastra.Salam!
HAMIL EKSPERIMENTAL LAHIRKAN GUMAM ASA (Ngoni so pe cara bakugumam. Lanjut Jo!) : Hudan Nur)*
BILA rahasia menempati posisi penting dalam hasil sebuah karya maka jangan ‘paksakan’ untuk menjadi ‘harus jelas’. Begitulah kausalitas seorang Ali Syamsudin Arsi (ASA) dalam eksplorasi karya yang disebutnya sebagai gumam. Awalnya pada pertengahan 2008 yang lewat ASA memperlihatkan kepada saya hardcopy gumam-gumamnya tersebut. Kala itu saya dan beberapa teman yang lain belum memberi reaksi apapun. Hanya saja bagi saya, ASA merupakan seorang yang tidak memakai genre yang orang lain pakai. Barangkali baginya mencari jalannya sendiri itu lebih menjadi, ketimbang harus ikut dalam aliran tertentu. Dari tiga buku kumpulan gumam; Negeri Benang pada Sekeping Papan (Januari 2009), TUBUH di Hutan-Hutan (Desember 2009), dan Istana Daun Retak (April 2010) dengan selang waktu penerbitan yang jaraknya tidak begitu lama. Ada beberapa hal yang menggelitik saya, selain substansi dan cara penyuguhan gumam ke pembacanya. Pertama, dari empat belas hal yang ditulis ASA pada Istana Daun Retak; Alangkah Indahnya Rindu, Raja-raja Menikmati Istana, Anak-anak Turun Gunung, Seorang Perempuan Danau, “T”, Gumam Selain Gumam, Istana Daun Retak, Hujan Tipis-tipis, Menari Puisi-puisi, Gumam Dalam Tafsir Rindu, Cempaka, Istana Tanpa Hati, Dan Bencana Itu, dan Gumam Kepada Gumam, membuat pembaca sastra serius ikut mengerutkan kening karena mantra. Bahkan banyak yang terjebak dalam persoalan aturan simetri dalam sebuah keharusan sastra. Sebagai hasil cipta dan rasa, sastra lahir dari kekreatifitasan dan daya kontemplasi yang penuh. Dalam sastra tidak ada batasan harus begini, harus begitu, karena sastra bukan linguistik yang memiliki keterbatasan dan segenap aturan pengikat agar padu. Dari sinilah semuanya dimulai: Imajinasi liar dan kebebasan kreatifitas. Bahkan seorang ASA sekalipun, puluhan tahun yang lewat dia konak hingga klimaks. Jeda waktu yang tidak lama, ASA hamil dalam waktu yang cukup lama, bahkan bertahun-tahun. Dari kehamilan inilah, ia lahirkan anak-anak kandungnya yang disebutnya gumam. Kedua, hasil hamil eksperimentalnya ASA tersebut menjadikan karyanya tidak prematur, berbeda dengan karya-karya generasi pembebek yang banyak dijumpai di media cetak dan dunia maya. ASA suguhnya gumam sebagai nuansa baru untuk warna kesusastraan Indonesia, yang pada substansinya tidak jauh berbeda dari yang ada. Kata gumam, lekat di indra dengar kita seperti ngedumel, ngoceh dan sebenarnya gumam hanyalah istilah untuk menyuarakan kegelisahan, sudut pandang ASA terhadap sesuatu apapun itu yang sempat terekam langsung dalam perjalanan hidupnya. Maka, pangkal persoalan yang demikianlah kenapa hamil eksperimental itu dilakoni ASA. Ketiga, semiotika yang dicitrakan ASA bukan untuk dinikmati melainkan untuk direnungkan dan disikapi, karena gumam-gumam didedikasikan ASA untuk mengingatkan terhadap sesuatu. Seperti gumam asa yang berjudul Anak-anak Turun Gunung (IDH hal: 10-13) ;
... Aroma daun sup di pinggir jalan, sebuah kampung menawarkan. Sepanjang jalan, kiri dan kanan, hamparan menghijau di halaman rumah, samping rumah, belakang rumah, bahkankalaupun juga dapat di dalam rumah dengan batas pagar dari rancangan sederhana dari bahan sederhanadengan mimpi terselipdi kedua belah bibir-bibir mungil yang sederhana. Bukan hanya sepi sekeliling. Kita dalam posisi terkepung oleh berbagai jenis ragam macam, padahal. ... Anak-anak turun gunung. Anak-anak turun gunung. Bentuk nyata dari rasa kerinduan terhadap kelayakan hidup, tidak dalam mempertahankan wacana-wacana pembohongan, keculasan, sementara kemiskianan dianggap tidak pernah ada dalam setiap laporan, akh, perjalanan berjenis apa dan mau dibawa ke mana gemericik air sejuk bening ini akhirnya.
Keempat, produksi penerbitan buku-buku gumam ASA yang jaraknya tidak berselang lama membuat pribadi saya tercenung. Ada beberapa alasan yang barangkali bagi penulisnya telah hamil anak-anak kembar. Hingga dengan waktu yang hampir bersamaan melahirkan lagi gumam terhadap persoalan-persoalan, himpitan-himpitan serta nadir kulminasi seorang manusia khususnya di Kalimantan Selatan serta beberapa perjalanan yang direkamnya dalam memori adanya. Atau barangkali mantra gumam memang dibuat penulisnya sedemikian rupa, tanpa jeda dan bertubi-tubi. Bahkan kabar terakhir yang saya dengar, ASA telah menyempurkan buku gumamnya yang keempat dan sudah siap terbit. Kelima, pada akhirnya saya harus mengakui tanpa mengurangi nilai substansi dari gumam ASA itu sendiri, nilai estetik masih terlihat kendati penulisnya buat untuk terlihat dan terkesan kacau, tidak beraturan tetapi keanggunan gumam biasnya dapat dipantulkan lewat kaca makna yang tabirnya tidak ditutupi apapun. Tema yang lugas dikemas dengan nuansa gumam membuat karya ASA patut untuk dicermati, dan dalam bagaimanapun gumam adalah bagian dari puisi yang lahir dari kehamilan eksperimental penulisnya. Ngoni so pe cara bakugumam. Lanjut Jo!
Sebelah Barat Papua, Juli 2010 )* Anggota Wanita Penulis Indonesia
DINAMIKA kebudayaan hadir dalam perjalanan proses kebudayaan-kesenian (sastra) dirasakan telah sampai pada titik jenuh, lemahnya pengelolaan (kebijakan) atas keberagaman seni-budaya yang ada oleh negara/daerah membawa dampak terkoyaknya persatuan dan kesatuan bangsa, berbagai konflik sosial yang terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia ditambah krisis identitas yang dirasakan semakin memudar serta minimnya pengelolaan kekayaan budaya yang kasat mata (tangible) dan tidak kasat mata (intangible) dan berbagai masalah mendasar lainnya yang kian memberi dampak akan rapuhnya pemahaman, kesadaran, apresiasi kita atas kekayaan keragaman seni-budaya. Untuk mencapai sebuah hasil yang diinginkan, pengawalan terhadap pola pengembangan dan adanya kesepahaman bersama dimana kebudayaan juga harus menjadi salah satu prioritas utama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara karena kebudayaan – kesenian; merupakan sebuah jalan yang akhirnya akan memberikan gambaran bahwa begitu beragamnya kondisi yang ada dimasyarakat menunjukan identitas kita dalam pembangunan karakter bangsa. Bila dirunut ke belakang, kebudayaan juga erat dengan kehadiran sastra sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebab kebudayaan yang maju (berkembang) dapat dilihat dari penghargaan masyarakatnya terhadap sastra itu sendiri. Kebudayaan dan sastra adalah hal yang sangat kompleks sehingga cukup sulit untuk bisa diejawantahkan dalam kehidupan. Padahal ini adalah fondasi untuk menjadikan manusia seutuhnya. Ada tiga hal yang bisa menjadikan manusia sebagai insan mulia yakni: agama, etika dan sastra. Apabila ketiga hal ini sudah dimiliki seorang manusia, maka mulialah ia dimata manusia yang lain maupun pencipta kita. Tetapi bila kita tengok ke kenyataan yang ada, justru berkebalikan. Budaya dan sastra menjadi ikon yang dipandang sebelah mata, apalagi bagi kalangan elite, pejabat dan instansi pemerintahan. Di sisi lain, ketika hal ini disikapi oleh simpatisan budaya dan sastra malah beberapa instansi terkait bersikap apatis. Sangat disayangkan instansi kebudayaan dan pendidikan tidak mau melibatkan personnya ke ranah ini. Padahal notabenenya adalah instansi pelindung dan bertanggungjawab untuk menaungi segenap apapun yang mengusung unsur budaya (sastra). Di dalam tubuh budaya terkandung nilai sastra untuk memanusiakan manusia. Di dalam sastra ada tanggungjawab moral untuk melindungi manusia dari kebobrokan, ada filteralisasi yang tidak langsung menjadi tameng manusia dalam berkehidupan. Namun dalam kurun waktu terakhir ini, banyak lahir seniman-seniman birokrat yang ‘katanya’ peduli dengan keberlangsungan seni – budaya. Kalimantan Selatan merupakan kawasan yang egaliter, tidak hanya etnis Dayak dan Banjar tetapi hampir seluruh etnis dan subetnis suku yang ada di tanah air. Ini menunjukkan adanya akulturasi yang implisit terbangun dalam proses berkehidupan. Sehingga corak budayanya pun (agak) sedikit mengalami adopsi dan adaptasi mengikuti perjalanan budaya yang sama-sama bergulir seiring masa. Oleh karenanya, tidak menutup kemungkinan bila kelak budaya sebelumnya berubah menjadi budaya campuran yang statusnya mengalami klamisasi dalam periodik tertentu. Sebagai contoh adalah budaya Gong, awalnya budaya ini merupakan sarana penyiaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia tak terkecuali Kalimantan Selatan. Lambat-laun telah menjadi tradisi turun-temurun yang membudaya di setiap daerah yang notabenenya beragama Islam dan sebagai faktanya di tempat kita mengenal tradisi Wayang Gong. Sebuah pertautan silang antara budaya Hindu dan Islam, suatu nuansa – cikal bakal salah satu kesenian Banjar. Seiring klamisasi tersebut kultur asli yang dianut masing-masing etnis juga mengalami pergolakan dan pergeseran budaya. Karakter kebudayaan memburam dalam situasi kehidupan yang nilainya melebur dalam menghargai budaya-budaya terbuka. Berbeda dengan situasi kultur yang tertutup, budayanya mampu bertahan tanpa tergerus arus egalisasi. Bukankah suatu kebudayaan akan ada dan tidak tergantung pelaku budayanya itu sendiri? Di sinilah sebenarnya kulminasi gerusan corak dalam berbudaya. Seniman yang sejatinya berbuat untuk keberlangsungan sebuah kebudayaan, juga dapat merusak dan menghancurkan nilai-nilai dalam budaya itu sendiri tak terkecuali. Belakangan ini terbukti dengan kehadiran seniman birokrat di daerah kita.
Lantas bagaimana bila eksploitasi dimaknakan ekspresi? Berapa banyak lagi seniman dua puluh empat karat yang tersisa di Bumi Lambung Mangkurat ini? Kita semua angkat bahu, karena tahu perjuangan murni memerlukan pengorbanan dan tempaan yang luar biasa perihnya. Disamping itu juga memerlukan waktu yang tidak sebentar. Berbeda dengan seniman birokrat yang tiba-tiba saja nyeni karena faktor jabatan dan kedudukan di suatu instansi. Inilah sebenarnya racun kebudayaan yang mengaburkan citra budayanya sendiri. Sebab, pada dasarnya mereka tidak memiliki kecakapan dan ilmu seni – budaya yang utuh. Sehingga pemahamannya terfirkah dan setengah-setengah. Dan sangat disayangkan mereka melakukan eksploitasi terhadap seniman-seniman yang secara ekonomi memerlukan bantuan untuk bisa bertahan. Celakanya para seniman dengan sukarela dieksploitasi oleh seniman birokrat. Tidak hanya itu, penyasastranya pun demikian. Ini fatal! Sebab warna seni – budaya menjadi kabur karena kepentingan pihak tertentu. Seyogianya, semua kegiatan pemerintah yang berhubungan dengan seni – budaya maka wajib hukumnya: penggerak, pelaksana, maupun penggagas menu seninya adalah pelaku seni (murni) itu sendiri! Ini tidak bisa ditawar lagi, karena memang merekalah yang tahu betul nadir kebudayaan, baik yang berskala regional maupun nasional. Tapi apakah hal ini juga berlaku di daerah kita? Nilai kebudayaan tidak lagi berada dalam koridor yang pas. Ajang yang bermuatan seni – budaya – sastra kini sudah ditunggangi kepentingan-kepentingan kalangan tertentu. Bila eksploitasi dimaknakan ekspresi maka paham kebablasan ini telah salah kaprah. Perlu koreksi diri dulu kalau mau dikatakan seniman – budayawan – sastrawan yang benar. Dan tentunya perlu menghentikan eksploitasi terhadap seniman! Mari kita berekspresi dalam kita!*
Komunitas Sastra Indonesia dan Tradisi Lisan Nusantara (KSI-TLN) Palu, merupakan salah satu lembaga yang aktif dalam kegiatan kesusastraan. KSI memiliki pengurus pusat danhampir seluruh provinsi di Indonesia telah terbentuk termasuk di Sulawesi Tengah. Di antara kegiatannya melakukan berbagai kegiatan sastra berupa seminar/diskusi, pembacaan karya sastra dan lainnya.
Pada kesempatan ini KSI menjadi event organizer untuk peluncuran sebuah buku berjudul Orang Kaili Gelisah Catatan Kecil Seorang Wartawan yang akan diluncurkan pada, Jumat, 16 Aprilmendatang. Buku tersebut diterbitkanYayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah (YKST) yang merupakan lembaga nirlaba yang didirikan budayawanMasyhuddin Masyhuda (almarhum).
Buku Orang Kaili Gelisah Catatan Kecil Seorang Wartawan yang merupakan kumpulan tulisan yang pernah dipublikasikan di surat kabar lokalmengenai peristiwa seni dan budaya di Kota Palu.
Buku Orang Kaili merupakan kumpulan 25 tulisan Jamrin Abubakar yang khusus mengenai masalah-masalah Kaili sebagai hasil liputan, interpretasi dan wawancara tokoh-tokoh budaya di Palu yang kemudian diramu dalam bentuk tulisan. Karena itu tulisan dalam buku yang dicetak di Yogyakarta danmerupakan buku kedua Jamrin Abubakar yang diterbitkan YKST akan menambah kekayaan pustaka daerah Sulteng yang masih kurang. Sebelumnya buku yang diterbitkan yaitu Mengenal Khazanah Budaya dan Masyarakat Lembah Palu tahun 1999.
Kebetulan Jamrin termasuk salah satu pengurus Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah yang bergabung sejak tahun 1990-an, yaitu semasaMasyhuddin Masyhuda masih hidup. Sedangkan Masyhuddin yang juga penyair tersebut meninggal dunia pada 30 September 2000. Namun kepengurusan YKST tetap berjalan walau tak seaktif lalu.
Dengan demikian atas upaya yang dilakukan Jamrin Abubakar menerbitkan bukunya atas nama YKST, merupakan apresiasi untuk tetap eksis dalam masalah-masalah kebudayaan. Bersama ini pula sebagai perkenalan, kamisertakan Kata pengantar Penulis buku dari Jamrin Abubakar sebagai penjelasan tentang bukunya.
Atas dukungan kawan-kawan jurnalis dalam publikasi tentang buku yang akan diluncurkan ini, kami ucapkan terima kasih.