Sabtu, 12 November 2011
Membebat Mitologi Pahlawan Megalit
Rabu, 05 Oktober 2011
KSI AWARD
‘KSI Awards’ 2011
Bulan Desember 2011 Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berusia 15 tahun. Untuk memaknai usia yang sudah cukup dewasa itu, kami akan memberikan KSI Awards kepada penyair yang puisinya dinilai terbaik oleh sebuah Tim Juri. Penghargaan -- berupa uang tunai dan piagam penghargaan -- tersebut akan diserahkan pada malam pembukaan Kongres KSI yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Januari 2012.
Syarat-syarat bagi calon peraih KSI Awards adalah sbb.
1. Terbuka bagi semua penyair yang aktif atau pernah aktif di suatu komunitas sastra di Indonesia dan luar negeri, tanpa dibatasi usia dan tempat tinggal.
2. Mengirimkan 5 puisi terbaru (ciptaan tahun 2010-2011) yang belum pernah dipublikasikan dan belum pernah dibukukan.
3. Tema puisi bebas, diutamakan yang bernuansa lokal, atau kesan puitik tentang situasi kota tempat tinggal penyair.
4. Naskah puisi, disertai biografi singkat dengan menyebutkan komunitas sastra yang pernah diikuti, dan foto diri, dikirimkan melalui email ke ksastraindonesia@yahoo.co.id, CC ke shobir_ksi@yahoo.co.id, bwdwidi@yahoo.com, dan ahmadun.yeha@gmail.com.
5. Naskah harus sudah sampai ke email tersebut di atas (Panitia) paling lambat 30 Oktober 2011 pukul 12.00 WIB.
6. Dewan Juri akan memilih satu puisi “Juara Utama” yang berhak menerima KSI Awards 2011, empat “Puisi Unggulan” penerima penghargaan “Karya Terpuji”, serta 95 puisi pilihan untuk dibukukan bersama karya-karya para “Penyair Tamu” yang dipilih oleh Panitia Kongres.
7. Para pemenang akan diundang ke Jakarta untuk menerima Penghargaan yang akan diserahkan pada malam pembukaan Kongres KSI 2012, di Jakarta, pada bulan Januari 2012.
Selamat berkarya terbaik untuk meraih KSI Awards 2012.
Jakarta, 17 September 2011
Senin, 03 Oktober 2011
MERAMU HIDUP DENGAN PERJALANAN
Minggu, 02 Oktober 2011
LOVETRUST PROJECT
KATRINE DAN PENJAGA DIAN
Kamis, 05 Mei 2011
INDONESIA MEMAHAMI KAHLIL GIBRAN
Buku ini ditujukan untuk memperingati wafatnya ke-80 tahun Kahlil Gibran. Kahlil Gibran dikenal sebagai pujangga Arab, kelahiran Lebanon, seorang Kristen Maronite, warga Negara Amerika Serikat, dan banyak punya penggemar di Indonesia. Ia lahir di desa Beshari, Lebanon Utara pada 6 Januari 1883. Wafat di New York, Amerika Serikat 10 April 1931. Ia memiliki posisi istimewa bagi masyarakat Lebanon, karena telah menjadi inspirasi bagi terbentuknya persatuan dan kesatuan Lebanon sebagai sebuah Bangsa. Dalam hakikatnya karyanya adalah ajaran Islam yang sekedar disarika kembali dalam sastra popular tanpa dipengaruhi oleh pikiran politik apapun demi membuahkan hidayah bagi orang lain.
Dalam kaitannya dengan proses perdamaian Palestina-Israel yang juga merupakan salah satu dari masalah terbesar di dunia yang sampai sekarang masih ditemukan jalan keluarnya. Sejak dimulainya konflik Palestina hingga sekarang telah diajukan berbagai proposal dalam rang penyelesaian makalah itu, namun masih sedikit yang berhasil secara efektif untuk menghentikan konflik yang telah merenggut ribuan warga Pelstina dan Lebanon.
Dari sudut pandang humatarian, seharusnya bangsa dari tanah levant seperti, Israel, Suriah, Lebanon, dan Yordania mengambil pengalaman masa lampau seperti yang diinginkan Kahlil Gibran. Buka memutar “kaset rusak”, seperti cerita pembunuhan missal/genocide terhadap bangsa Yahudi pada waktu Perang Dunia II oleh Hitler sehingga terjadi balas-membalas.
Klaim ini nyatanya juga dihadapkan pada kenyataan mengenai kekejian Israel terhadap Palestina di Gaza yang diktuk PBB. Hendaknya bangsa Yahudi memandang Palestina dan Arab sebagai suatu bangsa yang merdeka, berdaulat, dan memiliki wilayah yang sah.
Peringatan kepada Kahlil Gibran sekaligus meneguhkan kredo bahwa sastra bisa menyatukan dan mengukuhkan keragaman, sementara politik rasialisme memisahkan, mempertajam gap keragaman, dan mengobarkan perang.
Beruntung, bangsa Indonesia lahir dalam kebudayaan yang kaya. Beragam pusaka alam, budaya ragawi dan tak-ragawi. Kahlil Gibran merupakan contoh yang memberikan kontribusi dengan karya, bakat serta penderitaannya. Pemikiran dan pengabdiannya untuk perdamaian, pluralism, cinta keluarga, dan lingkungan yang bergema. Dari berbagai penjuru Indonesia, puluhan orang memberikan komentar, opini, mengungkap apa saja yang dapat dipetik darinya. Antara lain; Dad Murniah, Deddy Tri Riyadi, Hudan Nur, I Wayan Sudiarta, Nin Bakdi Soemanto, Rudi Fofid, Yvonne de Fretes, dll. Buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran ini dieditori Eka Budianta dan diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. A Tribute To Kahlil Gibran, diapresiasi dalam 1000 tahun Samuan Tiga di Gianyar Bali, April 2011.
Senin, 25 April 2011
EKSISTENSIALISME DALAM BUNGKAM MATA GERGAJI
Oleh: HE. BenyamineKumpulan gumam dalam Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, 2011) memperlihatkan kecenderungan keras kepalanya sang pengarang yang mengambil jalan kebebasannya dalam berkarya, menapaki secara konsisten kegelisahan sebagaimana orang sedang memperjuangkan kebebasan dalam hidupnya meski rasa takut juga terus membayangi. Tanpa kebebasan, maka kemampuan setiap individu untuk memilih berarti tidak ada, yang dalam gumam Asa terungkap dalam bungkam mata gergaji; memisahkan, memburai, dan melukai. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre yang membatasi kebebasan manusia sebagai bagian dari “neraka adalah orang lain”.
Dalam Bungkam Mata Gergaji (BMG) juga memperlihatkan adanya kecenderungan pilihan, tanpa mengganggu kebebasan, beberapa gumam dalam format yang jauh lebih pendek dari ketiga buku terdahulu, yang dinyatakan sebagai “berdamai” dengan “orang lain” sehingga beberapa gumamnya pendek dan sebagian sangat pendek. Pilihan berdamai itu tidak berarti merubah gaya gumam yang banyak menghamburkan kata-kata, meskipun sebenarnya dapat lebih sedikit kata.
Bungkam mata gergaji telah menjadi frase pembimbing dalam menyusuri kumpulan gumam ini, yang menjadi penanda kepedihan dan kuatnya hegemoni terhadap situasi dan kondisi yang mengitari manusia, yang sebagiannya tergambar telah kehilangan kebebasannya. Eksistensi manusia terbungkam mata gergaji dalam pandangan ASA tergambar dengan “mengucur luka luka luka dari gelak keruhnya sungai beban dari lubang-lubang galian beban dari lumpur-lumpur luapan beban dari drama-drama tayangan beban dari meriahnya kelap-kelip kaca taburan sinar, akh beban yang ternyata sangat memilukan”, sebagai eksistensi yang terluka dalam lingkungan penuh ancaman dan pengendalian dari orang yang bermuka tebal tak tahu malu tak bermata juga tak bertelinga sebagai digambarkan ASA sebagai “orang-orang bebal pun tetap saja mendengkur di ...”, dengan akhir “di” menunjuk pada sesuatu yang bebas.
BMG merupakan keruntuhan kebebasan manusia, ia digambar ASA dengan “telah melibas setiap bayang-bayang dari berjuta harapan, harapan yang dihamparkan oleh banyak telapak tangan terbuka dan sangat terbuka, tetapi bungkam mata gergaji adalah rahasia dari kekuasaan genggam di kepal-kepal tangan bergetar, urat syaraf pun terhentak tiba-tiba, genggam yang sejalan dengan kebiri di lingkup nafsi-nafsi”. Keruntuhan kebebasan ini tiada lain dari kelumpuhan sebagai manusia, manusia yang siap digusur demi kedamaian dengan rela atau tidak untuk tersingkir, dalam ungkapan ASA, “mata gergaji bergerak dengan kaki-kaki, mata gergaji bergerak dengan tulang-tulang, mata gergaji bergerak dengan mata terpejam, mata gergaji terus melibas mata pencaharian. Bahkan tak akan dibiarkan bertumbuhan tunas-tunas bermekaran”.
Dalam BMG, ASA menunjukkan perlawanannya, dapat dikatakan sastra perlawanan terhadap keadaan yang mengekang dan membungkam. Meski perlawanan melalui gumam ini berhadapan dengan “dengkur berkepanjangan”, namun ada tekad yang kuat untuk terus melawan terhadap orang-orang bebal yang mengarahkan keberadaan manusia dalam kubangan kekacauan eksistensinya. ASA menyatakan, “Kami telah kepalkan tangan, tapi suara kami dibalas dengkur berkepanjangan”, untuk menunjukkan masih adanya kesadaran sebagai individu yang tidak mau terus dikondisikan dalam “bungkam bagian dari kekuasaan, bungkam adalah kesepakatan, bungkam adalah mematikan, bungkam adalah tikamam, bungkam adalah menyingkir dan enyahkan, bungkam adalah berbalik tangan, bungkam adalah memalingkan, bungkam adalam melemahkan”. Ungkapan-ungkapan ASA penuh vitalitas kekiri-kirian, yang mengosong tema pembebasan dari “neraka adalah orang lain” dengan cara melawan manusia (orang lain) yang dikatakan ASA, “berasal dari racun yang menetes di awan-awan”, yang menjelma dalam berbagai bentuk hingga “jadilah ia sebagai pembungkam segala kehendak”.
Berbagai fenomena pembungkaman tertangkap melalui BMG, seperti perilaku orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk membungkam. ASA memandangnya, “Sementara ada yang saling berebut naik ke atas podium masjid untuk mendapatkan kabel-kabel mikropon serta alat memantulkan kebesaran diri mereka, saling berebut untuk mendapatkan corong-corong”. ASA memberontak, “Kami telah tergusur dari tempat tinggal kami sendiri, tanah kami telah ditumbuhi gedung-gedung, sawah kami telah bersemi menara-menara, ladang kami telah penuh dengan swalayan toserba kotak-kotak kaca pameran”, yang sebagiannya digiring melalui corong-corong yang diperebutkan tersebut.
Dalam BMG nampak ASA yang radikal, yang kiri, yang individualis, yang pemberontak, yang begitu bersemangat berupaya mendobrak pembungkaman atas keunikan individu dan situasi hidupnya. Dibandingkan dengan ketiga buku Gumam Asa terdahulu, BMG menunjukkan sosok ASA yang penuh semangat pembebasan dan perlawanan terhadap bentuk-bentuk yang menghilangkan kebebasan seseorang. Ada semangat eksistensialis dalam BMG, dalam pemikiran tentang kebebasan manusia, sebagaimana secara gamblang terungkap di bawah ini.
“Kerja sebuah gergaji adalah sistem bergerak untuk menjadi terpisah, menjadi berseberangan, saling berhadap-hadapan. Sama-sama merasakan luka berkepanjangan, luka dari bungkam mata gergaji. Sakit yang dirasakan bersama-sama. Luka untuk bersama-sama. Bila ada satu mata gergaji maka ia akan diikuti oleh gerak mata gergaji yang lain. Sistem, sebagai tameng ampuh dalam mempertahankan, sistem sebagai tameng untuk menyerang. Sedangkan kerja sebuah gergaji adalah sebagai pemisah. Untuk apa persatuan, bila di dalam sistem persatuan itu sendiri ada pihak dominan karena sikap ketidak-adilan yang diberlakukan. Untuk apa persatuan bila cara kerja bungkam mata gergaji terlalu sering menyakitkan, selalu memamerkan bentuk-bentuk keculasan, selalu mempertontonkan bahwa yang seharusnya dilindungi ternyata dijadikan tumbal berbagai kekuatan, sebagai korban kekuasaan, di semua bidang, karena bungkam mata gergaji menciptakan sesuatu yang sepotong-sepotong, terpisah-pisah, terpecah-pecah”
Selanjutnya baca disini
WACANA KITA: AKTIVITAS SASTRA DAN SASTRAWAN
Ada dua forum sastra yang akan dihelat di Indonesia sebagai wujud aktivitas sastra dan sastrawan. Kedua forum sastra itu ialah Pertemuan Penyair Nusantara V (PPN V) di Palembang dan Temu Sastrawan Indonesia IV (TSI IV) di Ternate. DAKAH? Ini sebuah pertanyaan yang mengemuka di Grup Temu Sastrawan Indonesia IV dan berbagai kegelisahan yang Dua forum ini tentu saja merupakan representasi dinamika aktivitas sastrawan dengan karya sastranya. Siapa pun yang menjadi panitia atau tuan rumah penyelenggaranya, tentulah memiliki konsep rencana, visi dan misi untuk bertekad kuat menyukseskan agenda acaranya. Kedua forum sastra ini bagaimana pun juga memiliki makna penting sebagai representasi geliat sastrawan Indonesia dan nusantara. Kedua forum sastra ini perlu didukung untuk kesuksesan penyelenggaraannya.
Sekedar menyampaikan informasi secara akurat dan bermaksud memberikan dukungan kepada kedua panitia event sastra ini, terlebih dulu saya akan menghadirkan informasi terkait dengan hajatan sastra itu. Saya mulai dengan mengkopipaste informasi dari panitia Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate seperti berikut ini:
Kepada
Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara:
Dengan Hormat,
Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Indonesia-4 akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara, pada 25-29 Oktober 2011. TSI-4 bertema “Sastra Indonesia Abad ke 21, Keragaman, Silang Budaya dan Problematika”. Adapun kegiatan TSI-4 ini meliputi Seminar, Musyawarah Sastrawan, Penerbitan Antologi Sastra, Panggung Sastra, Pameran/Bazar/Launching Buku, Workshop dan Wisata Budaya.
Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara untuk mengirimkan karya dengan ketentuan sebagai berikut:
A. Puisi :
- lima (5) buah puisi karya asli yang ditulis dalam tahun 2011
- belum dipublikasikan ke media mana pun
- Biodata maksimal 10 baris
- diemailkan ke : puisi.tsi4@gmail.com
B. Cerpen :
- tiga (2) buah cerpen karya asli yang ditulis dalam tahun 2011
- belum dipublikasikan ke media mana pun
- panjang cerpen berkisar 5 halaman sampai 10 halaman kwarto (600 Kata)
- memakai font times new roman size 12
- Biodata maksimal 10 baris
- diemailkan ke : cerpen.tsi4@gmail.com
Pengiriman karya dapat dilakukan sejak: 23 Maret 2011 – 23 Juli 2011. Bagi sastrawan yang karyanya lolos seleksi Dewan Kurator TSI-4, akan mendapat undangan resmi dari panitia TSI-4 dan honorarium tulisan.
Panitia akan menyediakan penginapan (akomodasi), makan-minum (kosumsi) dan transport lokal selama kegiatan berlangsung, uang lelah dan cinderamata. Mengingat keterbatasan dana, maka kami mohon maaf tidak bisa menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke tempat tujuan (pp).
Atas perhatian, kerja sama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Ternate 21 Maret 2011
Salam Takzim,
Panitia Temu Sastrawan Indonesia 4
Ternate 2011
Sofyan Daud Dino Umahuk
Ketua Pelaksana Sekretaris
Kemudian saya tampilkan informasi dari panitia penyelenggara Pertemuan Penyair Nusantara (Anwar Putra Bayu) seperti berikut ini:
Panitia banyak menerima email dan pesan inbox Facebook yang intinya ingin ikut dan berpartisipasi dalam acara PPN V, untuk itu silahkan saja mengirimkan tiga buah puisi dengan tema bebas serta biodata ke dekasumsel@gmail.com, cc:ahmadun.yh@gmail.com, isbedyst@yahoo.com, dan anwarputrabayu@gmail.com. Pengriman karya tersebut selambat-lambatnya kami terima pada 30 April 2011. Puisi-puisi yang nantinya masuk antologi akan diikutsertakan dalam acara dan diberitahu kemudian via email. Selain itu, bagi teman-teman yang sudah menerima surat undangan kami nantikan kiriman puisinya selambatnya tgl. 30 April 2011. Terima kasih atas perhatiannya.
Perlu pula saya tambahkan informasi dari salah seorang Dewan Kurator PPN V (Isbedy Stiawan ZS) terkait hajatan PPN V Palembang sebagai berikut:
Selasa, 29 Maret 2011
SEMINAR INTERNASIONAL PUISI NUSANTARA
Latar Belakang
Pertemuan Penyair Nusantara adalah sebuah even sastra yang diselenggarakan setiap tahun. Tahun 2011 ini merupakan pertemuan ke-5, yang akan diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS), 17--20 Juli 2011 di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.
Sebagaimana tradisi pertemuan penyair nusantara sebelumnya, diisi oleh kegiatan baca puisi, peluncuran buku puisi, pameran buku sastra, wisata budaya, dan kegiatan seminar selalu tetap menjadi bagian yang terpenting dalam mata acara PPN. Seminar PPN V di Palembang ini akan melihat pertumbuhan serta perkembangan perpuisian terkini di masing-masing wilayah nusantara.
Perjalanan sastra, khususnya puisi di setiap negara dan bangsa tentunya memiliki problema sendiri-sendiri, yang bersentuhan dengan karya, media, penerbitan, kritik, dan lain-lain yang menyertainya. Keanekaragam persoalan itu menjadi sebuah perbincangan, bahkan perdebatan yang diharapkan menghasilkan jalan keluar yang positif bagi keberlanjutan kehidupan perpuisian di masing-masing wilayah.
Setidaknya, seminar yang menjadi rangkaian kegiatan PPN V ini diharapkan sebagai upaya membuka jalan guna membagikan dan mengapresiasikan ungkapan manusia dari keberagaman budaya, bangsa, etnis, dan ideologi. bangsa atau negara. Selain itu, diharapkan menjadi jembatan persaudaraan dan kebersamaan untuk mengenal lebih dekat tradisi serta sistem sastra setiap bangsa atau negara.
Tujuan
Seminar Internasional ini memiliki tujuan antara lain:
a. Mengkaji dan memerikan kekayaan pemikiran dan wawasan dalam rangka melihat gambaran puisi nusantara mutakhir.
b. Menggali khazanah makna dan nilai yang terkandung di balik puisi nusantara mutakhir guna penguatan karakter dan jati diri bangsa.
c. Membangun jejaring penyair, pemerhati, pengkaji, dan pelestari puisi nusaantara.
Tema
“Potret Puisi Nusantara Mutakhir”
Pokok Bahasan:
a. Estetika dan gaya puisi nusantara mutakhir.
b. Ruh dan ideologi puisi nusantara.
c. Perluasan media puisi, dari media cetak ke media digital.
d. Orientasi, komitmen, dan pengaruh media terhadap pertumbuhan puisi
e. Model pengajaran puisi yang ideal.
f. Menggairahkan kembali tradisi kritik puisi
Pemakalah Utama
Prof. Dr. Budi Darma, Prof. Dr. Abdul Hadi, WM, Dr. Taufik Ismail, Dr. Tarech Rasyid, Drs. Ahmadun Yosi Herfanda, Chavcay Syaifullah (Indonesia), Prof. Muhammad Haji Salleh, Ph.D, Dato Dr. Ahmad Kamal Abdullah (Kemala), Prof. Dr. Mohammad Saleh Rahamad, Rahimidin Zahri, Prof. Irwan Abu bakar (Malaysia), Dr. Razak Pandangmalam, Dr. Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan (Thailand), Dr. Zefri Arrif, Suip bin Hj. Abd. Wahab, Mohd. Shahrin bin Haji Metussin (Brunei Darussalam), Dr. Suratman Markasan, Putra Kikir, Djamal Tukimin (Singapura)*



