Sabtu, 12 November 2011

Membebat Mitologi Pahlawan Megalit


DATA BUKU
Judul               : Menggugat Kebudayaan Tadulako & Dero Poso
Penulis             : Jamrin Abubakar
Penerbit           : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Tengah
Cetakan           : I, April 2011
Tebal               : 112 halaman
ISBN               : 978-602-96792-1-2


TIDAK banyak orang tahu situs-situs megalitikum di nusantara, apalagi yang letaknya di timur Indonesia tepatnya di Desa Doda, Dataran Tinggi Behoa Kabupaten Poso Sulawesi Tengah ini. Bahkan Wiyono Yudoseputro, seorang ahli seni rupa purba menyatakan bahwa salah satu patokan masa Megalitikum  tertua di Indonesia adalah peninggalan benda temuan yang terdapat di Lembah Bada Sulawesi Tengah. Struktur batunya masih kelihatan jelas dengan garis pahatan yang sederhana dan kasar. Bila dibandingkan dengan peninggalan Megalitik di Sumatera yang lebih maju, dilihat dari pahatan yang lebih halus dan bentuknya lebih dinamis.
            Dari sekian banyak hasil peninggalan masa Megalitik ada sebuah patung peninggalan purba yang menunjukkan patung manusia tegak lurus dengan langit, tingginya 2 meter. Patung itu memiliki energi secara kultural dan filosofi bagi etnis Kaili, Kulavi, Napu, Behoa, Bada, Mori dan Pamona di Sulawesi Tengah. Secara arkeologi dan antropologi dari peninggalan Megalitik tersebut menjadikan penelusuran awal untuk memahami asal-usul istilah Tadulako yang menjadi legenda. Bagi masyarakat, Tadulako melambangkan pemimpin perang yang penuh kharisma, ksatria, perkasa, adil, dan bijaksana.  Di sekitar patung Tadulako terdapat dua buah Kalamba yang berukuran besar, satu terbuka dan satunya tertutup.
            Kalamba yang terbuka berisi air hujan, sedang yang tertutup tidak diketahui isi dalamnya karena materi batu yang sangat berat hingga tidak pernah dibuka. Sehingga semakin menambah misteri apa yang terdapat di dalamnya, kecuali beberapa kalamba tanpa penutup di ekitar Lembah Behoa sudah diketahui, diantaranya berupa tulang-tulang manusia yang pada tahun 2000 tulang-tulang tersebut di bawa ke Jakarta oleh tim peneliti kepurbakalaan.

Ekspedisi Tadulako

            Sulitnya menguak tabir Megalitik di Lembah Besoa disebabkan oleh medan perbukitan yang terjal. Hingga penulis dan sejumlah rekannya melaksanakan Ekspedisi Tadulako yang ditempuh dengan berjalan kaki sejauh 157 km. Di area tersebut, belum ada angkutan atau kendaraan yang mampu melewatinya, mengingat lokasi yang ekstrem. 
            Inilah awal kesaksian penulis, pembuktian dari era Megalitikum sampai generasinya berpindah ke zaman migrasi dan zaman sejarah, dimana terdapat dua paduan klasik dan saverigading.
            Tadulako adalah ksatria yang jasa-jasanya menyatukan suku-suku yang dulunya bertikai kini menjalin kekerabatan. Oleh masyarakat Behoa dibuatlah Patung Megalit Tadulako di bukit Bulili, Desa Doda Kecamatan Lore Tengah.

Legenda Tadulako

            Tadulako adalah gelar yang diberikan kepada pemimpin karena keberanian dan kepahlawanan membela tanahnya.
Alkisah, di Desa Doda Lembah Behoa hidup suami istri yang cukup lama belum dianugrahi anak, dengan doa dan takdir cinta mereka dikaruniai seorang putra. Mereka memberinya nama Lengkatuwo. Lengka artinya purnama dan tuwo artinya hidup. Bila dipadankan dua kata tersebut bermakna hidup sempurna. Lengkatuwo ini adalah nama lain dari Tadulako.
            Waktu demi aktu berlalu Tadulako beranjak dewasa berbagai ilmu kanuragan, beladiri, menombak dan memanah ia kuasai dengan detil. Keahliannya itu cepat tersebar ke berbagai kampung. Suatu waktu, ia diundang untuk membantu suku Bada menghadapi serangan orang-orang Waebonta di wilayah Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sebelum berangkat ke medan perang, ibunya berpesan bila selesai tugas cepat pulang, sebab tunangannya sudah menunggu di tanah kelahiran.
            Tadulako melawan musuhnnya diakhiri dengan kemenangan demi kemenangan. Bahkan perdamaianpun terjalin, sehingga orang Bada merasa berhutang budi padanya. Ia diminta untuk menikahi putri raja yang jelita dan menetap di Bada. Dilema terjadi dalam diri Tadulako. Namun ia putuskan untuk menerima pinangan itu.
            Suatu hari tadulako bersama istrinya yang hamil pulang ke Behoa. Kedatangannya dijemput dengan upacara kebesaran sebagai ksatria perang, meski demikian orangtuanya kecewa terlebih sang kekasih yang sudah lama menunggu. Beberapa waktu kemudian, Tadulako bertandang ke rumah kekasih lama yang saat itu sedang asik menumbuk padi dengan lesung. Tiba-tiba saja, kekasih yang murka menghujamkan alu ke kepala Tadulako. Tak ayal, Tadulako yang terkenal sakti tersungkur ke tanah. Pendudukpun gempar, ahli perang yang tak mudah ditaklukan musuh-musuhnya tewas di tangan seorang wanita.

Rabu, 05 Oktober 2011

KSI AWARD

Penghargaan Sastra

‘KSI Awards’ 2011



Bulan Desember 2011 Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berusia 15 tahun. Untuk memaknai usia yang sudah cukup dewasa itu, kami akan memberikan KSI Awards kepada penyair yang puisinya dinilai terbaik oleh sebuah Tim Juri. Penghargaan -- berupa uang tunai dan piagam penghargaan -- tersebut akan diserahkan pada malam pembukaan Kongres KSI yang akan diadakan di Jakarta pada bulan Januari 2012.



Syarat-syarat bagi calon peraih KSI Awards adalah sbb.

1. Terbuka bagi semua penyair yang aktif atau pernah aktif di suatu komunitas sastra di Indonesia dan luar negeri, tanpa dibatasi usia dan tempat tinggal.

2. Mengirimkan 5 puisi terbaru (ciptaan tahun 2010-2011) yang belum pernah dipublikasikan dan belum pernah dibukukan.

3. Tema puisi bebas, diutamakan yang bernuansa lokal, atau kesan puitik tentang situasi kota tempat tinggal penyair.

4. Naskah puisi, disertai biografi singkat dengan menyebutkan komunitas sastra yang pernah diikuti, dan foto diri, dikirimkan melalui email ke ksastraindonesia@yahoo.co.id, CC ke shobir_ksi@yahoo.co.id, bwdwidi@yahoo.com, dan ahmadun.yeha@gmail.com.

5. Naskah harus sudah sampai ke email tersebut di atas (Panitia) paling lambat 30 Oktober 2011 pukul 12.00 WIB.

6. Dewan Juri akan memilih satu puisi “Juara Utama” yang berhak menerima KSI Awards 2011, empat “Puisi Unggulan” penerima penghargaan “Karya Terpuji”, serta 95 puisi pilihan untuk dibukukan bersama karya-karya para “Penyair Tamu” yang dipilih oleh Panitia Kongres.

7. Para pemenang akan diundang ke Jakarta untuk menerima Penghargaan yang akan diserahkan pada malam pembukaan Kongres KSI 2012, di Jakarta, pada bulan Januari 2012.



Selamat berkarya terbaik untuk meraih KSI Awards 2012.



Jakarta, 17 September 2011

Senin, 03 Oktober 2011

MERAMU HIDUP DENGAN PERJALANAN


SEMUANYA berkumpul di terminal Garuda Indonesia, Bandar Udara Soekarno Hatta jam 1 siang sebelum keberangkatan Ke Damaskus yang akan transit di Doha. Di Damaskus ada sejumlah tempat eksotik yang sayang tak dikunjungi antara lain: ke Gunung Qosiyun, Tikyi Sulaimani, ziarah makam ke sahabat Bilal bin Ar-Rabah dan para Syuhada Karbala, Masjid Umawi (makam nabi Yahya dan Menara Isa yang dipercaya tempat turunnya nabi Isa pada akhir zaman), makam Salahuddin Al_Ayobi (pejuang membebaskan Baitul Maqdis dari tentara salib), kincir air tertua di dunia di tebing sungai Orontes, Crac Des Chevalier Castle.

Kemudian perjalanan dilanjutkan. Rombongan kami tiba di Jeddah melalui King Abdul Azis Airport. Dari Jeddah kami langsung diboyong  ke Madinah Al-Munawarrah dengan jarak tempuh 390 km dalam waktu 6 jam. Aku dan yang lain menginap di Rawdah Luxurious Hotel, tidak jauh dari pelatar Masjid Nabawi. Hari pertamaku di Madinah ziarah dalam ke Raudhoh (tempat mustajab). Banyak orang keliru dengan tempat ini karena Raudhoh tidak luas, cirinya karpet warna hijau dan putih dan bermihrab dalam masjid. Konon yang melaksanakan sholat 2 rakaat lalu berdoa di sini. Semua permintaan kita akan dikabulkan Allah. Di sini, aku berdo’a pada Allah untuk mengampuni dosa-dosaku, memberiku petunjuk dalam sisa umurku di dunia. Sholat di tempat ini sangat berjejal, semua umat Nabi Muhammad yang ke Madinah bertujuan utama untuk sholat di sini. Semua dibagi menjadi beberapa ras oleh laskar-laskar perempuan. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura masuk ke dalam ras Melayu. Yang akan dapat giliran terakhir, giliran jam 10 pagi waktu setempat. Sebab bila kita tak seras, atau kita mengikuti ras lain seperti orang-orang Pakistan, Mesir, atau Bangladesh kita akan terjepit oleh tubuh mereka yang tinggi dan besar. Setelah beberapa kali sholat dan berdo’a akupun keluar Raudhoh. Tapi tidak keluar Masjid, aku sholat sunat lagi. Pada rakaat kedua aku merasa seluruh permukaan kulitku seperti teriris, luka. Seusai salam, aku periksa ternyata tak terjadi apa-apa di kulitku. Lalu aku teringat, doa ketika di Raudhoh. Mungkin Allah menghapuskan dosa-dosaku itu, namun rasanya tak terelakan perihnya. Hingga dua jam aku iktikaf dan perih itu masih terasa membaluri pori-pori.
Di dalam masjid Nabawi sendiri ada makam Rasulullah SAW dan dua sahabat beliau Abu Bakar dan Umar R.A, selain itu ada juga mahtabnya Fatimah. Bilik tua dengan warna abu-abu yang setiap dindingnya dihiasi ventilasi kecil persegi enam. Aku duduk persis di belakang mahtab Fatimah tersebut. Kini yang menghuninya adalah burung-burung dara yang warnanya beragam dengan bulu lembut dan ukuran mereka besar-besar. Pemanduku cerita, bahwa di komplek mahtab ini dulu Nabi Muhammad hanya sendiri, kala itu belum ada bangunan apapun, tak semegah ini. Di padang kerontang itu, Nabi hanya ditemani sebatang pohon kurma yang tak kalah kerontangnya. Pohon kurma itu menangis, keinginannya tak lain hanyalah menemani Nabi Muhammad. Oleh kesetiaannya itu, nabi menamainya Azwa. 
Setiap usai sholat maghrib, sejumlah ustadzah melakukan pengajian di dalam masjid sembari menunggu waktu Isya. Ada satu hal yang bisa kuresapi, ketika seorang dari mereka di pojok kanan mengurai sebuah hadits Nabi Muhammad. Yang isinya bahwasanya Nabi Muhammad melarang umatnya untuk meminta pekerjaan, menjilat untuk memperoleh kedudukan dalam karier, atau memperoleh pekerjaan karena faktor koneksi atau kenalan atau keluarga, apalagi bekerja yang diawali menyogok seseorang/lembaga. Bagi yang mendapatkan pekerjaan dengan cara demikian, kata Nabi Muhammad; “Sesungguhnya mereka itu tidak lebih hina dari anjing.” Masya allah. Sekejab aku teringat kebiasaan orang-orang di negaraku, kebiasaan yang mendarah daging bagi sejumlah kalagan di Indonesia.     
Hari-hari berikutnya aku berziarah ke tempat-tempat yang bersejarah; Masjid Qiblatain (Masjid dua kiblat), kala itu Nabi Muhammad shalat Ashar yang arahnya ke Baitul Maqdis ke Palestina pada rakaat pertama dan kedua, Nabi Muhammad berdo’a agar umat Islam tidak lagi sholat mengarah sana maka dengan kekuasaan Allah di rakaat ketiga dan keempat Nabi shalat sudah mengarah ke Mekkah ke Baitullah, Masjid Quba (Masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW) bila kita sholat tahyatul masjid dan sholat sunat lagi dua rakaat pahalanya sama dengan kita menunaikan ibadah umroh, Jabal Uhud (Makam para Syuhada Perang Uhud, antara lain Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib yakni paman Rasulullah dalam perang tersebut ada 70 sahabat  yang juga gugur), Sab’ah Masjid di Khandaq (merupakan gardu penjagaan waktu mempertahankan kota Madinah), lalu ke Kebun Kurma (ada teh kurma yang airnya berasal dari air palestina/ zero point atau bersatunya sub polar dan nonpolar), Jabal Magnit (mobil bisa berjalan dengan sendirinya tanpa mesin) dan Percetakan Al-Quran.
Di Madinah, aku merasa suhunya luar biasa panasnya. Wajah kita seperti dipangang di oven. Aku tanya berapa derajat panasnya, seorang memberitahuku 540, bahkan diantara kami ada yang seluruh kakinya melepuh terluka karena kepanasan. Dalam panas itu, aku melihat sejumlah orang Arab duduk di tengah jalan tanpa beralaskan tikar atau semacamnya. Beberapa keluarga kulit hitam duduk melingkar menghadapi lempengan roti yang sangat besar. Aku takjub. Di sini semua orang flu dan batuk, tak terkecuali. Termasuk aku.
Hari terakhir di Madinah rombongan bus kami menuju Biir Ali melakukan niat Umroh (Miqat) lalu sholat dua sunat rakaat dan melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Sambil membaca isti’lam aku merenung. Aku tidak pernah bermimpi ataupun membayangkan kalau puasa ramadhan tahun ini akan kulalui di luar daerah. Hanya saja setiap mendengarkan cerita orang ke Baitullah, hatiku menangis. Ingin rasanya menikmati perjalanan bathin di rumah Allah itu.
Saudi Arabia terdiri dari 13 provinsi: Bahah, Hududusy Syamaliyah, Jauf, Madinah, Qasim, Riyadh, Syarkiyah, Arab Saudi (Provinsi Timur), ‘Asir, Ha’il, Jizan, Makkah, Najran dan Tabuk. Merdeka pada 23 september 1932, Andul Azis as-Sa’ud – dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa’ud memproklamasikan berdirinya kerajaan Saudi Arabia(al-Mamlakah al’-Arabiyah as-Su’udiyah). Jeddah adalah kota pelabuhan utama (pelabuhan laut maupun pelabuan darat) didirikan oleh Sayyidina Utsman bi Affan. Jeddah terletak di Provinsi Mekah. Kota terbesar kedua di Negara Arab Saudi selain Riyadh.
Di Makkah kami menginap di Rawabi Al-Taj. Dari namanya aku yakin pemiliknya pasti orang India. Hotel ini persis di belakang Grand Zamzam yang berhadapan langsung pintu dengan Masjidil Haram, pintu 1 King Malik Abdul Aziz. Dan benar saja dugaanku, tidak seperti di Hotel Rawdah di Madinah yang dihuni beragam suku bangsa. Di hotel ini, sebagian besar di huni orang India dan Srilangka. Ukuran kamarnyapun tak seperti seluas di Madinah. Di sini kamar kami tak dilengkapi dapur dan ruang tamu. Hanya kamar dan kamar mandi. Beruntung menu makannya ala Banjar semua. Hal ini yang menjadi kecemburuan rekan kami yang tinggal di Hotel Hilton, setiap kali disuguhi masakan ala Eropa. Tak pas dilidahnya. Di Makkah, panasnya tak jauh beda dengan Kota Palu. Sehingga sejumlah aktivitas yang kulakukan tak terpengaruh oleh cuaca hari. 
Selanjutnya ke Masjidil Haram untuk melakukan Umroh; Thawaf, Sa’I, ditutup Tahalul. Pertama kali masuk ke Masjidil Haram lewat pintu 1, hatiku bergetar bercampur haru. Aku lihat jutaan manusia memenuhi masjid juga Ka’bah. Setelah berniat thawaf dan keliling 7 putaran, aku sholat dua rakaat di belakang makam Nabi Ibrahim. Usai sholat aku mengangkat kedua tanganku yang dialiri airmataku sendiri. Inilah tanah haram yang berarti haram api neraka menjilatnya. Betapa beruntungnya orang meninggal dunia di sini. Aku membathin.  Betapa meruginya orang yang mempunyai kemampuan materi namun tidak tergerak hatinya pergi ke rumah Allah. Namun begitulah, Allah akan memilih dan memanggil siapa-siapa yang menjadi tamu rumahNya itu. Termasuk aku, yang hingga kini tak memiliki rumah. Aku hanyalah orang kost-kostan yang tinggal dihunian ukuran 6 X 12 meter, itupun sudah termasuk ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi. Aku menyebutnya rumah burung, karena mungil. Dan aku termasuk beruntung.  
Allah menurunkan 120 rahmat melalui Ka’bah. 60 rahmat bagi mereka yang melaksanakan thawaf, 40 rahmat bagi mereka yang melaksanakan sholat, dan 20 rahmat bagi yang melihat ka’bah. Dan sesungguhnya sholat di Masjid Nabawi 1000 kali lipat bila kita melakukan sholat di tempat lain di penjuru dunia dan 100.000 kali lipat bila kita sholat di Masjidil Haram. Subhanallah. Dan barangsiapa yang melakukan umroh di bulan ramadhan pahalanya sama dengan menunaikan haji. Hari-hari berikutnya selain melakukan umroh-umroh. Aku juga melakukan thawaf sunat. Setelah sholat zuhur, tepat jam 1 siang. Aku thawaf sunat. Aku suka thawaf ba’da zuhur karena lebih sedikit orang yang mengelilingi ka’bah ketimbang waktu-waktu lain. Mungkin disebabkan bulan puasa dan matahari yang sangat terik, sedang kita diharamkan menutup kepala dan wajah. Seperti biasa aku sholat sunat setelah 7 kali keliling ka’bah di belakang makam Ibrahim. Kali ini, aku pelan-pelan masuk kembali ke putaran orang-orang thawaf. Tanpa susah payah, aku dengan mudah masuk di Hijr Ismail. Tempat setengah lingkaran di sisi kanan setelah pintu Ka’bah. Aku sholat sunat dua rakaat sebanyak-banyaknya. Setelah itu aku menghampiri dinding Ka’bah, tepat di bawah pancuran emas. Aku kembali memanjat do’a. Mataku tak mampu membendung sedih, haru dan bahagiaku mencium dinding Ka’bah yang beraroma wangi Hajar Aswad itu. Sebab tak semua orang mampu dan bisa tepat berdo’a di bawah pancuran emas. Usai itu, aku melanjutkan ke Rukun Yamani, kembali kali ini aku bisa tanpa terhimpit orang-orang yang juga ingin mencium batu tersebut.    
Yang menarik adalah ketika orang-orang berjuang keras untuk bisa mencium Hajar Aswad. Bahkan sebagian ada yang berkelahi dan menggunakan jasa orang lain untuk mengangkat seseorang mencium, menembus orang-orang lain yang juga berkeinginan yang sama; mengecup Hajar Aswad. Jasa itu biasa disebut Ojek, orang-orang yang ingin mencium batu Hajar Aswad dibopong oleh beberapa laki-laki dan membayar sejumlah riyal, minimal 100 riyal. Bagiku ini sebuah rekayasa karena dibantu dengan menggunakan joki. Selain itu, joki-joki yang membopong itu akan menerobos orang-orang yang antri mencium batu Hajar Aswad bahkan tak jarang mereka mendorong orang lain hingga terjatuh. Bagiku ini tindakan haram. aku kembali duduk memperhatikan semuanya. Aku baru sadar dan tahu kalau kompas yang selama ini kupakai sebagai petunjuk arah angin itu berpusat di Ka’bah. Manakala aku berada di kiri Ka’bah, petunjuk kompas mengarah ke barat. Begitu juga sebaliknya, Subhanallah. Seseorang mengingatkan aku bila tak ada lagi orang melakukan thawaf lagi maka kiamat akan datang.   
 Di Makkah aku juga berziarah ke beberapa tempat: Jabal Nur yakni tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, di dalamnya ada gua (gua hira) seukuran Nabi Muhammad shalat, dan di dalamnya lagi ada lubang yang jika ditengok mengarah ke Ka’bah, Jabal Tsur (Tsur artinya kepala sapi/banteng) adalah tempat nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum Musyrik Quraisy, Masjid Namirah (Singa Betina) yakni sebuah masjid di kawasan Arafah yang menjadi tempat Rasulullah berkemah, Nabi memberi nama Namirah karena waktu itu di padang tandus Arafah hanya dihuni oleh seorang Nenek tua. Beliau takjub akan kemampuan Nenek renta tersebut lalu mendirikan masjid yang diberi nama Namirah oleh Nabi.  Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa selama 200 tahun, Mudzalifah; tempat mengambil kerikil dan niat bermalam (mabit) pada waktu musim haji, Mina: Tempat melempar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Ke Masjid Jin, Ma’la (makam istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah), Masjid Abu Hurairah, Masjid Hudaybiyah (tempat Nabi Muhammad menandatangani perjanjian damai, perjanjian Hudaybiyah), Peternakan Unta, Kiswah Ka’bah/Museum Dua Tempat Suci. Selanjutnya baca di sini

Minggu, 02 Oktober 2011

LOVETRUST PROJECT


IDENYA dalam Lovetrust project adalah menggunakan seni sebagai investigasi cinta dalam segala hal. Proyek cinta ini dijalankan Katrine May Hansen selama 11 tahun berturut-turut di Indonesia. Dan di Sulawesi Tengah, lawatannya ini adalah kali kedua setelah sebelumnya di tahun 1999 ketika pecahnya konflik Poso dengan epigon SARA.
Katrine yang seorang guru Bahasa Inggris dan sejarah ini dengan ramah memaparkan perjalanan hidupnya yang dipenuhi ketidakpercayaan ini sejak masih kanak-kanak. Bagi perempuan Denmark kebanyakan, menurutnya keperfecsionisan perempuan disana sangatlah penting. Lebih lanjut ia menceritakan pengalamannya waktu muda dengan memakai kontak lensa dan juga kacamata minus 1300. Ia merasa dijauhi dan nyaris buta. Hingga selepas SMA ia memutuskan kabur dari rumah dan memulai petualangannya pergi ke kota-kota lain, bahkan ke luar benua.
Dari perjalanannya itu, pada akhirnya ia sadar bahwa bagaimanapun ia tak bisa lepas dari kulturnya. Ia tetap seorang perempuan Denmark dengan segudang intrik kebudayaannya.
Hingga 11 tahun lalu sampailah ia di Indonesia dan jadilah perkenalan awal di Negara ini. Ia selalu ingin kembali ke Indonesia. Bila di Denmark ia merasa hatinya ada di Indonesia. Baginya di Indonesia orang-orang dan perempuan-perempuannya ramah. Terbukti ketika ia, pergi ke sebuah warung kopi di Kota Palu. Pengunjung di tempat itu menyapanya dengan ramah dan saling bersalaman dan ini tidak mungkin terjadi di Denmark. Perempuan-perempuan Denmark saling arogan, tanpa sapa apalagi hanya untuk menyunggingkan sebuah senyuman lirihnya.
Di Palu, pada 1 Oktober kemarin. Katrine menghadiri diskusi yang berlangsung di Zaya Café dan Poerty Jams Sesion di Gedung Juang. Yang menarik ketika diskusi, rekan-rekan lintas generasi yang hadir memberinya oleh-oleh argumen. Setidaknya mengenai proyek yang dijalaninya sekarang. Oposisi Binner antara barat dan timur tidak kalah menjadi sorotan karena tentu ia juga mengidentifikasi kultur antara Denmark dan Indonesia. Selain keingintahuannya yang besar terhadap Islam, sebab di negaranya sulit ditemukan penganut Islam.  
Pada sesi baca puisi di Gedung Juang. Ia membacakan 6 judul puisi dengan kekhasan orang Barat yang menitikberatkan pada teks dan makna yang ingin disampaikan. Ia juga berduet dengan seorang seniman Palu, Hapri Ika Poigi. Berdua mereka membaca Puisi Aku karya Chairil Anwar dalam versi Indonesia dan Denmark. Rupanya puisi Jeg (Aku) Chairil Anwar, sangat dikenal penyair-penyair Denmark. Sehingga ketika rekan-rekan Palu bertanya, “Do you know Chairil Anwar?” ia langsung sumringah. Kehadiran Katrine pada malam baca pusi di Gedung Juang itu, sedikit mengobati kegalauan orang-orang yang sebagian besar seniman pada malam minggu itu. Nampak, rekan-rekan film, nombaca, juga seniman individu seperti; Mas’amah Amin Syam, Neni Muhidin, Udin FM, Emhan Saja, Hanafi Saro, Zulkifli Pagessa, Smiet Lalove, Endeng Mursalim, Jamrin Abubakar, Satries, Hapri Ika Poigi, Yusuf Radjamuda, Pay Toeng, Soraya Pinta Rama, dan kawan-kawan penggalau malam itu. Saya sendiripun ditodong untuk membaca puisi mengawali Poetry Jams Sesion tersebut. Malam itu bagi saya sungguh picisan.

Indonesia 9

The soft sound of rain on the thatched gazebo,
is overpowering the voice in my head,
telling me to
stop obsesseing.

I yawn,
as the coconut palms and the line on the horizon blurs,
Gunung Rinjani disappears,
as the world and the words and the thought

and the voice materializes
to a man,
to the unlikely companion.
He wipes the rain from my face,
and makes love to me on the gazebo.

(Katrine May Hansen)

KATRINE DAN PENJAGA DIAN


SADARKAH kita bahwa perputaran dunia dan intriknya yang dinamis digerakkan oleh paragraf-paragraf pun teks-teks pendek? Perubahan dengan sekejab terjadi atas peran teks-teks atau kalimat pendek. Petitih, aforisme, maxim, puisi, proklamasi, nama baptis, ijazah, manifesto komunis, syahadat, dan sebagainya berhasil merubah sesuatu menjadi berarti. Bahkan ketika kita membaca artikel atau essai sebanyak 3.000 kata, kita hanya mendapati separagraf inti yang hendak disampaikan penulisnya. Selebihnya kutipan-kutipan orang lain atau rujukan buku dan asesoris bahasa agar nyentrik dan terkesan berilmu.
Hal inilah mungkin yang menyebabkan Ernest Hemingway peraih nobel sastra tahun 1954 memilih tulisan yang singkat dan apa adanya sehingga mencitrakan dirinya sebagai penulis minimalisme. Baginya yang terpenting dalam suatu pencapaian sebuah tulisan dalam berkarya adalah pemahaman. Bukan membuat pembaca bertanya karena tulisan terlampau gelap dan sengaja dibuat ruwet oleh penulisnya. Bukan juga vulgar, alih-alih transparan sebab lisensia puitika karya justru akan terabaikan.
Di lingkup itu semua pada tahun ini setidaknya ada dua hal yang menarik untuk disimak bagi dan demi kiprah sastra dan pelakunya di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Pertama, kehadiran buku puisi Penjaga Dian karya Satries, terbitan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Palu. Satries adalah nama palsu Sadruddin Lagaga, barangkali ia terinspirasi oleh Pablo Neruda yang aslinya bernama Ricardo Eliercer Neftali Reyes Basoalto yang juga menerima nobel sastra sekaligus perdamaian Stalin, atau juga supaya terkesan keren ketimbang nama aslinya. Hanya saja Satries tidak istiqomah dalam penentuan struktur dan bentuk puisinya. Ia suka merambah aneka bentuk dan tema dalam eksperimentasi karyanya. Melalui Penjaga Dian yang persis kehaikuan, pendek, dan sarat ia rampungkan himpunan puisinya antara 1973-2006.
Kedua, kedatangan Katrine May Hansen lewat lawatannya yang ia sebut The Heartbound Tour ke Kota Palu pada 30 September yang lalu. Ia adalah seorang guru dan penulis serta penyair asal Denmark. Oleh proyek lovetrustnya yang terbilang sukses di Asia maka sejumlah puisi-puisi pendeknya telah digunakan sebagai silabus di universitas-universitas. Dan ia cukup istiqomah dalam memilih bentuk dan tema. Dengan bermisikan cinta atau yang disebutnya Lovetrust tahun ini ia kunjungi beberapa Negara di Asean; Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri ia singgah di: Wiralodra Universitas Indramayu, UIN Malang, Universitas Muhammadiyah Jember, Kampoeng Baca (Pak Iman Suligi) Jember, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Airlangga Surabaya, Nombaca (Komunitas Membaca) Palu, Sulawesi Tengah, dan Klub Perempuan Gangga Gili Trawangan Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Katrine dan Penjaga Dian secara bentuk dan struktur memilih tampilan pendek dan apik dalam mengemas puisi sehingga terkesan efisien. Hal tersebut terlihat dalam cuplikan puisi berikut:

Kamis, 05 Mei 2011

INDONESIA MEMAHAMI KAHLIL GIBRAN

Buku ini ditujukan untuk memperingati wafatnya ke-80 tahun Kahlil Gibran.

Kahlil Gibran dikenal sebagai pujangga Arab, kelahiran Lebanon, seorang Kristen Maronite, warga Negara Amerika Serikat, dan banyak punya penggemar di Indonesia. Ia lahir di desa Beshari, Lebanon Utara pada 6 Januari 1883. Wafat di New York, Amerika Serikat 10 April 1931. Ia memiliki posisi istimewa bagi masyarakat Lebanon, karena telah menjadi inspirasi bagi terbentuknya persatuan dan kesatuan Lebanon sebagai sebuah Bangsa. Dalam hakikatnya karyanya adalah ajaran Islam yang sekedar disarika kembali dalam sastra popular tanpa dipengaruhi oleh pikiran politik apapun demi membuahkan hidayah bagi orang lain.

Dalam kaitannya dengan proses perdamaian Palestina-Israel yang juga merupakan salah satu dari masalah terbesar di dunia yang sampai sekarang masih ditemukan jalan keluarnya. Sejak dimulainya konflik Palestina hingga sekarang telah diajukan berbagai proposal dalam rang penyelesaian makalah itu, namun masih sedikit yang berhasil secara efektif untuk menghentikan konflik yang telah merenggut ribuan warga Pelstina dan Lebanon.

Dari sudut pandang humatarian, seharusnya bangsa dari tanah levant seperti, Israel, Suriah, Lebanon, dan Yordania mengambil pengalaman masa lampau seperti yang diinginkan Kahlil Gibran. Buka memutar “kaset rusak”, seperti cerita pembunuhan missal/genocide terhadap bangsa Yahudi pada waktu Perang Dunia II oleh Hitler sehingga terjadi balas-membalas.

Klaim ini nyatanya juga dihadapkan pada kenyataan mengenai kekejian Israel terhadap Palestina di Gaza yang diktuk PBB. Hendaknya bangsa Yahudi memandang Palestina dan Arab sebagai suatu bangsa yang merdeka, berdaulat, dan memiliki wilayah yang sah.

Peringatan kepada Kahlil Gibran sekaligus meneguhkan kredo bahwa sastra bisa menyatukan dan mengukuhkan keragaman, sementara politik rasialisme memisahkan, mempertajam gap keragaman, dan mengobarkan perang.

Beruntung, bangsa Indonesia lahir dalam kebudayaan yang kaya. Beragam pusaka alam, budaya ragawi dan tak-ragawi. Kahlil Gibran merupakan contoh yang memberikan kontribusi dengan karya, bakat serta penderitaannya. Pemikiran dan pengabdiannya untuk perdamaian, pluralism, cinta keluarga, dan lingkungan yang bergema. Dari berbagai penjuru Indonesia, puluhan orang memberikan komentar, opini, mengungkap apa saja yang dapat dipetik darinya. Antara lain; Dad Murniah, Deddy Tri Riyadi, Hudan Nur, I Wayan Sudiarta, Nin Bakdi Soemanto, Rudi Fofid, Yvonne de Fretes, dll. Buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran ini dieditori Eka Budianta dan diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia. A Tribute To Kahlil Gibran, diapresiasi dalam 1000 tahun Samuan Tiga di Gianyar Bali, April 2011.

Senin, 25 April 2011

EKSISTENSIALISME DALAM BUNGKAM MATA GERGAJI

Oleh: HE. Benyamine

Melalui gumam terangkai pemberontakan, perlawanan, dan kegundahan terhadap orang-orang bebal yang menyebarkan kerusakan demi kerusakan dengan menggunakan kekuasaannya. Melalui gumam juga tersibak jalan kebebasan sebagai penghargaan terhadap kemanusiaan. Hal ini begitu menggoncang dan mengusik dalam buku Bungkam Mata Gergaji (Kumpulan Gumam Asa) karya Ali Syamsudin Arsi (ASA), Framepublishing; Yogyakarta, 2011. Kumpulan gumam dalam buku ini dapat dikatakan sebagai gumam perlawanan sekaligus keberpihakan kepada hakikat manusia yang terus tergilas oleh mata gergaji sehingga terpisah, tercerai berai dan penuh luka, yang menjadikannya tidak terlihat eksistensinya sebagai individu maupun dalam komunitas dan hubungan dengan alam.

Kumpulan gumam dalam Bungkam Mata Gergaji (Framepublishing, 2011) memperlihatkan kecenderungan keras kepalanya sang pengarang yang mengambil jalan kebebasannya dalam berkarya, menapaki secara konsisten kegelisahan sebagaimana orang sedang memperjuangkan kebebasan dalam hidupnya meski rasa takut juga terus membayangi. Tanpa kebebasan, maka kemampuan setiap individu untuk memilih berarti tidak ada, yang dalam gumam Asa terungkap dalam bungkam mata gergaji; memisahkan, memburai, dan melukai. Dalam pandangan Jean-Paul Sartre yang membatasi kebebasan manusia sebagai bagian dari “neraka adalah orang lain”.

Dalam Bungkam Mata Gergaji (BMG) juga memperlihatkan adanya kecenderungan pilihan, tanpa mengganggu kebebasan, beberapa gumam dalam format yang jauh lebih pendek dari ketiga buku terdahulu, yang dinyatakan sebagai “berdamai” dengan “orang lain” sehingga beberapa gumamnya pendek dan sebagian sangat pendek. Pilihan berdamai itu tidak berarti merubah gaya gumam yang banyak menghamburkan kata-kata, meskipun sebenarnya dapat lebih sedikit kata.

Bungkam mata gergaji telah menjadi frase pembimbing dalam menyusuri kumpulan gumam ini, yang menjadi penanda kepedihan dan kuatnya hegemoni terhadap situasi dan kondisi yang mengitari manusia, yang sebagiannya tergambar telah kehilangan kebebasannya. Eksistensi manusia terbungkam mata gergaji dalam pandangan ASA tergambar dengan “mengucur luka luka luka dari gelak keruhnya sungai beban dari lubang-lubang galian beban dari lumpur-lumpur luapan beban dari drama-drama tayangan beban dari meriahnya kelap-kelip kaca taburan sinar, akh beban yang ternyata sangat memilukan”, sebagai eksistensi yang terluka dalam lingkungan penuh ancaman dan pengendalian dari orang yang bermuka tebal tak tahu malu tak bermata juga tak bertelinga sebagai digambarkan ASA sebagai “orang-orang bebal pun tetap saja mendengkur di ...”, dengan akhir “di” menunjuk pada sesuatu yang bebas.

BMG merupakan keruntuhan kebebasan manusia, ia digambar ASA dengan “telah melibas setiap bayang-bayang dari berjuta harapan, harapan yang dihamparkan oleh banyak telapak tangan terbuka dan sangat terbuka, tetapi bungkam mata gergaji adalah rahasia dari kekuasaan genggam di kepal-kepal tangan bergetar, urat syaraf pun terhentak tiba-tiba, genggam yang sejalan dengan kebiri di lingkup nafsi-nafsi”. Keruntuhan kebebasan ini tiada lain dari kelumpuhan sebagai manusia, manusia yang siap digusur demi kedamaian dengan rela atau tidak untuk tersingkir, dalam ungkapan ASA, “mata gergaji bergerak dengan kaki-kaki, mata gergaji bergerak dengan tulang-tulang, mata gergaji bergerak dengan mata terpejam, mata gergaji terus melibas mata pencaharian. Bahkan tak akan dibiarkan bertumbuhan tunas-tunas bermekaran”.

Dalam BMG, ASA menunjukkan perlawanannya, dapat dikatakan sastra perlawanan terhadap keadaan yang mengekang dan membungkam. Meski perlawanan melalui gumam ini berhadapan dengan “dengkur berkepanjangan”, namun ada tekad yang kuat untuk terus melawan terhadap orang-orang bebal yang mengarahkan keberadaan manusia dalam kubangan kekacauan eksistensinya. ASA menyatakan, “Kami telah kepalkan tangan, tapi suara kami dibalas dengkur berkepanjangan”, untuk menunjukkan masih adanya kesadaran sebagai individu yang tidak mau terus dikondisikan dalam “bungkam bagian dari kekuasaan, bungkam adalah kesepakatan, bungkam adalah mematikan, bungkam adalah tikamam, bungkam adalah menyingkir dan enyahkan, bungkam adalah berbalik tangan, bungkam adalah memalingkan, bungkam adalam melemahkan”. Ungkapan-ungkapan ASA penuh vitalitas kekiri-kirian, yang mengosong tema pembebasan dari “neraka adalah orang lain” dengan cara melawan manusia (orang lain) yang dikatakan ASA, “berasal dari racun yang menetes di awan-awan”, yang menjelma dalam berbagai bentuk hingga “jadilah ia sebagai pembungkam segala kehendak”.

Berbagai fenomena pembungkaman tertangkap melalui BMG, seperti perilaku orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk membungkam. ASA memandangnya, “Sementara ada yang saling berebut naik ke atas podium masjid untuk mendapatkan kabel-kabel mikropon serta alat memantulkan kebesaran diri mereka, saling berebut untuk mendapatkan corong-corong”. ASA memberontak, “Kami telah tergusur dari tempat tinggal kami sendiri, tanah kami telah ditumbuhi gedung-gedung, sawah kami telah bersemi menara-menara, ladang kami telah penuh dengan swalayan toserba kotak-kotak kaca pameran”, yang sebagiannya digiring melalui corong-corong yang diperebutkan tersebut.
Dalam BMG nampak ASA yang radikal, yang kiri, yang individualis, yang pemberontak, yang begitu bersemangat berupaya mendobrak pembungkaman atas keunikan individu dan situasi hidupnya. Dibandingkan dengan ketiga buku Gumam Asa terdahulu, BMG menunjukkan sosok ASA yang penuh semangat pembebasan dan perlawanan terhadap bentuk-bentuk yang menghilangkan kebebasan seseorang. Ada semangat eksistensialis dalam BMG, dalam pemikiran tentang kebebasan manusia, sebagaimana secara gamblang terungkap di bawah ini.

“Kerja sebuah gergaji adalah sistem bergerak untuk menjadi terpisah, menjadi berseberangan, saling berhadap-hadapan. Sama-sama merasakan luka berkepanjangan, luka dari bungkam mata gergaji. Sakit yang dirasakan bersama-sama. Luka untuk bersama-sama. Bila ada satu mata gergaji maka ia akan diikuti oleh gerak mata gergaji yang lain. Sistem, sebagai tameng ampuh dalam mempertahankan, sistem sebagai tameng untuk menyerang. Sedangkan kerja sebuah gergaji adalah sebagai pemisah. Untuk apa persatuan, bila di dalam sistem persatuan itu sendiri ada pihak dominan karena sikap ketidak-adilan yang diberlakukan. Untuk apa persatuan bila cara kerja bungkam mata gergaji terlalu sering menyakitkan, selalu memamerkan bentuk-bentuk keculasan, selalu mempertontonkan bahwa yang seharusnya dilindungi ternyata dijadikan tumbal berbagai kekuatan, sebagai korban kekuasaan, di semua bidang, karena bungkam mata gergaji menciptakan sesuatu yang sepotong-sepotong, terpisah-pisah, terpecah-pecah”

Selanjutnya baca disini

WACANA KITA: AKTIVITAS SASTRA DAN SASTRAWAN

Catatan Dimas Arika Mihardja


Ada dua forum sastra yang akan dihelat di Indonesia sebagai wujud aktivitas sastra dan sastrawan. Kedua forum sastra itu ialah Pertemuan Penyair Nusantara V (PPN V) di Palembang dan Temu Sastrawan Indonesia IV (TSI IV) di Ternate. DAKAH? Ini sebuah pertanyaan yang mengemuka di Grup Temu Sastrawan Indonesia IV dan berbagai kegelisahan yang Dua forum ini tentu saja merupakan representasi dinamika aktivitas sastrawan dengan karya sastranya. Siapa pun yang menjadi panitia atau tuan rumah penyelenggaranya, tentulah memiliki konsep rencana, visi dan misi untuk bertekad kuat menyukseskan agenda acaranya. Kedua forum sastra ini bagaimana pun juga memiliki makna penting sebagai representasi geliat sastrawan Indonesia dan nusantara. Kedua forum sastra ini perlu didukung untuk kesuksesan penyelenggaraannya.

Sekedar menyampaikan informasi secara akurat dan bermaksud memberikan dukungan kepada kedua panitia event sastra ini, terlebih dulu saya akan menghadirkan informasi terkait dengan hajatan sastra itu. Saya mulai dengan mengkopipaste informasi dari panitia Temu Sastrawan Indonesia IV di Ternate seperti berikut ini:

Kepada

Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara:

Dengan Hormat,

Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Indonesia-4 akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara, pada 25-29 Oktober 2011. TSI-4 bertema “Sastra Indonesia Abad ke 21, Keragaman, Silang Budaya dan Problematika”. Adapun kegiatan TSI-4 ini meliputi Seminar, Musyawarah Sastrawan, Penerbitan Antologi Sastra, Panggung Sastra, Pameran/Bazar/Launching Buku, Workshop dan Wisata Budaya.

Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara untuk mengirimkan karya dengan ketentuan sebagai berikut:

A. Puisi :

- lima (5) buah puisi karya asli yang ditulis dalam tahun 2011

- belum dipublikasikan ke media mana pun

- Biodata maksimal 10 baris

- diemailkan ke : puisi.tsi4@gmail.com

B. Cerpen :

- tiga (2) buah cerpen karya asli yang ditulis dalam tahun 2011

- belum dipublikasikan ke media mana pun

- panjang cerpen berkisar 5 halaman sampai 10 halaman kwarto (600 Kata)

- memakai font times new roman size 12

- Biodata maksimal 10 baris

- diemailkan ke : cerpen.tsi4@gmail.com

Pengiriman karya dapat dilakukan sejak: 23 Maret 2011 – 23 Juli 2011. Bagi sastrawan yang karyanya lolos seleksi Dewan Kurator TSI-4, akan mendapat undangan resmi dari panitia TSI-4 dan honorarium tulisan.

Panitia akan menyediakan penginapan (akomodasi), makan-minum (kosumsi) dan transport lokal selama kegiatan berlangsung, uang lelah dan cinderamata. Mengingat keterbatasan dana, maka kami mohon maaf tidak bisa menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke tempat tujuan (pp).

Atas perhatian, kerja sama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Ternate 21 Maret 2011

Salam Takzim,

Panitia Temu Sastrawan Indonesia 4

Ternate 2011

Sofyan Daud Dino Umahuk

Ketua Pelaksana Sekretaris

Kemudian saya tampilkan informasi dari panitia penyelenggara Pertemuan Penyair Nusantara (Anwar Putra Bayu) seperti berikut ini:

Panitia banyak menerima email dan pesan inbox Facebook yang intinya ingin ikut dan berpartisipasi dalam acara PPN V, untuk itu silahkan saja mengirimkan tiga buah puisi dengan tema bebas serta biodata ke dekasumsel@gmail.com, cc:ahmadun.yh@gmail.com, isbedyst@yahoo.com, dan anwarputrabayu@gmail.com. Pengriman karya tersebut selambat-lambatnya kami terima pada 30 April 2011. Puisi-puisi yang nantinya masuk antologi akan diikutsertakan dalam acara dan diberitahu kemudian via email. Selain itu, bagi teman-teman yang sudah menerima surat undangan kami nantikan kiriman puisinya selambatnya tgl. 30 April 2011. Terima kasih atas perhatiannya.

Perlu pula saya tambahkan informasi dari salah seorang Dewan Kurator PPN V (Isbedy Stiawan ZS) terkait hajatan PPN V Palembang sebagai berikut:

Selasa, 29 Maret 2011

SEMINAR INTERNASIONAL PUISI NUSANTARA

Latar Belakang

Pertemuan Penyair Nusantara adalah sebuah even sastra yang diselenggarakan setiap tahun. Tahun 2011 ini merupakan pertemuan ke-5, yang akan diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS), 17--20 Juli 2011 di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia.

Sebagaimana tradisi pertemuan penyair nusantara sebelumnya, diisi oleh kegiatan baca puisi, peluncuran buku puisi, pameran buku sastra, wisata budaya, dan kegiatan seminar selalu tetap menjadi bagian yang terpenting dalam mata acara PPN. Seminar PPN V di Palembang ini akan melihat pertumbuhan serta perkembangan perpuisian terkini di masing-masing wilayah nusantara.

Perjalanan sastra, khususnya puisi di setiap negara dan bangsa tentunya memiliki problema sendiri-sendiri, yang bersentuhan dengan karya, media, penerbitan, kritik, dan lain-lain yang menyertainya. Keanekaragam persoalan itu menjadi sebuah perbincangan, bahkan perdebatan yang diharapkan menghasilkan jalan keluar yang positif bagi keberlanjutan kehidupan perpuisian di masing-masing wilayah.

Setidaknya, seminar yang menjadi rangkaian kegiatan PPN V ini diharapkan sebagai upaya membuka jalan guna membagikan dan mengapresiasikan ungkapan manusia dari keberagaman budaya, bangsa, etnis, dan ideologi. bangsa atau negara. Selain itu, diharapkan menjadi jembatan persaudaraan dan kebersamaan untuk mengenal lebih dekat tradisi serta sistem sastra setiap bangsa atau negara.

Tujuan

Seminar Internasional ini memiliki tujuan antara lain:

a. Mengkaji dan memerikan kekayaan pemikiran dan wawasan dalam rangka melihat gambaran puisi nusantara mutakhir.

b. Menggali khazanah makna dan nilai yang terkandung di balik puisi nusantara mutakhir guna penguatan karakter dan jati diri bangsa.

c. Membangun jejaring penyair, pemerhati, pengkaji, dan pelestari puisi nusaantara.

Tema

“Potret Puisi Nusantara Mutakhir”

Pokok Bahasan:

a. Estetika dan gaya puisi nusantara mutakhir.

b. Ruh dan ideologi puisi nusantara.

c. Perluasan media puisi, dari media cetak ke media digital.

d. Orientasi, komitmen, dan pengaruh media terhadap pertumbuhan puisi

e. Model pengajaran puisi yang ideal.

f. Menggairahkan kembali tradisi kritik puisi

Pemakalah Utama

Prof. Dr. Budi Darma, Prof. Dr. Abdul Hadi, WM, Dr. Taufik Ismail, Dr. Tarech Rasyid, Drs. Ahmadun Yosi Herfanda, Chavcay Syaifullah (Indonesia), Prof. Muhammad Haji Salleh, Ph.D, Dato Dr. Ahmad Kamal Abdullah (Kemala), Prof. Dr. Mohammad Saleh Rahamad, Rahimidin Zahri, Prof. Irwan Abu bakar (Malaysia), Dr. Razak Pandangmalam, Dr. Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan (Thailand), Dr. Zefri Arrif, Suip bin Hj. Abd. Wahab, Mohd. Shahrin bin Haji Metussin (Brunei Darussalam), Dr. Suratman Markasan, Putra Kikir, Djamal Tukimin (Singapura)*

Selanjutnya baca disini

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI