Selasa, 18 November 2008

Antologi Terbaru



Antologi Puisi Penulis Muda Lintas Propinsi 2009


WAJAH DEPORTAN

Juga ketika mereka duduki tanah leluhur ini
Kita tidak diberi pilihan lain
Selain mencoba bertahan

Dan ketika mereka adakan penggusuran
Kita tidak diberi pilihan lain
Selain terus berjaga

Tapi ketika mereka mulai main pukul
Kita tidak diberi pilihan lain
Selain berkeras melawan
Nama-nama penulis muda yang masuk seleksi untuk antologi lintas propinsi 2009:

andri mirwan fachri (jasinga, bogor-jabar)
ansori barata (jambi)
ashmasyah timutiah (tasikmalaya, jabar)
capung dewangga (kebumen, jateng)
chairan hafzan yurma (jambi)
dahlia rasyad (palembang, sumsel)
dian hardiana (bandung, jabar)
dian hartati (bandung, jabar)
duhita ismaya arimbi (palembang, sumsel)
eko putra (musi-banyuasin, sumsel)
esha tegar putra (solok, sumbar)
fadhila romadhona (payakumbuh, sumbar)
fina sato (subang, jabar)
fredy s. wowor (minahasa, sulut)
hajriansyah (banjarmasin, kalsel)
heri maja kelana (majalengka, jabar)
hudan nur (banjarbaru, kalsel)
husnul khuluqi (tangerang, banten)
irvan mulyadie (tasikmalaya, jabar)
jefta herman atapeni (rote, ntt)
koko p. bhairawa (pulau belitung,babel)
lupita lukman (kota bumi, lampung)
mahwi air tawar (sumenep, madura)
miftahuddin munidi (mataraman, kalsel)
moh. fahmi amrulloh (jombang, jatim)
m. mus’ab al-maliki (banjarbaru, kalsel)
m. nahdiansyah abdi (banjarmasin, kalsel)
mustadi (pontianak, kalbar)
pinto anugrah (tanah datar-sumbar)
ramayani (jambi)
sarabunis mubarok (tasikmalaya, jabar)
shah kalana al-lailla haji (kutai, kaltim)
sigit bagus prabowo (banjarbaru, kalsel)
sunlie thomas alexander (kaliurang, yogjakarta)
udo z. karzi (kotawaringin barat, kalteng)
wayan sunarta (denpasar, bali)
wuri handayani putrid sutoro (samarinda, kaltim)
zurriyati rosyidah (mandiangin, kalsel)

Senin, 03 November 2008

Syair-Syair



SEPULUH SYAIR JAHILIAH

I

ai katak

anak katak dan katak

berbasuh basuhlah

sendimu

di air di telentangmu

di tanah di telungkupmu

II

Bangsat, jangan lagi

masygul menggoda bual kibulan penyakit ayan

baitil haram baitil makdis

baitil haram

baitil khayal

IV

inilah pantun Quraisyi

bau jamur belulang mati

membelah bumi

langit terkeping jadi

lapis tujuh kali

inilah ganggang berapi

membuhul bintang dini

ketipung berdentam di dada lelaki

pada nikmat mimpi membenam

rintihan betina

menguap dari tanah

dri tumit perut sampai dahi

lalu itu

rambut

sapulah dengan tanah sejeput

barulah sepi

tartibi

V

demi tuhan kami

yang terbuat daripada buah korma

atau buah anggur yang dijemur

kering jadi kismis taupun adonan

gurih bagai paha betina

wahai anggur bagai dendang

si inang

jangan dipantang

reguklah sampai putus otak

pecah perut

ya selama

tuntaslah piker

duka mubazir

VI

tak usah di gurun sinai

di sini tuhan dibikin sendiri

dari keringat kuda

dari tanah atau buah tuffah

apa saja

gombal tua punjadilah

tuhan baik tuhan kibuli

dibumbui

dengan samin dn keturi

cukup buat menohok tamahak

bertobat sambil mengunyah

tuhan

VII

betina

betina

kakitangan aib

sampah jumud

tumpuan najis

sumber onar dan fitnah

pembuat garagara dlam perkara

warisan

demi lata dan uzah

kuburlah mereka

VIII

pesta pora kaum beradat

quraisy tingkat derajat

beradu piala

bekas tempurung kepala

lawan lawan kita

darah membuih hidup membuih

bagai anggur sejati

hanyut dendam dalam perang

irama gendering merangsang

syahwat

melonjak ke ujung pedang

piala darah anggur dan betina

alun kasidah

melecut malam

membenam

legam

IX

Adu Dardah

tukang ratubah

mari kita bikin janji

la bedawi

atau pinggul penari

pundi pundi berisi mimpi

perawan bulbul

bani makbul

X

sendagurau

musim kemarau

gurun membara

terpanggang kita bagai madzbi

berbumbu darah dn airmani

demi Musailamah

raja diraja kata berhikmah

ulurkan umur ke dalam guci

gantung sesumbar para pemberani

di keempat dinding ini

jengkal demi jengkal

guci demi guci

tanah ini

Perlu Diperhatikan



“MALALAR”: DARI ENSIKLOPEDI, LABIRIN KAMPUS UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT SAMPAI ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN

Prolog

Tulisan ini ditulis oleh seorang icebreaker dan belum banyak pengalaman. Maaf bila ada kecaman kurang etis, maklum masih muda…

Musabbab Representative

Ada analogi yang akan saya explore mengenai ‘kasus’ representatifnya sebuah hal. Beberapa minggu ini tengah terjadi pengadilan terhadap satu karya yang dinilai tidak layak oleh element yang bernotaben di dunia sastra. Sah-sah saja. Sekarang yang menjadi persoalan ketika pengadilan digeber adalah ‘dalih terdakwa’ mengapa dalam buku ensiklopedi tersebut hanya mencantumkan beberapa sastrawan saja? Barangkali ada alasan tertentu. Sebab sebuah pengadilan akan dikatakan legal ketika menghadirkan terdakwa, pengacara, jaksa dan hakim! Bukan begitu?

Betapapun, sebagai insan sastra yang mengusung keberagaman sebagai tolok ukur apresiasi terhadap karya yang pernah hadir dalam memenuhi cakrawala pikir, analitis dan berdaya nalar kritis maka buku tersebut perlu dikaji ulang atau istilah populer yang sering saya dengar dalam persidangan; PK alias penianjauan kembali sehingga edisi revisi bisa berterima.

Lanjut, mengenai representatifnya sebuah karya dan komunitas baik yang berskala lokal, nasional ataupun internasional masih bersifat nonsense. Mengapa demikian? Semua komunitas yang ada dimana pun berada kerap menanggalkan keberagaman dan memakai ‘jaket kesepemahaman’ saja. (mungkin) Bekerjasama dengan insan yang tidak cooperative malah menimbulkan konflik internal organisasi saja. Kalau tidak bisa dibina maka dibinasakan atau kalau tidak beres, kudu dibereskan saja! Demikianlah, aliran yang difusi oleh komunitas atau instansi seni seantero negeri. Apa buktinya? Lihat pergerakan insan sastra yang berdiri dua blok di pulau seberang atau lahirnya insan komunitas-komunitas yang mengaku berdedikasi tinggi. Mengaku menaungi element bidang tertentu, tapi nyatanya omong kosong belaka. Atau kita lihat juga karya-karya antotologi yang bersliweran tak jelas niatnya. Ada banyak antologi yang ditemui berkaliber se-Indonesia tapi isinya? (Haha)

Nilai apresiasi karya sastra dan maknanya sudah bergeser! Loyalitas diri sebagai insan yang beretika sastra berubah menjadi popularitas-dan haus sanjungan. Apakah ini yang bernama manusia bermartabat?

Sebagai mahasiswi yang mengusung tri dharma perguruan tinggi, hal serupa juga terjadi di perguruan tinggi tempat saya belajar, kasus mafia pendidikan merajela berdalih mensejahterakan kader penerus bangsa—ee.. ternyata sekarang niatan itu sudah digerogoti tikus. Begitu juga senat, kaum cendikia dan jajaran elite kampus seperti BEM, UKM, UKMF yang sedang asyik-asyiknya membangun benteng kehormatan untuk tujuan kelompok. Mereka akan membinasakan kelompok atau individu yang tidak sejalan dengan niatannya. Sebut saja, INTRO (yang mengaku menaungi dunia tulis menulis mahasiswa) kemana dikau berada sekarang? Di makan kutu busuk atau bagaimana? Sebab kaum rektorat yang terhormat dan segenap element, para dekan dan praktisi pendidikan yang pandai menjilat sudah beralih kiblat! (Mudah-mudahan para cecunguk itu dan segenap musuh-musuh saya membaca tulisan ini!

Pada akhirnya tidak ada yang riil menyokong keberagaman dengan tajuk yang bagaimanapun. Mari kita lihat, aparatur kesenian: Dewan Kesenian Propinsi Kalimantan Selatan, tak ada guna berarti yang bisa kita dukung selain keluhan. Bukan demikian?

Akhiri Saja Kegiatan Aruh Sastra!

Begitulah. Jika ada oknum yang menampik senarai himbauan ini ialah dia, kelompok dan individu yang menyimpan muslihat kepentingan saja!

Hal ini beralasan, kegiatan aruh sastra yang secara berkala diadakan setiap tahun tak memberikan hasil yang berarti. Kalaupun ada komunitas yang baru bercokol, itu bukan karena status quo Aruh Sastra tapi inisiatif dan sumbangsih moral untuk membuka diri dalam menunjukkan eksistensinya sebagai kaum intelektual di bidang sastra. Tidak lebih. Kita pahami juga, aruh sastra hanyalah anjangsana pelepas kangen-kangenan yang isinya (lebih) mengenang ke masa lalu. Sebagai contoh: Aruh Sastra di Amuntai tahun lalu, ajang diskusi yang diangkat tidak terlalu booming bahkan temanya biasa-biasa saja. Tidak ada hal baru yang greget. Kalau memang aruh sastra bertujuan mencerdaskan atau mensosialisasikan hal baru tidak demikian. Bahkan berkali-kali tidak hanya diskusi yang didaulat oleh panitia Aruh Sastra, tetapi praktisi pendidikan sastra, dan Balai Bahasa selalu memberikan suguhan yang sudah dikonsumsi terlebih dahulu oleh insan sastra (dibaca: hampir basi).

Secara pribadi, saya mencium ketidakberesan akan pelaksanaan aruh sastra terlebih beberapa tahun terakhir ini. Masalah klasik! (dibaca: financial) perlu digaris bawahi bahwa Aruh Sastra ini bukanlah kegiatan Event organizer atau Production. Kegiatan ini bermula dari kesucian niat dalam rangka membumikan ranah lambung mangkurat dengan kesusastraan bukan kepentingan pribadi!

Kalau nawaitunya sudah menyimpang, buat apa dipertahankan? Dalam forum pleno, saya sering menyarankan kepada presidium sidang:”Buat apa mempertahankan badan yang kerangkanya sudah dipenuhi kemunkaran, Bubarkan saja!”[]

Anggaran Dasar FORKOTEB

ANGGARAN DASAR
FORUM KOMUNIKASI TEATER BANJARBARU

MUKADIMAH

Bahwa kecintaan teater sudah mendarah daging di kota Banjarbaru. Teater makro kembang kempis dan perlu diadakan pembaharuan untuk bisa berkesinambungan. Maka perlu suatu wadah yang bisa menaungi seluruh element yang berkecimpung langsung di dunia keteateran sekaligus sebagai mobilisasi akan keberlangsungan hidup baik teater yang bersifat tradisi atau modern atau perpaduan antara keduanya.

BAB I
NAMA, WAKTU, DAN TEMPAT KEDUDUKAN DAN IDENTITAS
Pasal 1 Nama
Organisasi ini bernama Forum Komunikasi Teater Banjarbaru yang disingkat FORKOTEB
Pasal 2 Waktu dan Tempat Kedudukan
FORKOTEB didirikan pada tanggal 7 September 2008 di Banjarbaru, untuk waktu yang tidak ditentukan dan berkedudukan di Banjarbaru.
Pasal 3 Identitas
FORKOTEB adalah organisasi yang bersifat Independen dan Kekeluargaan.

BAB II
A S A S
Pasal 4 Organisasi ini berasaskan Pancasila dan UUD 1945

BAB III
TUJUAN, USAHA DAN FUNGSI
Pasal 5 Tujuan
Terbinanya insan Teater yang kreatif dan produktif.
Pasal 6 Usaha
Segala jenis usaha yang tidak bertentangan dengan angaran dasar dan anggaran rumah tangga FORKOTEB.
Pasal 7 Fungsi
FORKOTEB berfungsi sebagai forum pembinaan kreatifitas, pembinaan intelektualitas, pembinaan mental, serta pembinaan kepribadian.

BAB IV
KEANGGOTAAN
Pasal 8 Keanggotaan
a. Yang dapat menjadi anggota FORKOTEB adalah komunitas-komunitas yang berdomisili di Banjarbaru dan sekitarnya, yang ditetapkan oleh pengurus.
b. Keanggotaan terdiri dari :
• Anggota Biasa
• Amggota Khusus
• Anggota Kehormatan

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI
Pasal 9 Kekuasaan
Keputusan Tertinggi dipegang oleh musyawarah anggota.
Pasal 10 Kepemimpinan
Kepemimpinan Organisasi dipegang oleh anggota khusus.
Pasal 11 Badan-badan Khusus
Untuk melaksanakan tugas khusus dan kewajiban dalam bidang khusus, dibentuk badan-badan khusus.

BAB VI
PERBENDAHARAAN
Pasal 12 Harta benda FORKOTEB
Usaha – usaha yang sah serta tidak bertentangan dengan anggaran dasar dan rumah tangga Forkoteb.

BAB VII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PEMBUBARAN
Pasal 13 Perubahan anggaran dasar dan pembubaran organisasi hanya dapat dilakukan oleh anggota khusus.
Pasal 14 hal-hal yang tidak termasuk dalam anggaran dasar akan dimuat dalam peraturan-peraturan atau ketentuan-ketentuan tersendiri yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar FORKOTEB.


Ditetapkan dalam musyawarah Anggota Khusus FORKOTEB di Banjarbaru Pukul 23.00 WITA
Pada tanggal 11 September 2008




Ketua



Yuqda Kahfi Annur

Puisi Basa Banjar


“BANJARBARU: ARIA MALINGKAN”

Kami barataan mahing banar pahatiannya

Kada kawa dilantur-lantur mahabarakan kahandak raja

Bahungkau pangawal kaamanan nitu

Ulih pangawal, disurung pulang jukung ampun urang

Kampung biasa

Rahatan manugal piduduk ka arah buhulan pitung

Burungan umpan gasan rakyat samunyaan

Ulih Aria Malingkan, pidudus manyirau ka arah

Pambanyuan

Mahidupi sasinggam barakat hidup dilintuk nista

Manyaurangan

Imbah nitu, jukung mamudiki sungai ampah ka

Tangga Hulin nang baisi talu ikung pangawal

Kaamanan nitu

Puluhan tahun imbah nitu, api-api karujingan

Manatar pilar suluh di balambika gunung apam

Kitar-mangitari burungan-burungan panjaga nasib di masa isuk

Nu kahadapan gugus Negara subalah

Manikam suara anak-anak pipitan di lindai

Hari mandatang



PIRUKAT LAWAN KATUMBAR

(Adaptasi karya Syamsiar Seman)

PARUDAN

Nang andaknya di hulu sungai batang banyu

Ada si galuh bagana wan umanya nang sudah satangah tuha

Tagal masih tatinggal gawian maulah minyak lalapirukat wan katumbar

Wan pahumaan pitung burungan

Kindai hibak wan banih-banih, wayah kindai nitu

Limpuar lawan padaringan baras sambil manutuk

Di lasung pijak maulah baras

Mun kawa basindakap

Kuantar malimbui ka buluh-buluh panyabaran umanya

Tagal masih disyangi ulih umanya balalu rancak

Babuhau

Nasi wan iwak babarang kada diapiki-diipii

Pina kada basyukur wan Allah siang nitu

Kahandaknya daging hayam tatrusan. Nasi tahamburan

Dibibiti gasan umpan hayam.

Wayah malam harinya, Galuh tamimpi

Bahindau pirukat wan katumbar manggampirinya

Inya marasa dihahamburakan, di buang-buang

Manangisan

Balalu handak tulakan ka langit

Galuh manangis…

Mangitai wan maingati balalu kalakuan buhaunya

Pemenang Lomba Baca Puisi 2 November 2008


Pemenang Lomba Baca Puisi Peringatan 10 November menyisihkan 104 peserta yang lain dari kiri (Eka Zulma, Andri Rifai, Ogi Fajar Nuzuli, Isuur Loeweng dan Arif, M.S)

Hasil Lomba Puisi 2 November 2008

HASIL LOMBA BACA PUISI DI MUSEUM LAMBUNG MANGKURAT

AUK-Komunitas Pecinta Seni Banjarbaru telah menggelar lomba baca puisi dalam rangka mengenang 10 November pada 2 November 2008 di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Pada kesempatan kali ini, peserta yang ikut dalam satu kategori untuk umum (siswa, guru, mahasiswa, dosen, seniman dan sastrawan) adalah 104 orang. Namun yang diambil sebagai pemenang hanya Juara I, II, III dan Harapan I. adapaun para pemenag tersebut adalah; Andri Rifai, Arif M. S, Isuur Loeweng dan Eka Zulma. Masing-masing pemenang mendapatkan piala, piagam penghargaan, uang pembinaan dan bingkisan menarik dari panitia. Acara ini didukung penuh oleh Dewan Kesenian Kota Banjrabaru dan Pemerintah Kota Banjarbaru. Bahkan setelah dewan juri mengumumkan pemenang (Arsyad Indradi, Ali Syamsuddin Arsy dan Rudi Karno), Ketua Dewan Kesenian Kota Banjarbaru turut serta dalam pembagian hadian dan menghimbau agar panitia mengagendakan Workshop Pembacaan Puisi karena dinilai oleh dewan juri para peserta masih blum tahu bagaimana membawakan puisi yang baik dan benar sesuai dengan interprestasi dari puisi yang dibawakannya. Teamwork AUK; Hudan Nur, Dian Arlika, Riza Fahlivie, M. Yusry Wahyudi dan Miftahuddin Munidi bersepakat akan melaksanakan kegiatan tersebut pada awal tahun 2009.

Sabtu, 01 November 2008

Antologi Puisi Terbaru

Sebentar Lagi Antologi Terbaru
"Malaikat Hutan Bakau" Akan diluncurkan
Pertengahan November Ini Tentunya


On Air di Swara Idaman FM


Beberapa Anggota Teras Puitika Ikut Siaran
Setiap Kamis Malam Pukul 20.00-22.00 WITA

Jumat, 31 Oktober 2008

Pasca Tadarus Puisi

CATATAN MALAM TADARUS PUISI DAN SILATURRAHMI SASTRA 2008

TAHUN ini sudah kelima kalinya Banjarbaru mengadakan ritual tadarus puisi dan silaturrahmi antar seniman, sastrawan dan pencinta sastra. Kalau kita runut ke belakang pada tahun 2004, istilah tadarus puisi ditawarkan oleh saudara Sandi Firly yang kemudian diamini oleh forum rapat pada waktu itu. Kegiatan ini akhirnya terus berjalan sepanjang ramadhan dan nampaknya sudah menjadi brand mark-nya kota Banjarbaru. Kalau tahun kemarin mengangkat tema in memoriam penyair Jafry Zamzam, namun tahun ini lebih mengapresiasi kepada dedengkot penyair; Eza Thabry Husano dan Hamami Adaby.

Pada malam itu peluncurun antologi puisi Hamami Adaby; Di Jari Manismu Ada Rindu, cukup menyita perhatian hadirin. Tidak hanya itu ada beberapa antologi yang juga diberikan secara cuma-cuma kepada undangan antara lain; Garunum, DIMENSI dan Kaduluran. Sosok Hamami Adaby termasuk penyair yang sangat produktif. Dalam hitungan bulan, ia mampu menyelesaikan antologi puisi dan diterbitkan sendiri secara manual. Luar biasa sekali apalagi bagi orang yang seumuran beliau.

Sayangnya, antologi puisi Eza Thabry Husano yang terbaru tidak dapat diluncurkan bersama karena pada tanggal 20 September 2008 baru selesai cetak. Padahal masing-masing antologi Hamami Adaby dan Eza Thabry Husano memuat seratus judul puisi. Mungkin dalam waktu dekat peluncuran itu akan dilaksanakan secara terpisah.

Moment Tadarus Puisi

Inilah suspense yang sebenarnya menjadi benang merah dalam kegiatan tersebut. Meski secara keseluruhan jumlah peserta yang datang jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Ada tiga ratus undangan yang hadir dari daerah kabupaten dan kabupaten kota se-Kalimantan Selatan. Beberapa tokoh tampak pada malam itu antara lain; Ibramsyah Amandit, Tajuddin Bacco, Adjim Ariady, Wijaya, Arsyad Indradi, Yuniar M Ary, Dewa Pahuluan, Fitran Salam, Rifani Djamhari, Qinimain Zain, Hajriansyah, Nahdiansyah Abdi, Sirajul Huda, Ali Syamsuddin Arsi, Abdurahman El Husaini, Sandi Firly, Shah Kalana Al-Laila Haji, Harie Insani Putra, Isuur Loeweng, Andi Sahludin, Edi Sutardi, Aliansyah J dan lain-lain. Begitu juga sanggar-sanggar seperti; Sanggar Budaya, CL4551C SMA Negeri 1 Banjarbaru, Front Budaya Godong Kelor Indonesia, HIMASINDO, WOW, Matahari, KOMPI Kalsel, Enigma Community, Forum Komunikasi Teater Banjarbaru (FORKOTEB), Teater Banjarbaru, Teras Puitika,dan lain-lain. Tampak hadir juga undangan dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) cabang Banjarmasin dan Banjarbaru.

Tetapi, acara tadarus puisi ini tidak berjalan sesuai namanya. Kenapa? Kata tadarus memiliki arti membaca, mengulang dan mandarasi. Tadarus puisi berarti tidak lebih dari istilah qiraat puisi. Nah, yang lebih menonjol bukannya pembacaan tersebut melaintan tampilan-tampilan teater. Malah ada banyak undangan yang tidak kebagian waktu untuk membaca puisi karena satu dan lain. Tidak hanya itu; musikalisasi puisi, nasyid dan dramatisasi puisi juga demikian. Cukup menyita waktu dan mungkin menjemukan penonton!

Ini menjadi masukan penting panitia untuk pelaksanaan tadarus puisi berikutnya. Komposisi qiraat puisi harus lebih diutamakan daripada tampilan-tampilan kelompok.

Suasana Silaturrahmi Sastra

Kembali kepada makna istilah silaturrahmi, menyambung ikatan yang pernah ada namun pernah putus.

Benarkah ada ikatan yang terputus? Antar siapa dengan siapa? Atau kelompok mana dengan kalangan mana?

Hanya saja suasana membaur dapat dirasakan pada nuansa sastra tersebut. Tetapi yang menjadi perhatian adalah para undangan yang hadir. Tidak di acara yang berskala lokal, nasionalpun bahkan internasional barangkali ajang yang bertajuk kumpul-kumpul sastra atau penulis malah menjadi tempat ngobrol antar individu dan antar kelompok. Mungkin keterbatasan kesempatan untuk pertemuan tersebut hingga harus saling melepas kangen-kangenan dan tidak fokus pada acara yang disuguhi di atas panggung. Bahkan pembacaan-pembacaan puisi tidak disimak lagi; yang dipanggung asyik teriak-teriak sedang yang lain asyik berbincang-bincang tentang apa saja. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kegiatan yang juga diadakan semalam sebelum kegiatan tadarus puisi ini. Ada Mr. GAM (Gatah asli Marikit) dari Hulu Sungai Tengah yang bakisah tentang cerita yang kalau dipikir-pikir tidak koheren. Tetapi para penonton yang hadir di taman air mancur tersebut sangat antusias dan memperhatikan dengan seksama kata demi kata yang disampaikan oleh Mr. GAM tersebut. Memang yang hadir bukan seniman atau kelompok sastra.

Kalau memang kita punya apresiasi terhadap sastra, seharusnya apa yang disuguhi di atas panggung dapat dimaknai juga diperhatikan.

Tetapi, betapapun tahun ini tadarus tetap lebih meriah dan berhasil banyak menyedot perhatian pengunjungnya. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik lagi[]

Sabtu, 25 Oktober 2008

Lomba Baca Puisi InMemoriam 10 November

KATEGORI LOMBA
Lomba Baca Puisi Tema Kepahlawanan terbuka untuk umum (mahasiswa, dosen, guru, komunitas seni, sanggar teater, siswa(i) sekolah baik pria maupun wanita) Se Banjarmasin-Banjarbaru-Martapura

KEGIATAN LOMBA
Lomba dilaksanakan pada tanggal 2 November 2008, Minggu. Bertempat di Auditorium Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru (Pukul 08.00 WITA - Selesai)

PENJURIAN
Lomba baca puisi tema kepahlawan tahun 2008 mempunyai sistematika penilaian seperti lomba-lomba baca puisi seperti biasanya, antara lain penilaian: Vocal, Mimik, Intonasi, Kontemplasi (penghayatan), Penampilan.

MATERI LOMBA
Setiap peserta hanya membawakan satu puisi yang disediakan panitia yakni: PAHLAWAN TAK DIKENAL (Toto Sudarto Bachtiar), BERDARAH (Sutardji Calzoum Bachri), SELAMAT TINGGAL MANUSIA BUDAK INDONESIA (Hamid Jabbar), KASIDAH KEMERDEKAAN (Eza Thabry Husano), dan NENEK MOYANGKU AIRMATA (D. Zawawi Imron)

PENDAFTARAN
Peserta Lomba diharapkan mendaftarkan diri via sms dengan mengetik REG(spasi)NAMA(spasi)ALAMAT kirim ke 085752242993. Pendaftran ini GRATIS dan terbuka untuk semua kalangan. Pengambilan nomor peserta beserta technical meeting akan dilaksanakan di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru Tanggal 2 November 2008 pada pukul 08.00 - 09.30 WITA (sebelum acara lomba di mulai).

Hadiah Juara I, II, III, Harapan I, berupa Piala, Sertifikat, Uang Pembinaan dan bingkisan menarik akan diserahkan kepada pemenang langsung pada hari itu juga setelah dewan juri mengumumkan para pemenang tersebut.


Informasi Lanjut Silakan Kontak
Event Organizer: Hudan Nur (08125133885)


Olah Gawe bubuhan AUK; Komunitas Pecinta Seni Banjarbaru (Aku Untuk Kamu)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Puisi Shah Kalana Lailla Haji

IBU, ITU PASTI!

aku dikandung

letih

lelah itu pasti

sabar

kau terima

melahirkan aku

sakit

perih itu pasti

ikhlas

kau terima

mengasuh aku

kantuk

pusing itu pasti

ridho

kau terima

membesarkan aku

kesal

marah itu pasti

tenang

kau terima

mendidik aku

panas

dingin itu pasti

gembira

kau terima

kelak,

menikahkan aku

haru

bangga itu pasti

tetes air mata

kau terima

semua kau terima

itu pasti

tanpa minta kembali

kini,

kau pergi

tanpa apa aku

lunasi

dan itu pasti!

2006


INMEMOAR

risau air mata rengatkan senyum mata air tua butir butir derai berurai anak sungai menarak-an telaga kautsar wirid dan zikirku mengantar untuk selamanya kau reguk wangi surga nan sejuk telau balahindang songsong riang men-tasbihkan kemuliaan dunia yang hilang riak terbit barat menantikan seorang tamu tuhan pada lapaknya surga terbentang sayap hangat iringi pasrah bertautlah doadoa dalam langkah dedahkan tangis purba diperhitungan bulan bulan duka dilepas tak pegang pun tidak kem-bang jambu gugur lantak menyerak bumi bau semerbak menghamba pada yang Kul Hak iringkan cahaya ibu cahaya cahaya cahaya itu di kalbu fana fana fanalah diri yang kaku turutkan pada yang satu; Ya Hu dalam tangis seribu rindu rasul aku sandarkan aku sandar-kan diri pada buhul aku takdirkan nasib di tihang ushul pijarpijar mataku di cahaya ruhul hakkul hakkul hakkul risau air mata tua kering kan mata air telaga aku hanyutkan puasa aku larutkan air mata hingga waktu terbentang lebar hutang melahirkan tak kuasa aku bayar walau sejarah tak pernah kau papar dari petang hingga terbit fajar aku lena kasihmu ketika sadar dirimu ibu aku amparkan doa di beledunya pusara duka padami ibu aku pang-gulkan kepergianmu di pundakku yang lemah dan biru aku kuatkan kakiku yang mudah goyah aku bulatkan hatiku yang seing patah dalam tahlil aku sayatkan beribu pohon ampun di keningmu aku sadapkan sebejanasebejana air madu sir kalbu yang tetes di napasmu aku lelahkan langkah air mata ketika tapaktapak senja luluh di cakrawala mengering bibir dari zikir kaffah tibalah waktu berpisah untuk ber-temu di padang mahsyar tempat semua hamba berikrar tak siapa tak siapasiapa semua hamba siasia mengaku diri taqwa yang wara ibu aku titipkan salam pada kekasihmu di sana aku ingin senyum rindunya antarkan harapan yang kelana dirimu ibu kini engkau satu dalam timangnya!

2006

DO’AKU TERKABUL SUDAH

ketika sekali waktu aku berdoa

aku rasa diriku sangat kemaruk dan tamak

lalu,

aku ingin ketenangan

kantuk sedikit datang padaku

aku ingin keakraban

sakit datang padaku

aku ingin terhormat

waktu lima datang padaku

aku ingin amal pahala

batang usia datang padaku

aku ingin taqwa

kesibukan datang padaku

aku ingin iman

besi batu datang padaku

aku ingin islam

sebuah pilihan datang padaku

dan,

aku ingin segalanya dunia ini dariMu

tapi Kau hanya beri aku satu nasihat alamMu

Kau beri tidak yang aku inginkan

tapi Kau tahu itu

walau tampak serakah

do’aku terkabul sudah.

2007

DEFACTO

Seandainya politik itu kejahatan maka;

Misal 1, akan aku buat seperti emas agar jadi arloji biar jamku terlihat tepat waktu dengan janji

Misal 2, akan aku buat seperti berlian agar jadi pulpenku biar terlihat tidak salah saat meneken keputusan

Misal 3, akan aku buat seperti kristal agar jadi kacamataku biar tampaknya dapat melihat jelas aspirasi rakyat

Misal 4, akan aku buat seperti wol dan sutra agar jadi setelan jasku biar orang tidak kira aku sembunyikan borok

Misal 5, akan aku buat seperti kulit agar jadi sepatu dan sarung tanganku biar orang tidak kira aku sembunyikan cakar musangku

Misal 6, akan aku buat seperti dana sosial biar aku terlihat kaya untuk menutupi segala kepelitan dan korup-korupku

Misal 7, akan aku buat seperti karet agar jadi kondomku biar aku dapat memperkosa hak-hak rakyat tanpa kebocoran

Seandainya politik itu kebaikan maka;

Tak bisa aku bayangkan yang lain kecuali cuma satu misal, akan aku buat seperti sabun cuci agar jadi pembersih WC dan cebokku biar kamar kecil, alat kecil dan lubang kecilku bersih dari taik dan bau!

2006

ANAK SI MISKIN DAN AYAM GORENG TETANGGA

aduh mak perutku lapar

tadi aku lihat tetangga potong ayam

sekarang aku mencium wanginya mak

aduh mak harumnya

apa kita akan diberi sepotong dua

nantinanti beli ayam juga ya mak

aduh mak suaranya

enaknya kalau dimakan lagi panaspanas

dengar dengarkan suara gorengannya

aduh mak aku tidak bisa tidur

nantilah aku tidur kutunggu saja

siapa tahu tetangga ingat kita mak

aduh mak baunya

bila saja tetangga tahu kita bangun

bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya mak

aduh mak jika bapak ada

bapak bisa bawa ayam terus

kitakita boleh makan besar seperti mereka ya mak

aduh mak mereka makan

kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga

andai saja ada sisanya aku tunggu mak

aduh mak kita tak diberi

lahap sekali tetangga makan

kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa mak

aduh mak anjingnya ikut makan

kenapa ya tetangga lupa sama kita

enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan mak

aduh mak biar aku tunggu

biar saja bekasbekas anjing itu aku tunggu

barangkalai anjing tetangga ingat sama kita mak

aduh mak aku tidak kuat

perutku jadi berbunyi dan liurku menetes

kalau tetangga datang bangunkan aku mak!

1996

Tak Pernah Tuntas

“MALALAR”: DARI ENSIKLOPEDI, LABIRIN KAMPUS UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT SAMPAI ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN

Prolog

Tulisan ini ditulis oleh seorang icebreaker dan belum banyak pengalaman. Maaf bila ada kecaman kurang etis, maklum masih muda…

Musabbab Representative

Ada analogi yang akan saya explore mengenai ‘kasus’ representatifnya sebuah hal. Beberapa minggu ini tengah terjadi pengadilan terhadap satu karya yang dinilai tidak layak oleh element yang bernotaben di dunia sastra. Sah-sah saja. Sekarang yang menjadi persoalan ketika pengadilan digeber adalah ‘dalih terdakwa’ mengapa dalam buku ensiklopedi tersebut hanya mencantumkan beberapa sastrawan saja? Barangkali ada alasan tertentu. Sebab sebuah pengadilan akan dikatakan legal ketika menghadirkan terdakwa, pengacara, jaksa dan hakim! Bukan begitu?

Betapapun, sebagai insan sastra yang mengusung keberagaman sebagai tolok ukur apresiasi terhadap karya yang pernah hadir dalam memenuhi cakrawala pikir, analitis dan berdaya nalar kritis maka buku tersebut perlu dikaji ulang atau istilah populer yang sering saya dengar dalam persidangan; PK alias penianjauan kembali sehingga edisi revisi bisa berterima.

Lanjut, mengenai representatifnya sebuah karya dan komunitas baik yang berskala lokal, nasional ataupun internasional masih bersifat nonsense. Mengapa demikian? Semua komunitas yang ada dimana pun berada kerap menanggalkan keberagaman dan memakai ‘jaket kesepemahaman’ saja. (mungkin) Bekerjasama dengan insan yang tidak cooperative malah menimbulkan konflik internal organisasi saja. Kalau tidak bisa dibina maka dibinasakan atau kalau tidak beres, kudu dibereskan saja! Demikianlah, aliran yang difusi oleh komunitas atau instansi seni seantero negeri. Apa buktinya? Lihat pergerakan insan sastra yang berdiri dua blok di pulau seberang atau lahirnya insan komunitas-komunitas yang mengaku berdedikasi tinggi. Mengaku menaungi element bidang tertentu, tapi nyatanya omong kosong belaka. Atau kita lihat juga karya-karya antotologi yang bersliweran tak jelas niatnya. Ada banyak antologi yang ditemui berkaliber se-Indonesia tapi isinya? (Haha)

Nilai apresiasi karya sastra dan maknanya sudah bergeser! Loyalitas diri sebagai insan yang beretika sastra berubah menjadi popularitas-dan haus sanjungan. Apakah ini yang bernama manusia bermartabat?

Sebagai mahasiswi yang mengusung tri dharma perguruan tinggi, hal serupa juga terjadi di perguruan tinggi tempat saya belajar, kasus mafia pendidikan merajela berdalih mensejahterakan kader penerus bangsa—ee.. ternyata sekarang niatan itu sudah digerogoti tikus. Begitu juga senat, kaum cendikia dan jajaran elite kampus seperti BEM, UKM, UKMF yang sedang asyik-asyiknya membangun benteng kehormatan untuk tujuan kelompok. Mereka akan membinasakan kelompok atau individu yang tidak sejalan dengan niatannya. Sebut saja, INTRO (yang mengaku menaungi dunia tulis menulis mahasiswa) kemana dikau berada sekarang? Di makan kutu busuk atau bagaimana? Sebab kaum rektorat yang terhormat dan segenap element, para dekan dan praktisi pendidikan yang pandai menjilat sudah beralih kiblat! (Mudah-mudahan para cecunguk itu dan segenap musuh-musuh saya membaca tulisan ini!

Pada akhirnya tidak ada yang riil menyokong keberagaman dengan tajuk yang bagaimanapun. Mari kita lihat, aparatur kesenian: Dewan Kesenian Propinsi Kalimantan Selatan, tak ada guna berarti yang bisa kita dukung selain keluhan. Bukan demikian?

Akhiri Saja Kegiatan Aruh Sastra!

Begitulah. Jika ada oknum yang menampik senarai himbauan ini ialah dia, kelompok dan individu yang menyimpan muslihat kepentingan saja!

Hal ini beralasan, kegiatan aruh sastra yang secara berkala diadakan setiap tahun tak memberikan hasil yang berarti. Kalaupun ada komunitas yang baru bercokol, itu bukan karena status quo Aruh Sastra tapi inisiatif dan sumbangsih moral untuk membuka diri dalam menunjukkan eksistensinya sebagai kaum intelektual di bidang sastra. Tidak lebih. Kita pahami juga, aruh sastra hanyalah anjangsana pelepas kangen-kangenan yang isinya (lebih) mengenang ke masa lalu. Sebagai contoh: Aruh Sastra di Amuntai tahun lalu, ajang diskusi yang diangkat tidak terlalu booming bahkan temanya biasa-biasa saja. Tidak ada hal baru yang greget. Kalau memang aruh sastra bertujuan mencerdaskan atau mensosialisasikan hal baru tidak demikian. Bahkan berkali-kali tidak hanya diskusi yang didaulat oleh panitia Aruh Sastra, tetapi praktisi pendidikan sastra, dan Balai Bahasa selalu memberikan suguhan yang sudah dikonsumsi terlebih dahulu oleh insan sastra (dibaca: hampir basi).

Secara pribadi, saya mencium ketidakberesan akan pelaksanaan aruh sastra terlebih beberapa tahun terakhir ini. Masalah klasik! (dibaca: financial) perlu digaris bawahi bahwa Aruh Sastra ini bukanlah kegiatan Event organizer atau Production. Kegiatan ini bermula dari kesucian niat dalam rangka membumikan ranah lambung mangkurat dengan kesusastraan bukan kepentingan pribadi!

Kalau nawaitunya sudah menyimpang, buat apa dipertahankan? Dalam forum pleno, saya sering menyarankan kepada presidium sidang:”Buat apa mempertahankan badan yang kerangkanya sudah dipenuhi kemunkaran, Bubarkan saja!”[]

Senin, 15 September 2008

Godong Kelor



Gundul Jahat: Ketua Umum Godong Kelor Indonesia



Suasana Markas Besar Front Budaya Godong Kelor

FRONT BUDAYA GODONG KELOR


Menilik Kegiatan Front Budaya Godong Kelor Indonesia (Cabang Banjarbaru)

SEMANGAT!

Meski puasa, suasana seni tak pernah hilang dari wajah-wajah penuh harapan: gerombolan anak-anak bawah ketapang. Buktinya bulan puasa begini, mereka tetap intens berkesenian. Setelah tadarus al quran, mereka tetap tak bisa meninggalkan menu wajib harian untuk berkesenian. Ada-da saja yang mereka buat, mulai dari lomba lukis, puisi, dan pagelaran teater. Peminatnya pun luar biasa banyaknya. Kalau boleh saya kalkulasi sekitar lima ratus orang. Saya sebut mereka sebagai gerakan bawah tanah. Tak banyak yang tahu tentang mereka. Padahal Front Budaya Godong Kelor ini sudah mempunyi jaringan mulai dari Aceh, Padang, Medan, Jambi, Jakarta, Bandung, Surabaya, Madiun, Banjarbaru, Martapura, Tanah Bumbu, Barabai, Kandangan, Amuntai, Samarinda, Tenggarong, Kuala Kapuas, Sulawesi dan masih masih banyak lagi. Nah betapa dahyatnya komunitas ini. Informasi yang saya dapat mereka sedang menggarap teater yag berjudul Dari Kosong Kembali Kosong yang akan ditampilkan pada malam tanggal 19 September 2008 di Taman Air Mancur Banjarbaru juga Festival Tanglong pada malam tanggal 20 September 2008[]

TADARUS PUISI


Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra 2008

Tahun ini kembali digeber kegiatan tadarus puisi yang kelima se-kalimantan selatan di Banjarbaru. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan berkutat sekitar pembacaan puisi islami, nasyid, musikalisasi ataupun dramatisasi puisi, teater dan tahun ini akan ada pelelangan baca puisi oleh jajaran muspida, polda kalsel, aktor, sastrawan, seniman Kalimantan selatan yang nama-namanya sudah dipersiapankan oleh panitia. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 19 September 2008. Acara dimulai pada jam 18.00 wita (dengan berbuka puasa bersama), sholat isya dan tarawih berjamaah di seputar taman air mancur Banjarbaru, launching antologi puisi Hamami Adaby, Di Jari Manismu Ada Rindu, Tadarusan Puisi dan sahur bersama. Tema yang diangkat adalah membaca jejak kepenyairan Hamami Adaby dan Eza Thabry Husano. Panitia menyediakan akomodasi (bagi yang mau menginap dari luar kota Banjarbaru) dan konsumsi. Acara ini didukung sepenuhnya oleh: Pemerintah Kota Banjarbaru, MGR, Radar Banjarmasin, Radar Banjar Peduli, Tulus Organizer.

Berminat? (Silakan hubungi panitia ke 08170781239)

TERAS PUITIKA: ON AIR

Teras Puitika: On Air Setiap Kamis Malam di Suara Idaman FM

Oooppss…

NAMA

Banyak sekali kami selaku badan intern di teras puitika menuai kecaman bahwa nama ini seperti mengambil nama komunitas yang ada di Indonesia. Kalau boleh bercerita, sejak tahun 1980an istilah ini dipakai oleh penulis muda; dibidang puisi. Kala itu dihandel oleh Micky Hidayat. Namun dengan berangsurnya waktu, komunitas itu hilang di Kalimantan Selatan. Pada tahun 2008, geliat sastra di Banjarbaru, Banjarmasin dan Kabupaten Banjar (Martapura) Nampak meningkat. Salah satu dari mereka yang sangat giat dalam menulis puisi dan haus kritik yang membangun adalah Andika Dias Baradanu. “Harusnya ada forum dialog yang membedah puisi-puisi kita yang muda-muda ini.” Paparan Andika diamini oleh Ceria Seyoshi yang pada waktu itu juga haus publikasi. Hal senadapun di akui oleh kawan-kawan yang lain antara lain: Kanatoshi Ariwa, Ilalang Musim Kemarau, Black Mania dan Lazuardi Wisnuardi. Maka sepakatlah dibentuknya komunitas teras puitika. Awalnya nama ini bukan teras pusitika, namun setelah Kanatoshi ariwa mengajukan nama, Ceria Seyoshi melalui sms mengusulkan Teras Puitika. Dan tentu saja dia, tak tahu menahu tentang ada tidaknya nama komunitas ini sebelumnya di Indonesia.

KEGIATAN

Tidak ada muluk-muluk. Teras puitika adalah forum dialog, mengupas sastra: puisi seiring perkembangan zaman. Membedah puisi-puisi secara berkala dan mengudara setiap kamis malam di suara Idaman FM. Untuk ke depan akan ada launching karya penulis muda sekaligus sepekan puisi yang akan di gelar pada akhir tahun 2008 ini[]

Minggu, 07 September 2008

FORKOTEB

hudan nur berkata:

FORUM KOMUNIKASI TEATER BANJARBARU (FORKOTEB)



Tak ada yang menduga sebelumnya bahwa pada 7 September 2008, minggu malam terbentuklah forum silaturahmi teater yang akan menaungi komunitas atau sanggar-sanggar teater, khususnya yang berdomisili di Banjarbaru. Mulai dari sanggar sekolah, komunitas independent sampai teater kampus. Hal ini dibuat untuk menjembatani kegelisahan atas mati surinya para aktor dan aktris terlebih lagi dunia teater. Bagi Andi Sahluddin, ada banyak cikal bakal yang masih perlu pengarahan ekstra agar bakat-bakat yang mereka miliki dapat survive dan bisa tersalurkan. Kalau boleh kita runut ke belakang, banyak sanggar yang hidupnya hanya di kandang sendiri atau ada bakat yang tidak tereksploitasi lalu mati. Nah, melalui wadah ini diharapkan para tetua yang prihatin akan kondisi tersebut dapat mengarahkan serta membantu kelestarian apa yang sudah ada. Sewindu yang lalu, bermunculan sanggar-sanggar di kota Banjarbaru, tapi sekarang? Namanya saja tak tedengar lagi. Kemana sanggar-sanggar tersebut? Apakah lenyap tak berjejak atau memang di telan bumi karena tak mampu bertahan? Sebut saja Sanggar Baimbai, Tetas, Tetas Sylva, Sanggar Naga (Bengkel Sastra 2001), Sanggar Amuk, dan sebagainya. Tak jelas kemana tapaknya? Mungkin tersaput angin! (haha)
Pada kesempatan ini, beberapa tokoh dari sanggar-sanggar teater Banjarbaru, menghadiri dan mengaklamasikan dirinya sebagai pemerhati teater yang trenyuh akan sikap nglayut atau menggantung. Tak tentu arah pertumbuhan sanggar di Banjarbaru ini. Forum ini dalam waktu dekat, akan mengundang semua sanggar teater untuk hadir dalam dialog akbar dalam rangka memperbincangkan visi forum untuk mengadakan pentas teater setiap bulan secara bergiliran dan pada akhir tahun, akan ada penganugerahan kepada aktris dan aktor terbaik selama rentan waktu pementasan yang disepakati. Dalam rentan waktu yang panjang (ke depan), forum ini akan menggaet kawan-kawan yang berbakat untuk pentas keliling Indonesia. Salam sukses[]

Jumat, 05 September 2008

KONTEMPLASI BERSAMA

Peace Education Sebagai Solusi Alternatif Dalam Menciptakan Budaya Damai


Pendidikan damai merupakan proses pendidikan yang memberdayakan masyarakat agar mampu memecahkan konflik dengan cara kreatif, dan bukan dengan cara kekerasan. Dalam konteks ini, pendidikan damai menjadi sangat terkait dengan tingkat kepuasan masyarakat. Kesulitannya adalah tatkala cara kreatif yang ditempuh tidak menjadikan masyarakat puas dalam penyelesaian konflik. Memang, cara kreatif kadang kala dipandang tidak menampakkan kejantanan, rasa jagoan dan semangat heroisme, yang kemudian mendorong penyelesaian konflik dengan jalan kekerasan. Cara kreatif dalam menyelesaikan konflik biasanya memerlukan waktu lebih lama, membutuhkan kesabaran, kedewasaan emosional, untuk menghasilkan win-win solution serta kedamaian.

Salah satu cara mengatasi tantangan pendidikan damai adalah membangun jembatan untuk mendukung setiap pihak sebagai pelaku utama. Sama halnya belajar memerlukan tempat dalam konteks sosial yang lebih luas, terutama di sekolah dan ruang kelas, begitu pula halnya dengan pendidikan damai, ia bergantung pada keluarga, masyarakat, dan jaringan sosial, sehingga dapat menimbulkan efek perubahan yang positif dan berkelanjutan. Ungkapan think globally, act locally menjadi intisari bagi upaya mendidik budaya damai yang dapat menghubungkan antara teori mendidik budaya damai yang dapat menghubungkan antara teori dengan praktik, serta menerjemahkan isu internasional ke dalam perilaku individual. Seorang pendidik damai punt idak harus bekerja sendiri, sebab masyarakat internasional bergerak secara aktif dan tumbuh melalui berbagai jaringan, terbitan berkala, kampanye global, program nasional maupun internasional. Masyarakat yang peduli, para pendidik dan para aktivis dari berbagai usia diseluruh penjuru dunia saat ini sedang mempromosikan dan membangun perdamaian lewat jalur pendidikan sehingga terciptanya budaya damai.

Fakta perihal budaya damai dapat dilihat dari beberapa nilai, sikap, tradisi, perilaku dan gaya hidup yang didasarkan pada hal-hal berikut:

1. Penghormatan atas kehidupan, menyudahi kekerasan dan mempromosikan serta mengamalkan sikap tanpa kekerasan melalui dialog dan kerjasama.

2. Penghormatan yang penuh terhadap prinsip-prinsip kekuasaan, integritas wilayah dan kemerdekaan politik suatu Negara, serta tidak campur tangan terhadap masalah esensial yang termasuk ke dalam yuridiksi domestik suatu Negara.

3. Penghormatan yang penuh bagi dan peningkatan terhadap semua hak dan kebebasan asasi manusia.

4. Memiliki komitmen untuk menyelesaikan konflik secara damai.

5. Berupaya memenuhi kebutuhan pembangunan dan yang terkait bagi generasi masa kini dan mendatang.

6. Menghargai dan meningkatkan hak untuk pengembangan.

7. Menghargai dan meningkatkan persamaan hak dan peluang bagi pria maupun wanita.

8. Menghargai dan meningkatkan hak semua orang untuk bebas menyatakan pendapat dan memberikan informasi.

9. Mengikuti prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerjasama, pluralisme, keragaman budaya, dialog, pemahaman pada semua tingkat masyarakat dan antar berbagai bangsa serta ditumbuhkan dengan memberdayakan lingkungan nasional maupun internasional yang kodusif bagi perdamaian.

Keinginan untuk hidup secara damai dan harmoni telah menjadi perhatian banyak pihak. Di sisi lain, upaya untuk menyelesaikan kekerasan pun menemui tantangan yang semakin kompleks. Di satu sudut, terdengar teriakan ”tolak pornoaksi”; di sudut yang lain orang memprotes peperangan, membentangkan spanduk bertuliskan ”No War!” dan menyerukan penyelesaian damai atas suatu konflik.

Jelaslah bahwa damai berlaku umum dan merupakan lawan dari violence atau kekerasan. Kekerasan bisa terjadi di seluruh aspek kehidupan. Dalam bidang politik, penjajahan dan perang adalah bentuk kekerasan; dibidang ekonomi, korupsi dan perampasan harta secara ilegal merupakan bentuk kekerasan; di bidang hukum, pelanggaran aturan adalah bentuk kekerasan; di bidang budaya, eksploitasi nilai–nilai negatif yang merusak peradaban merupakan bentuk kekerasan. Media massa juga dapat menampilkan tayangan kekerasan. Justru media massa ini yang sering kali mempercepat pembelajaran kekerasan. Bisa kita bayangkan, untuk menyajikan reklame sabun atau shampo yang berciri kelembutan dan kehalusan saja, justru disampaikan dalam bahasa kekerasan! Film kartun pun yang merupakan konsumsi kesukaan anak–anak, disajikan penuh dengan adegan baku hantam dan jotos.

Demikian pula halnya dalam kehidupan sehari-hari, bentuk–bentuk hukuman atau sanksi yang kelewat batas, penyalahgunaan wewenang, pemaksaan dan tekanan atau menyalahi kode etik dan norma kepatutan, juga disebut sebagai bentuk kekerasan, kekerasan dalam pendidikan. Keinginan untuk mencapai tujuan pendidikan yang damai dapat dilakukan antara lain dengan memahami penyebab kekerasan alam masyarakat, yakni mengenal lebih dalam kondisi sosial yang bisa menyebabkan perilaku kekerasan, dan mengkaji suasana kekerasan ynag mampu menimbulkan perilaku kekerasan.

Kondisi damai mengenal dua sifat, yakni negatif dan positif. Kondisi damai yang negatif muncul sebagai akibat dari ketiadaan kekerasan individu dan kekerasan institusional sebagaimana digambarkan dalam spiral kekerasan. Sementara kondisi damai yang positif adalah terwujudnya kehidupan makmur, keadilan sosial, kesetaraan gender, terjaminnya hak–hak asasi manusia dan lain sebagainya.

Peran pendidikan damai dalam mewujudkan budaya damai dapat dilakukan dengan beberapa jalan berikut ini:

1. Memperkuat kembali upaya kerjasama nasional dan internasional untuk meningkatkan tujuan dalam memperoleh pembangunan ekonomi, sosial, dan kemanusiaan, serta untut meningkatkan budaya damai.

2. Memantapkan keyakinan bahwa anak-anak, sejak usia dini, memperoleh manfaat dari pendidikan nilai, sikap, perilaku, dan gaya hidup yang dapat memberdayakan mereka sehingga mereka dapat menyelesaikan konflik secara damai dan dalam suasana jiwa yang saling menghargai martabat manusia dan bersikap toleran tanpa diskriminasi.

3. Melibatkan anak-anak dalam berbagai kegiatan agar dapat tersosialisasikan nilai-nilai serta tujuan budaya damai.

4. Memantapkan persamaan akses bagi kaum perempuan, khususnya bagi para gadis.

5. Mendukung dan memperkuat berbagai upaya dari para pelaku budaya damai dengan sasaran mengembangkan nilai-nilai dan keterampilan yang kondusif bagi terbentuknya budaya damai, termasuk pelatihan dalam rangka meningkatkan dialog konsensus.

6. Memperkuat upaya pelatihan dalam bidang pencegahan konflik/manajemen krisis, penyelesaian perselisihan secara damai serta pembentukan perdamaian pasca konflik.

7. Memperluas inisiatif peningkatan budaya damai yang ditangani institusi kepemerintahan

Secara teoritik ada banyak cara untuk memecahkan konflik seperti: menyerah begitu saja dengan segala kerendahan hati, melarikan diri dari persoalan yang mengakibatkan konflik, membalas musuh dengan kekuatan dan kekerasan yang jauh lebih dahsyat, menuntut melalui jalur hukum, dsb. Cara-cara tersebut sering tidak efektif, dan selalu ada yang menjadi korban. Saat ini ada gerakan pemecahan konflik yang kemudian sering disebut dengan Alternative Dispute Resolution (ADR). ADR merupakan sebuah cara untuk menyelesaikan perkara atau masalah. Dalam perkembangannya, ADR kemudian juga lebih populer disebut dengan conflict resolution (Resolusi Konflik). Bentuk-bentuk Resolusi Konflik inilah yang perlu kita jadikan sebagai program pendidikan integratif agar para siswa sebagai calon pewaris dan generasi penerus tata kehidupan masyarakat memiliki budaya damai dan mampu menegakkan perilaku anti kekerasan. Hanya melalui generasi penerus yang mampu menegakkan budaya damai dan anti kekerasanlah kita akan berhasil membangun masyarakat masa depan yang bisa tumbuh secara beradab dan demokratis. Sebaliknya generasi penerus yang tidak mampu melakukan resolusi konflik akan terdorong ke kawasan kehidupan masyarakat yang anarkis dan dalam jangka panjang masyarakat yang demikian itu akan terisolir dari percaturan global.

Berbagai bentuk resolusi konflik yang dapat diintegrasikan dalam program pendidikan antara lain: (1) negosiasi; (2) mediasi; (3) arbitrasi; (4) mediasi-arbitrasi; (5) konferensi komunitas; dan (6) mediasi teman sebaya. Negosiasi merupakan salah satu bentuk resolusi konflik yang dapat dilakukan dengan cara berdiskusi antara dua atau lebih orang yang terlibat dalam konflik kekerasan dengan tujuan utama untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan.

Mediasi adalah sebuah proses yang bersifat sukarela dan rahasia yang dilakukan oleh pihak ketiga yang netral untuk membantu orang-orang mendiskusikan dan menegosiasikan persoalan-persoalan yang amat pelik dan sulit agar tercapai kesepakatan sehingga konflik yang membawa berbagai bentuk kekerasan dapat dihindarkan. Langkah-langkah penting dalam mediasi sebagai salah satu bentuk dari resolusi konflik ialah: pengumpulan informasi, perumusan masalah secara jelas dan jernih, pengembangan berbagai opsi, negosiasi, dan formulasi kesepakatan. Bentuk Resolusi Konflik ketiga, arbitrasi, merupakan proses yang mana pihak ketiga yang netral mengeluarkan keputusan untuk menyelesaikan konflik setelah ia mengkaji berbagai bukti dan mendengarkan berbagai argumen dari kedua belah pihak yang sedang terlibat dalam konflik.

Selanjutnya, mediasi-arbitrasi merupakan sebuah hibrid yang mengkombinasikan antara bentuk mediasi dan arbitrasi. Artinya, sejak awal para pihak yang terlibat dalam konflik mencoba untuk melakukan pemecahan melalui mediasi, tetapi jika tidak ditemukan pemecahannya kemudian mereka menempuh cara arbitrasi. Bentuk Resolusi Konflik yang kelima, konferensi komunitas, merupakan dialog yang terstruktur dengan melibatkan semua unsur dan atau anggota masyarakat (pelaku kekerasan, korban, keluarga, para sahabat, dsb.) yang mengalami dan menderita akibat dari dari adanya kekerasan kriminal. Semua unsur masyarakat saling memberi kesempatan untuk menyatakan posisinya, persaannya, persepsinya, terhadap kekerasan yang sudah terjadi, dan bagaimana usul mereka untuk menyelesaikan persoalan yang ada itu.

Atas dasar konsepsi yang telah terbangun di atas maka penyelesaian–penyelesaian untuk menggantikan peran kekerasan yang disebabkan beberapa faktor yang telah disebutkan diatas merupakan sebuah keniscayaan untuk diejawantahkan dalam upaya mewujudkan kehidupan sosial yang aman, tentram dan sejahtera.

Dalam deklarasi Universal HAM (Universal Declaration of Human Rights) pasal 1 disebutkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan hendaknya diselenggarakan secara bebas (biaya), sekurang–kurangnya pada tingkat dasar. Dalam pasal 2 Deklarasi HAM juga dinyatakan bahwa pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengembangkan secara utuh kepribadian manusia dan memperkokoh penghormatan terhadap HAM dan kebebasan asasi. Sedangkan pada pasal 3 disebutkan bahwa orang tua memiliki hak utama untuk menentukan jenis pendidikan yang semestinya diberikan kepada anak–anak mereka.

PBB menindaklanjuti pasal–pasal ini melalui berbagai kegiatan untuk memelihara perdamaian dunia. Dengan kata lain, pendidikan damai adalah upaya menyeluruh PBB melalui proses belajar mengajar yang humanis, dan para pendidik damai yang memfasilitasi perkembangan manusia. Saat ini pendidikan damai diarahkan untuk tujuan yang lebih luas, yakni membangun budaya damai (culture of peace). Ungkapan ”budaya damai” atau culture of peace untuk pertama kali dielaborasi UNESCO pada saat kongres Internasional tentang perdamaian yang diadakan di Yamoussoukro, Cote d’Ivore, pada 1989.

Semua kerja di bidang pendidikan damai ini tidak terlepas pula dari partisipasi para pendidik, peneliti, aktivis, dan anggota masyarakat sipil pada umumnya. Bersama dengan PBB beserta badan–badan, khususnya LSM, lembaga Pendidikan dan jaringan penduduk sipil, mereka memajukan pendidikan damai dan menghubungkan cita–cita mereka dengan jalan pengamalan sekaligus penelitian secara ekstensif. Kampanye global untuk perdamaian dimaksudkan untuk mendukung upaya PBB dalam pengembangan budaya damai dan tanpa kekerasan bagi anak–anak sedunia, serta untuk mengenalkan pendidikan damai dan HAM ke seluruh lembaga pendidikan, termasuk sekolah medis dan hukum.

Dalam pendidikan damai, kondisi damai dipahami tidak sekedar sebagai tiadanya bentuk–bentuk kekerasan langsung, melainkan juga terwujudnya kondisi damai yang positif. Pendidikan damai diarahkan untuk menumbuhkan tiga aspek utama—pengetahuan (knowledge) sebagai cognitive domain, keterampilan (skill) sebagai psychomotoric domain, dan sikap (attitude) sebagai affective domain—yang untuk mengembangkan budaya damai secara global.

Penjabaran tentang materi dan metode dalam pendidikan damai adalah sebagai berikut. Pertama, pendidikan damai memuat materi pengetahuan (knowledge) yang meliputi mawas diri, pengakuan tentang prasangka, berbagai isu lainnya seperti konflik dan perang, damai dan tanpa kekerasan, lingkungan dan ekologi, nuklir dan senjata lainnya, keadilan dan kekuasaan, teori resolusi, pencegahan dan analisa konflik, budaya, ras gender, agama, isu HAM, sikap tanggung jawab, pengaruh globalisasi, masalah buruh, kemiskinan dan ekonomi internasional, hukum internasional dan mahkamah keadilan, PBB, instrumen, standar dan sistem internasional, perawatan kesehatan, masalah AIDS dan jual beli obat terlarang. Kedua, muatan materi keterampilan (skill) dalam pendidikan damai meliputi komunikasi, kegiatan reflektif dan pendengaran aktif, kerjasama, empati dan rasa harus, berpikir kritis dan kemampuan problem solving, apresiasi nilai artistik dan estetika, kemampuan menengahi sengketa, negosiasi dan resolusi konflik, sikap sabar dan pengendalian diri, menjadi warga yang bertanggungjawab, penuh imajinasi, kepemimpinan ideal dan memiliki visi. Ketiga, muatan materi nilai atau sikap (attitude) dalam pendidikan damai meliputi kesadaran ekologi, penghormatan diri, sikap toleransi, menghargai martabat manusia beserta perbedaannya, saling memahami antar budaya, sensitif gender, sikap peduli dan empati, sikap rekonsiliasi tanpa kekerasan, tanggung jawab sosial, solidaritas, resolusi berwawasan global.

Adapun penerapan Alternative Dispute Resolution (ADR) atau alternatif pemecahan masalah ada beberapa cara yang harus ditempuh untuk mensosialisasikan budaya damai di dalam lingkungan informal yang antara lain sebagai berikut:

1. Penerbitan Media: salah satu bentuk pendidikan damai yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, gagasan kepada masyarakat luas melalui publikasi media massa (media cetak maupun elektronik) baik itu dalam bentuk buku, majalah, tabloid, buletin, artikel ilmiah, poster, opini umum, iklan layanan masyarakat, dan sebagainya. Hasil akhir yang ingin dicapai umumnya berupa peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran akan pendidikan damai.

2. Penyuluhan: merupakan kegiatan pendidikan damai non formal yang bertujuan untuk menerangkan/menjelaskan tentang suatu isu, permasalahan, gagasan, atau metode yang bersifat spesifik agar peserta memahaminya secara lebih mendalam.

3. Seminar: merupakan kegiatan pendidikan damai dalam bentuk forum persidangan ilmiah yang dipimpin/diarahkan oleh seorang pakar. Pada forum tersebut, satu atau beberapa nara sumber diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, atau pengalamannya tentang topik tertentu guna mendapat tanggapan dari para peserta melalui mekanisme tanya jawab. Dengan demikian, baik nara sumber maupun peserta akan mendapatkan umpan balik (feed back) yang dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuannya dalam mewujudkan budaya damai.

4. Lokakarya: merupakan kegiatan pendidikan damai yang bertujuan untuk membahas permasalahan praktis tentang suatu bidang tertentu melalui mekanisme diskusi interaktif antar peserta yang memiliki minat yang relatif sama dengan tingkat keahlian yang relatif setara, namum memiliki sudut pandang yang relatif berbeda. Suatu lokakarya umumnya akan menghasilkan suatu kesepakatan, rumusan, atau rekomendasi yang akan menjadi acuan/referensi bagi pihak-pihak yang terlibat.

Peace education tidak dapat terwujud dan tersosialisasi tanpa peran pemerintah yang mempunyai wewenang untuk membuat peraturan khusus dalam rangka mewujudkan budaya damai, sehingga Negara kita terbebas dari kasus-kasus terdahulu, di samping itu peran media cetak dan elektronik juga sangat mendukung[]

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI