Minggu, 04 April 2010

Seminar Sastra


PENGALIH WANAAN SENI
(Sapardi Djoko Damono di Kota Teluk Palu)
: Hudan Nur



KEDATANGAN Sapardi Djoko Damono (SDD) ke Palu, Sulawesi Tengah dalam rangka Seminar Sastra Bandingan untuk masyarakat sastra, penikmat sastra, guru, dosen, mahasiswa, dan seniman Palu, 29 Maret 2010 bertempat di Cita Mulia Hotel Palu membawa cita baru dalam memaknai sastra di era kekinian, terlepas dari kacamata kontekstualitas.
Berangkat dari karya-karya Barat, pada masa 2000 SM dapat kita rasakan perbedaan dalam penyampaian sebuah karya (sastra) dalam niat memanusiakan manusia dan menjunjung tinggi nilai persamaan dalam kebudayaan. Ada banyak epos di dunia ini, begitu juga cerita dan legenda yang nampaknya mempunyai persamaan kisah yang tidak jauh berbeda, seperti: Odypus dan Sangkuriang, Romeo & Juliet dan Laila-Majnun, dan lainnya. Betapa menakjubkannya?
Pada perkembangannya alih wahana menurut SDD merupakan perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lainnya. Sehingga apapun bentuk kesenian dapat diubah menjadi bentuk kesenian yang lain, contohnya: puisi lahir dari lukisan, novel ditulis dari gerak tari, dan film dibuat dari karya novel.
Tradisi lisan yang membudaya di nusantara kita ini sudah selayaknya kita tanggalkan. Betapapun verba volant-schrifta manent, dan akan terus menerus hidup sepanjang zaman. Perlu kita contoh negara-negara luar sana yang apapun tercatat dalam tulisan. Ada tiga hal pokok dalam alih wahana: Enkranasi (pengubahan fiksi, puisi, dan drama), Novelisasi (pengubahan drama atau fil menjadi film), dan musikalisasi (pengubahan puisi menjadi lagu).
Sehingga, apapun itu bentuknya tulislah apa yang bisa ditulis sementara kita masih punya kesempatan untuk menjaga kesepemahaman, menjaga eksistensi dan akan selalu ada mesti kita sudah tiada nanti. Sastra lisan, seperti ketoprak dan pewayangan sangat disayangkan karena selama ini tidak pernah ditulis dalam bentuk naskah. Pelakonan berjalan adanya tanpa mengikuti arus-alur yang dibuat.
Seyogianya, harus kita biasakan menulis itu untuk melawan kesimpang-siuran data di era mendatang!

ada yang menanggalkan pakaianmu satu demi satu
mendudukanmu di dpean cermin dan membuatmu bertanya
tubuh siapakah gerangan yang kukenakan ini?

ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu
menimbang-nimbang hari lahirmu
mereka-reka sebab-sebab kematianmu

ada yang sedang diam-diam menjadi dirimu

Senin, 15 Februari 2010

Menyoal Pilkada Palu

PAPAKERMA BEGAWAN NAGARI
(Ketika Persaingan Tak Sehat Menzarah Pemikiran Kandidat Walikota Palu)
: Oleh K. Ariwa)*



MENENGOK prakada di perbagai wilayah se-Indonesia memang menuai kontroversi yang negatif. Intrik dilakukan calon penguasa nagari dengan tidak sehat, antara lain ditandai dengan pembusukan kandidat untuk menjatuhkan kandidat saingannya, hingga kesan pesimistis menjadi tolok ukur keberhasilan pembusukan tersebut. Tak perlu ditampik bahwa pengaruh, status sosial, maupun kesejahteraan kandidat menjadi penting untuk diketahui oleh publik menyoal aral yang melintang kelak serta sebuah konsekuensi perubahan yang wajib diemban penguasa sekaligus kepuasan masyarakat akan pelayanan pemerintah ke depan.

Palu sebagai ibukota provinsi Sulawesi Tengah menyimpan polemik laten yang tidak saja membahayakan intern kandidatnya tetapi juga publik yang selama ini masih terombang-ambing dengan persoalan kekuatan financial yang dimiliki kandidat. Di tengah papakerma tersebut, hadirnya begawan yang mampu menampung segenap aspirasi positif publik menjadi urgen dalam rangka memanusiakan manusia seutuhnya khusunya publik Palu yang secara umum masih jauh dari makna kemajuan dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Sulawesi.

Betapa tidak, bisa dilihat dari infrastruktur pembangunan sarana dan prasarana dan kualitas sumber daya manusia yang jauh kalah dibandingkan dengan person publik di tempat lagi. Apalagi bila kita mengukur Jawa? Palu adalah iklim berkehidupan yang akan (mulai) membangun tatanannya agar bisa setaraf dengan wilayah lain minimal se-Sulawesi. Untuk itu, disadari (tidak) perlu perubahan secara substansi dan diejawantahkan sebagai agent of change untuk sebuah nagari (daerah) yang lebih purna.

Hingga apa yang didambakan oleh publik dapat direngkuh minimal semua hak-hak dasar kemanusiaan hakiki dapat diakomodir oleh pemimpin ke depan. Di masa sekarang, yang katanya semakin maju justru hak-hak manusia semakin terabaikan hal ini ditandai dengan beberapa hal antara lain di bidang: kesehatan, pendidikan, dan penyediaan sumber energi serta kebutuhan air bersih. Eko Prasetyo, seorang penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah memaparkan bahwa keterbatasan yang dimiliki oleh orang kecil tidak digubris oleh kalangan atas dalam hal ini pemerintah yang notabenenya melindungi dan memberikan pelayanan bagi kalangan menengah ke bawah, ternyata? Bantuan yang katanya 20% dari anggaran pemerintah sampai ke tangan rakyat kecil dengan sejumlah potongan yang disebut pajak-pajak. Hal ini juga membawa keterpurukan negara kita khususnya kader bangs hingga ancaman putus sekolah masih disinyalir kerap terjadi di masyarakat yang berekonomi lemah.

Selain itu orang miskin juga dilarang sakit! Sebab biaya pengobatan dan segala tetek-bengek persoalan administrasi masyarakat miskin justru di buat rumit oleh pemerintah sendiri. Malah pernah terjadi, ketika pasien tengah gawat darurat (koma) sedang persoalan administrasi belum tertuntaskan oleh pihak keluarga maka alhasil pasien tidak bisa mendapat pertolongan cepat hingga ajal menjemputnya. Sungguh disayangkan memang sebab proses administrasi oleh pemerintah Palu yang sekarang sangat berbelit-belit dan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Jangankan hal tersebut, mengurus KTP/ KK saja memerlukan alokasi waktu minimal satu minggu. Ditambah lagi para pelayan-pelayannya yang tidak profesional dan (maaf) kasar apalagi ketika tahu yang mengurusnya adalah orang kecil. Hal ini perlu diperbaiki segera karena memanfaatkan jasa para honorer atau PNS baru yang masuknya dengan kolusi dan nepotisme justru mendatangkan mudarat bagi masyarakat Palu sendiri. Pada akhir Desember 2008 lalu, hal ironis serupa terjadi di Jawa Tengah. Ketika anggota DPRD propinsi tersebut menaikkan tarif biaya rumah sakit bagi kelas ekonomi menengah ke bawah sebesar 300% sementara VIP atau kelas utama (atas) tidak mengalami kenaikan sama sekali. Sungguh nanar kejadian tersebut, semoga tidak terjadi di Kota Teluk Palu.

Menyoal sumber energi listrik dan air bersih yang setiap waktu mendapat sumpah serapah dari masyarakat biasa katakanlah menengah dan menengah ke bawah. Hal ini perlu cepat dialihtangankan atau dipindahtangankan atau dibantu oleh pemerintah agar sekelumit problematika byar-pet dapat tertuntaskan dengan cepat. Di samping itu, kebutuhan masyarakat akan air bersih juga menjadi catatan penting bagi calon kandidat ke depan. Sebab, biarpun PDAM tetaplah tidak bisa mendatangkan makna ‘bersih’ itu sendiri. Sebab, kala hujan mengguyur kota Palu sebagian penduduk yang tinggal di kawasan Palu Barat akan mendapati air yang kecoklatan bahkan hitam bercampur lumpur. Hal yang demikian perlu digarisbawahi dan menjadi catatan penting karena Palu (masih) akan berkembang, belum menuju (mau) maju. Sehingga yang paling penting adalah sekelumit persoalan hak-hak dasar kemanusiaan.

Ketika Wanita Menjadi Kandidat

Minor negatif selalu tertuai bila hal ini mencuat dipermukaan karena kontroversi akan hadir baik dari segi agama maupun kemampuan sendiri bagi seorang wanita. Padahal sejumlah negara pernah dipimpin oleh perempuan termasuk Indonesia.
Di Palu (Sulawesi Tengah) sejarah pemimpin wanita juga pernah terjadi pada masa kolonial Belanda ialah Itondoei yang sekarang daerahnya termaktub di Kabupaten Sigi atau cerita Raja Lingginayo juga seorang perempuan. Bahkan seorang Panglima Burung bagi suku Dayak adalah wanita.

Lewat kacamata agama khususnya Islam, diwajibkan pemimpin itu adalah golongan ulama dan umara yang berjenis kelamin laki-laki. Namun pada nadirnya ketika kaum adam belum bisa membawa perubahan yang substansi dalam beranah di kemimpinan daerah maka wanita dengan segenap pengalamannya disertai rasa, empati dan belas bisa hadir dalam memberi warna baru demi kemaslahatan seluruh umat. Apalagi di tengah pluralisme dalam dinamika kehidupan publik di era sekarang, sah-sah saja ketika wanita ikut andil dalam pembaruan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat khususnya mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Harus ada yang berubah untuk lebih! Semoga![]



)* Pemerhati Masyarakat Kota Palu

Cenayang Palu

Eksploitasi: Sebuah Bagian Ekspresi
(Tanggapan Hentikan Eksploitasi Seniman di Mercusuar 11 Februari 2010)



APAKAH bila sudah beberapa kali berkarya dikatakan seniman? Apakah bila sudah menulis puisi dan dibukukan dikatakan penyair? Apakah memang begitu klaimisasi seni di ranah nagari kita ini? Ah.

Oleh: Hudan Nur

Tulisan yang dibuat oleh seorang Jamrin Abubakar beberapa waktu lalu membuat nelangsa dan miris. Ditambah lagi fakta akan kualitas berkesenian yang pelakunya sendiri tidak tahu standar berkesenian di era sekarang (masih berkiblat ke barat). Sehingga originalitas dan flagiator kesenian tidak bisa dibedakan oleh kacamata para pelaku seni di Kota Palu.

Seperti kasus karya-karya M. Djaruddin Abdullah yang secara terang-terangan di flagiat oleh Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2007, tidak mendapat respon apa-apa. Padahal kalau ditelaah lebih jauh, perbuatan yang dilakukan oleh seorang Kadis tersebut termasuk ke dalam kasus pidana. Ini perlu digarisbawahi dan ditindaklanjuti sebab menurut informan karya tersebut telah dibukukan dan beredar di Yogyakarta dan sekitarnya atas nama Kadis tersebut. Hal ini sangat memalukan, dan perlu diusut secara tegas.

Barangkali mengingat minimnya cakrawala berpikir dan berkreasi sehingga jabatan bisa dijadikan mobilisasi dalam mengklaim karya orang sebagai karya sendiri. Oh, Tuhan ampuni dosanya!

Dilain pihak, ketika seniman birokrat dengan gayanya yang menjenuhkan mencoba merangkul kembali bahu para seniman murni maka yang harus dilakukakan oleh seniman murni adalah melawannya. Sebab disadari atau tidak, hidup adalah pilihan dan jangan sampai pilihan yang memilihkan kita. Sehingga, kita bisa memihak dan memilah yang mana kawan, yang mana lawan, dan kita jangan pernah merasa takut karena kekuasaan, sebab semuanya telah terfirkah-firkah adanya.

Seyogianya juga eksploitasi seniman memang harus dihentikan. Namun bagaimana bila ada beberapa oknum (seniman) yang senang dengan eksploitasi semacam ini? Jawabannya kembali ke diri seniman itu sendiri dan pantaslah yang demikian disebut pengkhianat seni! Maka berhati-hatilah hai para seniman yang mempunyai ide brilian jangan sampai ide cemerlangmu terlontar ketika diwicarakan dengan seniman birokrat karena dengan gamblang ide tersebut akan dicaplok sebagai idenya.

Lalu, mengenai standarisasi seorang dikatakan seniman atau teaterawan atau penyair itu bagaimana? Apakah dengan beberapa kali menulis puisi dan dibukukan dikatakan penyair? Mudah betul kalau begitu! Padahal di Indonesia ada badan standar yang bisa mengukur kualitas karya penulis lewat media yakni antara lain seperti Majalah Horison, Kompas, Pawon Sastra, Lebah, Republika, Media Indonesia, dan Tempo. Lalu dalam teater antara lain: ada Federasi Teater Indonesia, Mimbar Teater Indonesia, Katimuri, dsb. Begitu juga dalam hal rupa, kriya, musik, dan tari. Memang ada standar baku penilaian mutu yang berkiblat ke barat dan timteng.

Lantas bagaimana bila eksploitasi dimaknakan ekspresi?

Menurut hasil pertemuan Dewan Kesenian se-Indonesia di Malang beberapa tahun silam, bahwasanya semua kegiatan pemerintah yang berhubungan dengan seni maka wajib hukumnya penggerak, pelaksana, maupun penggagas menu seninya adalah pelaku seni pribumi (murni) itu sendiri! Ini tidak bisa ditawar lagi, karena memang merekalah yang tahu betul nadir kesenian, baik yang berskala regional maupun nasional. Tapi apakah hal ini juga berlaku di Kota kita?

Apa Kabar Dewan Kesenian Palu (DKP)?

Kesemangatan sebagian para anggota DKP dalam berkesenian perlu kita tanggapi dengan positif, karena dimana-mana yang namanya dewan pasti ada pro-kontra. Tetapi itu dilema yang mesti ada dalam berkehidupan organisasi termasuk kesenian. Namun yang disayangkan apabila ada oknum-oknum yang hanya tahu sedikit tentang kesenian, malah berkoar menyoal seni bergema-gema. Padahal substansi seni yang hakiki belum ia miliki dan terapkan dengan benar sebenar-benarnya.

DKP periode baru ini mengakomodir seluruh kalangan dengan berbagai komposisi lewat bias manapun, atau bila dikatakan lebih gamblang merekrut seluruh kalangan. Ini positifnya, namun kelemahannya: ada kalangan yang baru kemarin tercebur ke kesenian sudah memploklamirkan dirinya sebagai seniman sejati. Wah ini kebablasan namanya! Seolah-olah ia tahu banyak tentang kesenimanan padahal baru sebibir pantai ia rasai asin garam kesenian. Mesti kita ketahui juga bahwa garam itu asin, tetapi asin bukan berarti lautan bukan?

Belum lagi polemik persepsi yang beraneka. Itu lumrah adanya. Tetapi, satu hal yang harus diingat Dewan Kesenian tidak seporsi dengan komunitas atau sanggar kesenian karena dewan adalah puncak tertinggi dalam hirarki kesenian. Ia menaungi semua sub-aspek kesenian, ini berarti ia juga harus mempunyai persepsi kedewanan yang benar. Banyak yang belum mengerti dengan ini. Sehingga kinerja kedewanan bisa berjalan dengan seharusnya, dan ini memerlukan energi untuk mensinergikannya, dan setiap kita adalah aset seni-budaya yang harus mendukung keberlangsungan kesenian di Kota Teluk ini. Mari kita berekspresi dalam kita!



Penulis adalah Pegiat di Kostra Latarnusa sekaligus Anggota DKP

KSI: Kostra Latarnusa

Kostra Latarnusa merupakan singkatan Komunitas Sastra Indonesia dan Tradisi Lisan Nusantara Palu-Sulawesi Tengah yang baru berdiri di Kota Palu. Kostra Latarnusa merupakan anak cabang dari Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat Jakarta, karena di Sulawesi Tengah kaya tradisi lisan maka kami secara otonomi mengklaimkan diri lebur bersama tradisi lisan. Dari sini, diharapkan tradisi lisan dapat dialihterasikan dalam bentuk literatur sastra tertulis hingga pelestarian tradisi lisan dapat terakomodir, minimal terdokumentasikan lewat tulisan.

Dari segi umum, "tradisi lisan" merujuk kepada penyampaian bahan budaya melalui sebutan lisan, dan telah lama dikatakan sebagai gambaran cerita rakyat (kriteria yang tidak lagi dipegang kemas oleh kesemua pencerita rakyat). Sebagai bidang akedemik, ia merujuk kepada kedua kaedah saintifik dan objek yang dikaji oleh kaedah tersebut. Tradisi lisan merujuk kepada segala bentuk warisan dan tradisi yang lahir dalam sesuatu kelompok masyarakat. Penyampaian tradisi ini berbentuk perantaraan lisan. Ia merupakan satu cara masyarakat menyampaikan sejarah lisan, kesusastraan, perundangan dan pengetahuan lain menyeberangi generasi tanpa sistem tulisan.

Kajian tradisi lisan adalah berbeda dengan bidang akademik sejarah lisan, yang merupakan rekaman ingatan pribadi dan sejarah oleh mereka yang mengalami era sejarah atau kejadian tertentu. Ia juga berbeda dengan kajian kelisanan (orality) yang boleh ditafsirkankan sebagai pemikiran dan gambaran lisan dalam masyarakat di mana teknologi kesusastraan (terutamanya tulisan dan cetakan) tidak meluas dikalangan penduduknya. Akan tetapi pada kenyataannya posisi tradisi lisan masih terpinggirkan, potensinya masih terabaikan, dan masih banyak yang menganggap bahwa tradisi lisan hanyalah peninggalan masa lalu hanya cukup menjadi kenangan manis belaka.

Tradisi lisan seolah-olah tidak relevan lagi dengan kehidupan modern yang semakin melaju sangat cepat selama ini. Kemajuan teknologi ternyata tidak disikapi secara arif sehingga semakin meminggirkan posisi tradisi lisan.

Dunia sastra, baik yang berbahasa Indonesia mau pun yang berbahasa daerah nampak seperti kerakap di atas batu, mati segan hidup tak mau. Di kalangan para pendukung sastra ada semacam rasa ketergantungan pada uluran tangan pemerintah kurang semangat mandiri dalam berkesenian. Kekuatan potensial terpencar oleh tidak adanya organisasi yang mampu menghimpun mereka. Organisasi sangat tergantung pada tenaga lokomotif untuk bisa bergerak. Sementara Dewan Kesenian lumpuh, hanya ada namanya.

Sastra berbahasa, baik lisan atau pun tulisan juga terancam binasa.Kepunahan ini bisa dipercepat oleh tidak adanya kesadaran budaya di dua tingkat yaitu tingkat atas dari pengelola kekuasaan politik yang nampak dengan tidak memiliki politik kebudayaan yang jelas. Dari bawah yaitu di kalangan masyarakat yang larut oleh budaya pop tanpa memahami apa itu budaya pop yang melarutkannya.

Berangkat dari posisi sastra dan tradisi lisan yang masih terpinggirkan khususnya di kota Palu dan dengan kedatangan Dzawawi Imron ke Kota Palu sekaligus launching KSI di mata masyarakat sastra di Palu membawa dampak besar dalam pengakomodiran sastra dan tradisi lisan yang dimiliki oleh Palu. Kegiatan bulan depan yang akan digelar KSI Palu adalah Cerdas Cermat Sastra dan Tradisi Lisan dan Kostra Latarnusa Awards bagi seluruh pelajar SMA (sederajat).

KSI Palu dalam Kostra Latarnusa

Hapri Ika Poigi bersama Dzawawi Imron
(Pasca Launching KSI Palu, 15 Januari 2010)

Senin, 28 Desember 2009

Refleksi Akhir Tahun

CATATAN SINGKAT TSI; SEBUAH REFLEKSI YANG PATUT DICAMKAN
(Refleksi Beberapa Event Nasional di Tahun 2009)
: Hudan Nur)*


KEGIATAN TEMU SASTRAWAN INDONESIA (TSI) yang berlangsung beberapa waktu lalu di Pangkalpinang, Bangka Belitung mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.
Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusastraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.
Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.
Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.
Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah.

APA KABAR SASTRA DI PALU?
Ada baiknya kita juga membenahi diri menyoal sastra di Palu (khususnya) yang hanya memandang sastra (puisi, cerpen, dan esai) hanya sebatas pengumpulan karya sastra dengan kualitas yang perlu dipertanyakan. Mengingat kehidupan sastra di Kota Palu masih prematur dan tumbuh cacat dalam artian tidak normal dalam berkehidupan sastranya. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan kecacatan tersebut antara lain faktor media, kritikus sastra, dan ranah dalam fentilasi lokal. Faktor utama yang bisa memajukan sastra secara universal di Sulawesi Tengah adalah media. Sangat disayangkan, belum ada media yang memberikan keluasan bagi penulis dan masyarakat sastra untuk menuangkan (alihterasi) dari tradisi lisan ke karya sastra mutakhir.
Mudah-mudahan ada respon positif bagi masyarakat sastra dan media lokal dalam memajukan sastra di Kota Palu. Semoga! []




)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan
Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah

Sabtu, 28 November 2009

Kongres Perdamaian di PALAPAS


KONGRES KEBUDAYAAN MULTI-ETNIK UNTUK PERDAMAIAN Di PALAPAS


(Kota Palu, Kab. Donggala, Kab. Parigi Moutong, Kab. SIGI)

Provinsi Sulawesi Tengah

18-20 November 2009



Daerah Sulawesi Tengah dihuni oleh masyarakat dengan kemajemukan yang tinggi baik etnis, budaya, agama, bahasa dan lain-lain. Kemajemukan tersebut mewarnai seluruh proses dan perkembangan kehidupan masyarakat (relasi sosial) hingga saat ini. Kemajemukan sosial dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah telah memberi dampak yang kuat terhadap gerak kehidupan dan kondisi masyarakat, positif maupun negatif.

Beragamnya isu-isu konflik sosial yang hadir, khususnya pasca Orde Baru membawa konsekuensi dan dampak yang dalam konteks tertentu dapat mengundang disharmoni dan potensi konflik, bahkan dapat berujung pada krisis identitas. Keberagaman-pluralisme (kekayaan sosial-kultural) yang ada di Sulawesi Tengah mestinya dapat menjadi modal dasar bagi proses pembagunan di daerah bila dikelola dengan baik dengan mengusung prinsip keadilan dan kesetaraan bagi masyarakat secara keseluruhan.

Selama ini disadari atau tidak, minimnya pemahaman akan pentingnya semangat (spirit) keberagaman dan kearifan budaya lokal dalam membangun dan memelihara perdamaian guna menciptakan persatuan dan kesatuan menjadi salah satu indikator krisis kepercayaan masyarakat adat yang berdampak pada terbentuknya eksklusivitas etnis, kelompok, golongan dan agama yang kemudian memunculkan potensi konflik sosial-kultural di masyarakat dan faktanya dalam beberapa dasawarsa terakhir ini justru mengakibatkan konflik komunal (Kasus Poso). Ketegangan dan bentrokan (Konflik) umumnya digerakkan oleh budaya dan pola hidup yang berbeda, karena setiap etnik membawa mereka pada kebudayaan mereka sendiri. Persaingan dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang berorientasi ekonomi kapital telah juga menambah rentannya potensi konflik di area (Sulawesi Tengah) ini.

Saat ini terdapat banyak sekali organisasi adat, baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintahan (Ornop/LSM), tetapi keberadaan setiap organisasi itu memiliki tujuan dan maksud berbeda. Sangat mungkin keberadaan dan kepentingan berbeda-beda itu memiliki maksud yang sama, yakni menumbuhkan lagi kesadaran atas identitas kultural dan norma-norma yang menyertainya agar kehidupan ini berlangsung aman dan damai serta berkeadilan sosial. Dalam praktiknya, organisasi adat yang ada itu justru bukan berangkat dan bekerja untuk memenuhi maksudnya, melainkan sekadar menunjukkan eksistensi dan saling memperkuat legalitasnya masing-masing secara tradisional. Ini sesungguhnya merupakan salah satu faktor yang bisa menjelaskan, bahwa di daerah (khususnya Sulawesi Tengah yang diwakili Kabupaten Poso yang mengalami konflik kemanusiaan) masih bersemayam bibit konflik laten. Gejala Etnosentrisme (mengunggulkan dan menganggap budaya sendiri paling baik) masih kuat, dan ironisnya terjadi dalam sebuah “kultur besar” dan “etnik besar”, yakni di antara sub-etnik. Ini belum termasuk perbauran berbagai kultur dan sub-kultur yang berasal dari daerah lain.

Gagasan hadirnya KONGRES KEBUDAYAAN MULTI-ETNIK UNTUK PERDAMAIAN Di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi (PALAPAS) Provinsi Sulawesi Tengah ini dilatarbelakangi realitas di atas dan berbagai perspektif tentang realitas itu.


)*yayasan Tadulakota' Document

Rabu, 25 November 2009

Laksa Cerita

TAKDIR KEMBANG DIBURU LIMBANG



ia tidak pernah lupa merenda harinya yang muram
dengan kain sisa milik para tetangga
usang dan pasi

: kami berkenalan di karnaval tahun baru tiga tahun lewat pesta topeng
kupenuhi bopeng disekujur diri
lalu ilusi mengejarku hingga kami sama-sama berlari
menuju gemintang

mereka yakin bila hari diterjang limbang
ombak di laut lepaspun takkkan mampu menghalangi
takdir tuhan yang malang

ia tidak pernah lupa merenda harinya yang muram
dengan kain sisa milik para tetangga
usang dan pasi

Kabonena, Juli 2009

Senin, 12 Oktober 2009

Dari Seorang Sahabat

Jarak Menamakannya Sepi


Arlika dan ariwa

mungkin kalian belum terlalu mengerti

malam benarbenar mendingin ketika hujan bersamaan

menulis beberapa cerita lelaki yang tak bisa cepat berbuai mimpi

dengan kelopak mata selalu menggantung tinggi tanpa tiang

rebahkan hatinya sepasrah mungkin dilumat sepi


Arlika dan ariwa


jarak menghapus bagian yang harusnya kalian tahu

sekata yang kini piatu

lalu waktu meyatimkan tanpa babibu

mengubahnya menjadi sederet huruf mati.


Ariwa


memang diam tak selalu berikan arti pada malam yang begini

sebab dengan lidah siapa mampu terbacakan huruf mati piatu

hanya untuk pahamkan definisi belaka kepada telinga mereka

yang lebih melogika ketimbang nurani seperti kita

bukankah sepi itu adalah hati, bukan masalah sendiri dan hujan ini

malah tidur kalian pun permainan sepi.


Arlika


sepakat sajalah bahwa pergantian malam itu pasti

tak perlu perdebatkan lebih jauh dengan ariwa

pun jika lelaki itu pernah terlelap sebentar menjenguk mimpi

pahami saja sebagai pergantian yang begitu itu

lupakan malam abaikan siang jangan perdulikan angka angka kalender

cukup pahami saja sebagai pergantian.

Minggu, 27 September 2009

Lebaran di Pelabuhan Pantoloan


(kita akan bersinggah di simpang waktu: sementara waktu masih menyisakan kenang. seoga ramadhan berikutnya masih bisa kupeluk dengan senyuman dan pisah sesegukan liralira)

Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia

“BISIKAN HATI ANAK NEGERI”



Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri adalah kumpulan (antologi) puisi para penyair Indonesia yang direkam dalam keping CD Audio dan berisi suara-suara penyair yang membacakan puisinya sendiri.

Tanpa bermaksud asal beda, diharapkan, dengan terwujudnya antologi ini akan mampu membawa pencerahan (atau setidaknya warna lain) dalam wacana perpuisian Indonesia. Dasar pemikirannya sederhana, yakni sebagai ajang silaturahmi antar penyair dari lintas generasi yang berbeda. Sekaligus menawarkan bentuk lain dari antologi puisi dari yang biasanya hanya berupa media cetak visual (buku) menjadi media yang bisa dinikmati secara audio.

Bahkan tidak menutup kemungkinan pada perkembangan selanjutnya antologi bersama ini bisa berupa audio visual (video art/video klip) seperti yang pernah dilakukan oleh Almarhum WS Rendra beberapa tahun silam. Nah, format audio dipilih karena sangat memungkinkan untuk memuat banyak karya serta secara ekonomis biaya produksinya lebih hemat.

Kami sadar, pekerjaan ini tidaklah akan mudah diwujudkan. Mengingat akan segala keterbatasan panitia secara materi dan tentunya membutuhkan dukungan serta kerjasama dari banyak pihak yang peduli. Sekedar informasi, hingga sekarang panitia belum mendapatkan sponsor dari pihak manapun. Panitia hanya mampu memberikan sumbangan tenaga, pikiran serta berusaha semaksimal mungkin guna mewujudkan misi yang cukup berat ini. Tentu saja peluang tersebut bisa direspon oleh siapa saja.

Persyaratan :
1.Event ini terbuka untuk penyair WNI (Warga Negara Indonesia) dengan tanpa dibatasi usia, ras, kasta, agama atau golongan tertentu,
2.Domisili penyair masih di wilayah Indonesia,
3.Karya puisi yang direkam adalah karya puisi terbaik (menurut penyairnya sendiri) dan sudah pernah dipublikasikan ke khalayak luas meskipun dalam bentuk lain diluar rekaman suara. Misalnya telah dimuat di media cetak atau telah masuk dalam buku kumpulan puisi tertentu (tidak termasuk yang dipublikasikan di internet). Maksudnya, supaya memberikan gambaran kepada publik sastra itu sendiri tentang perjalanan (proses) sebuah karya termasuk pula akan menjadi gambaran eksistensi sang penyairnya itu sendiri,
4.Melampirkan photo copy kliping puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat media cetak) atau photo copy sampul buku kumpulan puisi bersangkutan (bagi puisi yang pernah dimuat di dalam kumpulan puisi),
5.Karya yang dikirim adalah karya asli dan dibacakan sendiri oleh penyair bersangkutan dan bukan hasil jiplakan, saduran, hasil adaptasi maupun terjemahan dari karya orang lain,
6.Tema bebas, asal tidak mengandung unsur-unsur yang mencedrai SARA, Susila (pornographi dan pornoaksi) serta bukan sebagai bentuk kampanye politik praktis,
7.Menggunakan bahasa Indonesia,
8.Durasi rekaman minimal 1 menit dan maksimal 5 menit/judul,
9.Diperbolehkan memakai ilustrasi musik atau latar suara lainnya yang mendukung, dengan catatan pemuatan musik atau ilustrasi tersebut tidak merugikan pihak lain,
10.Jumlah karya yang dikirim minimal 3 judul dan maksimal 5 judul,
11.Lampirkan surat pernyataan pribadi yang menyatakan persetujuan mengikuti event ini dan tunduk pada semua peraturan (persyaratan) yang ditetapkan panitia,
12.Lampirkan juga photo copy KTP / SIM atau bukti identitas lainnya yang masih berlaku,
13.Pengumpulan karya akan dimulai pada tanggal 17 Oktober 2009 dan ditutup pada 27 Desember 2009,
14.Karya bisa dikirimkan sendiri atau via Pos/jasa pengiriman paket ke alamat:
PANITIA Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
d/a Irvan Mulyadie, Jl. Nagrog Kidul Indihiang RT.008 RW.002
Kel: Indihiang Kec: Indihiang Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46151
Contak Person: 08180 212 8581 (irvan mulyadie) e-mail: vanmydie@yahoo.co.id
15.Persyaratan lain yang harus dikirim dalam bentuk file dalam kepingan CD, berisi:
File rekaman suara pembacaan puisi yang dibacakan langsung oleh penyairnya sendiri dalam format WAV, tapi lebih diutamakan dengan format MP3,
File naskah puisi yang dibacakan penyair bersangkutan dalam format doc / rtf,
File Biodata diri penyair bersangkutan, termasuk alamat lengkap, alamat e-mail, alamat website/blog pribadi dan No HP/Telp,
File Potret diri penyair bersangkutan (close up),
16.File Materi yang telah dikirim ke panitia (diluar hak cipta karya), menjadi milik panitia,
17.Pengumuman selanjutnya akan dipublikasikan pada 1 Januari 2010 di alamat http://irvanmulyadie.blogspot.com

Hak Peserta:
1.Setiap penyair yang karyanya dimuat akan mendapatkan 1 buah master antologi puisi digital dengan tajuk: Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri
2.Setiap penyair yang karyanya dimuat diperbolehkan memperbanyak, menyebar-luaskan, serta memperjual-belikan Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri tersebut sepanjang tidak menggunakan cara-cara yang melanggar hukum seperti pemaksaan dan merugikan pihak lain,
3.Keuntungan yang didapatkan dari hasil memperbanyak, menyebarluaskan, serta memperjualbelikan antologi digital Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ini seluruhnya diberikan kepada penyair masing-masing (sebagai royalty).

Kewajiban lain Peserta:
1.Memberikan dana partisifasi Rp. 50.000,- /orang.
2.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) jumlah antologi yang diperbanyak oleh masing-masing penyair secara berkala (maksimal 3 bulan sekali) dengan maksud sebagai kontrol peredaran antologi yang menyebar di masyarakat,
3.Melaporkan kepada panitia (cukup melalui e-mail) apabila akan mengadakan launching terbuka Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri yang meliputi waktu, tempat, serta jumlah peserta yang mengikutinya.

CATATAN :
-Meski dengan sangat berat hati, dana partisifasi dipungut sebagai pengganti biaya untuk proses pembuatan Mastering (penggandaan), pencetakan materi pendukung, publikasi dan ongkos kirim antologi ke alamat masing-masing peserta,
-Dana partisifasi dihimpun di Bank Mandiri 13104 KC Tasikmalaya Ottoiskandar-dinata dengan Nomor rekening : 131 – 00 – 0633214 – 4 a/n Irvan Mulyadie,
-Dana partisifasi diserahkan paling lambat 5 hari setelah pengumuman atau tanggal 6 Januari 2010,
-Pengiriman master Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri ke alamat peserta masing-masing paling lambat 2 hari setelah dana partisifasi diterima. Dan diperkirakan akan sampai ke alamat tujuan (khususnya di luar pulau Jawa) paling lambat dalam 3-5 hari,
-Bagi peserta yang belum atau tidak menyerahkan dana partisifasi tapi telah memenuhi persyaratan, karya-karyanya tetap akan diikutsertakan dalam Kompilasi Pembacaan Puisi Penyair Indonesia Bisikan Hati Anak Negeri,
-Dari data yang pernah ada dalam event serupa (pembuatan antologi bersama), target peserta yang akan mengikuti kegiatan ini dapat mencapai lebih dari 200 peserta.



(irvanmulyadie.blogspot.com)

Minggu, 06 September 2009

Sesenda Ringan

Ideologinya Sastra
(Merunut Pembentukan Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia di Palu)
: Hudan Nur )*


PALU secara krusial berada dalam ‘kegelisahan’ akan eksistensi sastra yang mulai kehilangan warnanya, ditambah lagi para pelakunya dalam konteks internal. Munculnya keberagaman versi dan pola pikir mengakibatkan perkembangan sastra secara terpadu mengalami kemunduran. Tidak hanya pada karya-karyanya, tetapi juga terhadap lintas generasi berikutnya yang secara perlahan ikut terbunuh karena tidak mempunyai wadah untuk menyalurkan bakatnya. Jika dibandingkan dengan kota lain di Sulawesi ini, Palu sungguh jauh tertinggal. Di tanah air ini sudah mempunyai wadah aspiratif untuk para sastrawan ‘berladang’ yakni Komunitas Sastra Indonesia (KSI).
Ketika dirunut ke belakang KSI terbentuk sebelas tahun yang lalu pasca presiden Soeharto lengser dari jabatannya sebagai kepala Negara karena pada masa kekuasaanya karya sastra kurang berkembang disebabkan tekanan militer yang selalu waspada terhadap kegiatan sastra seperti pembacaan puisi yang dicurigai akan merusak integrasi bangsa. Namun sejak tahun 1998 resmilah KSI sebagai rumah komunitas yang mempunyai akta notaris sekaligus sebagai yayasan legal di Indonesia. Sastrapun mempunyai peranan mulia dalam mengusung jati diri bangsa yang sekarang bisa kita lihat faktanya bahwa Indonesia mulai kehilangan ke‘aku-an’nya.
Komunitas sastra adalah bentuk pelaksanaan kegiatan sastra yang khas di Indonesia. Sebenarnya, jika kita menganggap bahwa komunitas sastra sebagai sarana produksi atau mengkonsumsi sastra secara kolektif, hal ini sudah terlihat umum di banyak Negara selain Indonesia pada zaman pertengahan Perancis, ataupun pada abad ke-19 di Jepang, membaca buku secara berkelompok adalah hal yang umum, sebab buku adalah benda yang masih sangat berharga dan langka di wilayah tersebut pada zaman tersebut. Namun keunikan di Indonesia adalah pada pola menikmati sastra secara kolektif yang tetap saja digemari hingga kini meskipun buku sudah dapat diperoleh di masyarakat tanpa dengan banyak kesulitan. Di Indonesia, komunitas sastra berupa sekelompok atan sejumlah orang yang bertujuan untuk melakukan sastra. Sebetulnya, kelompok sejenis ini telah eksis di nusantara setidaknya sejak zaman kolonial, supaya orang bisa mendapatkan akses untuk membaca dan membahas buku bersama-sama, ketika kebanyakan orang yang mengalami kesulitan mempunyai buku. Kelompok tersebut seringkali memiliki sebuah tempat untuk berkumpul, dimana para anggotanya bisa saling belajar dan berdiskusi untuk berkarya lebih baik. Istilah ‘komunitas’ untuk menggambarkan kelompok seperti ini mulai digunakan pada tahun akhir 1980an dan berbagai aktivitas komunitas mulai terlihat dalam masyarakat sejak awal tahun 1990an. Setelah orde baru runtuh, jumlah komunitas sastra mulai bertambah drastis lagi dengan jenis kegiatan yang lebih bervariatif. Pertumbuhan komunitas sastra ini sebagian didukung oleh perkembangan ekonomi dan perbaikan standar pendidikan warganegaranya selama satu dekade terakhir, serta sebagai akibat perkembangan sosial yang memungkinkan bertambahnya populasi yang mampu membeli buku atau sudah terbiasa menulis dan membaca. Menurut Ahmadun Yosi Herfanda (Ketua KSI Pusat Jakarta), ideologi kesusastraan adalah paham, teori, atau tujuan terpadu yang terkandung di dalam teks-teks yang disebut karya sastra – baik prosa (esai, cerpen atau novel) maupun puisi. Definisi tersebut merujuk pada penjelasan dari ideology Perancis, Desstutt de Tracy (1976), yang menciptakan istilah ‘ideologi’ guna menunjukkan suatu ilmu baru yang meneliti ide-ide manusia, asal mulanya, sifat-sifatnya, serta hukum-hukumnya. Dalam kacamata politik, ideologi adalah paham, teori atau tujuan terpadu yang merupakan satu program sosial-politik. Namun, dalam arti umum ideologi adalah ide-ide yang mendasari sebuah sistem filsafat atau pandangan hidup suatu kelompok tertentu, yang menampak pada pola aktivitas, ekspresi dan tujuan kekaryaannya.
Di sisi lain, Budi Darma berkata kalau ingin tahu komunitas sastra tanpa label ‘komunitas’, cobalah berkunjung ke makam Sutan Takdir Alisyabana di Tugu, Bogor. Makamnya di sana berdampingan dengan makam isterinya sendiri, tidak jauh dari sebuah lereng sungai. Makam ini terletak di pekarangan sebuah rumah besar milik Sutan Takdir Alisyahbana (STA). Dalam sejarah sastra Indonesia, rumah ini mungkin tidak tercatat, namun sebetulnya rumah ini mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembagan sastra. Dulu, ketika STA masih muda, sekali-sekali dia mengundang sastrawan-sastrawan yang umurnya lebih muda daripada dia, antara lain Mochtar Lubis. Rumah itu dijadikan tempat ngobrol dan berdiskusi. Lalu pada angkatan ‘45 pada hakikatnya bukan komunitas. Tengok sedikit perihal kehidupan mereka. Ada sepasang tokoh sentral yakni, HB Jassin sebagai penemu bakat dan Khairil Anwar sebagai pembeharu. Dua orang ini dan teman-temannya sering berkumpul-kumpul, berdiskusi dan langsung ataupun tidak, diskusi mereka masuk ke dalam karya mereka. Tengoklah misalnya; surat Idrus kepada HB Jassin dan jawaban HB Jassin kepada Idrus.
Berbeda dengan Anis Sholeh Ba’asyin yang menganggap bahwa ada banyak sudut pandang yang bisa dipakai untuk membedah gejala komunitas sastra, mulai dari yang paling sederhana; terbentuk karena seorang sastrawan ingin membagi ilmunya pada orang-orang yang mencoba berguru padanya, atau karena sekelompok orang bersepakat menajamkan kemampuan sastranya dalam satu wadah; sampai dengan yang paling rumit: sinergi sastrawan-satrawan yang merasa butuh wadah untuk menegaskan posisinya dalam peta sastra Indonesia, atau sinergi dari para sastrawan yang punya musuh bersama dengan kegiatan sastranya. Tapi, di luar niat awal semacam ini, posisi sastra Indonesia sendiri dalam peta sosial budaya sebenarnya sudah cukup untuk menjadi alasan untuk memaklumi kehadiran komunitas sastra. Sebagai sebuah spesies baru, sastra Indonesia bukan cuma harus berjuang menemukan capaian-capaian estetikanya saja, tapi juga sekaligus harus berjuang merebut khalayak pembacanya.
Akhirnya dengan pemahaman yang matang akan eksisensi tersebut di atas dan beragamnya tradisi etnik di tempat kita berpijak ini. Maka perlulah dibentuk sebuah wadah aspiratif bagi insan sastra di kota Palu yakni: Komunitas Sastra dan Tradisi Lisan Indonesia yang nantinya akan menjadi pionir dan sambung akar ke penerus berikutnya agar kelestarian budaya dan keberlangsungan sastra secara keseluruhan dapat dipertahankan dengan berbagai ragam sastra ataupun tradisi lisannya.[]




)* Anggota Wanita Penulis Indonesia (WPI)

Sabtu, 22 Agustus 2009

Temu Sastrawan Indonesia di Pangkalpinang


Reza Fahlivie dan Zurriyati Rosyidah: Teamwork AUK (Menikmati salah satu pantai di Pangkalpinang, 2 Agustus 2009)



Seumlah rekan dari tanah air: Budhi Setyawan, M. Mus'ab, Sandi Firly, Hudan Nur, Sisiy, Reza Fahlivie, Samyong, Bojes, CS

Pasca TSI#2


CATATAN SINGKAT TEMU SASTRAWAN INDONESIA DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

: Hudan Nur)*



KEGIATAN Temu Sastrawan Indonesia (TSI) yang kedua di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung sudah selesai. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli-2 Agustus 2009 lalu mengantungi banyak catatan bagi masing-masing peserta yang notabenenya sebagian besar adalah penulis. Ada banyak hal yang bisa dibawa pulang setelah perhelatan tersebut yang eksistensinya bagi sebagian kalangan yang ada di Indonesia masih abu-abu bahkan kurang diakui keberadaannya sebagai suatu ajang (pertemuan) yang sekaliber nasional. Betatapun kegiatan tersebut sudah tergolong berhasil dimana mendatangkan seratus limapuluhan peserta yang berasal dari penjuru tanah air dengan menghadirkan sejumlah pembicara dialog sastra antara lain: Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Yasraf Amir Piliang, Katrin Bandel, Zen Hae, Nenden Lilis Aisyah, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, John McGlynn, dsb. Pada TSI 2 kali ini meluncurkan dua antologi sastra yakni Pedas Lada Pasir Kuarsa (Puisi) dan Jalan Menikung Ke Bulit Timah (Cerpen), penerbitan antologi sastra semacam ini serupa dengan penerbitan di TSI 1 yang berlangsung tahun lalu di Propinsi Jambi.
Terlepas dari output kegiatan TSI 2 pada penulis generasi berikutnya, ada baiknya kita selaku pegiat sastra tahu bahwa kesusstraan Indonesia memang terfirkah-firkah adanya. Hal ini disebabkan berbagai kepentingan baik individu maupun kelompok, perbedaaan cara pandang, dan tingkat penempatan terhadap eksistensi diri selaku sastrawan yang eksklusif dan sangat berlebihan. Namun di luar itu semua perlu kita kembali kepada makna penulis dalam dunia kepenulisan yang sebenarnya. Penulis yang berhasil pastilah insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya.
Tetapi hal tersebut nampaknya sudah dikesampingkan, dikalahkan oleh eksistensi para sastrawan dengan paham pemikiran yang beraneka pula. Sejak majalah sastra Indonesia; Horison diterbitkan dengan dua versi, sejak itu pulalah perbedaan menjamur di dunia sastra Indonesia, dampak yang sangat signifikan dapat dirasakan para pegiat sastra di daerah, terlebih yang kurang menyelami sejarah dan kebenaran dari dalam diri sastra itu sendiri. Parahnya lagi, sastra dijadikan ajang politik bagi elitenya dan pengkultusan diri lebih berkualitas dari yang lain menyebabkan jarak antar lintas generasi berikutnya yang seharusnya dibina justru terbinasakan karena satu dan lain hal. Sayangnya, bagi sebagian besar kalangan generasi muda tidak tahu benang merah akan kehadiran sastra Indonesia yang sebenarnya. Masih banyak diantara mereka yang tahunya hanya menulis saja (penulis yang lahir dari bakat alam) dan celakanya apa yang mereka tulis tanpa mengetahui kaidah dalam bersastra sehingga substansi dan eksotisitasnya terabaikan. Sebuah karya harus mengikuti tata aturan baku yang ada dan ini mutlak dalam berkarya, apapun jenisnya tak terkecuali dalam dunia sastra.
Berkaitan dengan kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, ada sejumlah kegiatan yang dibuat dalam rangka peningkatan kualitas khususnya pendatang baru di dunia sastra antara lain: Sastra Kepulauan, Ode Kampung, Aruh Sastra Kalimantan Selatan, Ubud Writers Award, Biennale Festival, dll. Khusus bagi Biennale Festival International, festival ini dikultus bagi internalnya sebagai temu sastrawan dalam dan luar negeri. Bagi yang pernah mengikutinya, maka dialah sastrawan Indonesia namun jika tidak diundang ataupun terlibat berarti bukan sastrawan dalam kacamata mereka. Hal ini kontan membuat lintas generasi berikutnya menjadi menjauh, belum lagi sejumlah media cetak yang memuat rubrik sastra dikelola oleh redaktur yang berpaham golongan. Inilah yang menjadikan keberagaman dalam citra penulisan, khususnya puisi sehingga eksploitasi kualitas terabaikan. Selera dan keberpihakan kepada golongan sangat mempengaruhi perjalanan sastra Indonesia yang didokumentasikan dalam bentuk cetakan karya di media Koran, majalah dan bulletin Indonesia.
Ini juga penyebab hampir gagalnya kegiatan TSI 2 di Pangkalpinang, adanya sinyalemen dari pihak tertentu yang menganggap TSI 2 bermuatan politik bahkan blokade pihak baru bagi kesusastraan Indonesia. Namun, TSI 2 tetap berjalan sesuai amanah TSI sebelumnya di Propinsi Jambi. Beruntunglah bagi penulis yang berasal dari daerah yang masih murni, tidak terjebak dalam kebermaknaan golongan yang berlapis-lapis. Eksotisitas alam dalam nuansa lokal adalah fentilasi utama dalam menelurkan maha karya abadi yang hanya bisa diangkat oleh putra daerah. Berkenaan keberlanjutan TSI 3 tahun 2010 akan kembali di gelar di Sumatra tepatnya di Tanjung Pinang. Mudah-mudahan ada perubahan yang lebih baik dalam karya sastra. Semoga! []




)* Ketua Divisi Sastra dan Tradisi Lisan
Yayasan Tadulakota’ Propinsi Sulawesi Tengah

Senin, 20 Juli 2009

LAUNCHING BUKU


LAUNCHING WAJAH DEPORTAN
: Antologi Penulis Muda Lintas Propinsi 2009


PADA awalnya Antologi Wajah Deportan (WD) ini ditujukan untuk menjalin silaturrahmi penulis puisi pada lingkup yang lebih luas. Tetapi karena satu dan lain hal, akhirnya diputuskan untuk membukukan karya penulis muda yang berada di tanah air. Hadirnya antologi ini dalam klasifikasi penulis muda (penulis yang berusia di bawah 40 tahun) dikarenakan adanya persinggungan dalam takaran penulis senior dan junior, hal ini sangatlah beralasan sebab kecenderungan eksistensi penulis muda yang berbakat khususnya penulis-penulis muda di daerah dipandang sebelah mata. Ketika pertama kali diwacanakan mengenai pembukuan puisi-puisi ini kepada rekan-rekan seluruh tanah air, respon positif diterima oleh tim kerja dalam antologi ini.
Tak kurang dalam hitungan bulan, karya rekan-rekan penulis muda terkumpul di markas besar Komunitas Teras Puitika. Pengiriman tersebut diterima melalui e-mail, surat, dan ada juga yang langsung mendatangi markas tersebut. Uniknya puisi yang dikirimkan tersebut memuat kultur geografis, khazanah budaya, dan eksotika daerah yang sangat kental namun tetap nyaman untuk dibaca. Selain itu, unsur perlawanan juga mewarnai di antologi ini. Setiap penulis di antologi ini memekikkan kegelisahan dan pengenangan terhadap apa yang dialaminya pada situasi negara sekarang ini.
Antologi ini memuat 44 penulis muda Indonesia dengan kecakapan pengetahuan yang beragam sesuai dengan kondisi wilayah mereka masing-masing. Inilah yang menjadi kebhinekaan yang dimiliki Indonesia. Daya pikir yang mereka refleksikan ke dalam puisi tidak semata-mata torehan tinta di atas kertas. Melainkan sebuah upaya untuk menggugah para pembacanya untuk bersama-sama merenungi apa saja titik-titik komplekstitas hidup dan kulminasi moral yang diramu menjadi satu dalam rangka memanusiakan manusia untuk makna yang sesungguhnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa karya-karya puisi yang menjadi mahakarya dan sangggup merubah tatanan sosial ditulis oleh golongan muda, bisa kita lihat angkatan-angkatan penulis puisi sejak boomingnya karya Chairil Anwar. Sayangnya, dominasi golongan senior menyebabkan arus warna yang mempengaruhi karya penulis-penulis baru tersebut. Sehingga mereka tidak mempunyai ciri khas dalam pencitraan puisi-puisinya. Selalu saja ada bayang-bayang karya pendahulunya. Hampir seluruh puisi yang tergabung di WD adalah puisi-puisi yang lahir pada tahun 2000an, semoga kelak ada dobrakan baru untuk membawa perpuisian Indonesia khususnya puisi yang ditulis penulis muda ke arah perubahan dalam rangka pencarian jati dirinya.
Pada Acara Temu Sastrawan Indonesia di Bangka Belitung (30 Juli-2 Agustus) tepatnya di Pangkalpinang WD akan diluncurkan mengingat pada moment tersebut merupakan ajang dan tempat berkumpulnya sebagian besar dari sastrawan tanah air tak terkecuali. Mudah-mudahan dengan launchingnya WD dapat menggugah semangat menulis dan baca semua kalangan yang ada di nusantara.

Jumat, 03 Juli 2009

Artikel Ringan

MENYOAL KRISIS BUDAYA DAN SASTRA BERSAMA PUTU WIJAYA
: Hudan Nur)*



DALAM rangka peningkatan kualitas pemahaman secara konteks terhadap sastra secara universal kepada guru-guru sekolah menengah, Balai Bahasa Sulawesi Tengah mendatangkan I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang kita ketahui ia adalah seorang yang menguasai berbagai bidang antara lain: teater, penyutradaraan, film, sastra, sekaligus penulis novel dan naskah drama. Sulawesi Tengah, memang masih kurang bergolak dibidang sastra (teater, prosa, dan puisi) dibandingkan beberapa daerah di pulau ini. Untuk itu perlu penumbuhkembangan terhadap minat untuk kader muda (khususnya para pelajar sekolah) yang disampaikan dan diajarkan oleh guru di sekolah. Hal ini sangat beralasan karena banyak di luar sana, guru bahasa Indonesia tidak mengerti terhadap sastra sedangkan sastra adalah kesatuan dari bahasa yang relevansi sangat mempengaruhi terhadap sikap, pola dan budaya anak didiknya di sekolah. Belum lagi merebaknya beragam teknologi dan degradasi kultur yang sama sekali tidak ada filteralisasi (langsung di adopsi) karena labilitas dan tidak pernah tahu akan pemahaman budaya menyimpang dan hal ini tidak pernah terlintas bahwa awal penurunan kebudayaan itu berawal dari kurangnya perhatian dari lembaga pendidikan sebagai wadah formal bagi pelajar (setidaknya tempat mengenal dunia dan pergaulan lebih luas).
Kebudayaan dan sastra adalah hal yang sangat kompleks sehingga cukup sulit untuk bisa diejawantahkan dalam kehidupan. Padahal ini adalah fondasi untuk menjadikan manusia seutuhnya. Ada tiga hal yang bisa menjadikan manusia sebagai insan mulia yakni: agama, etika dan sastra. Apabila ketiga hal ini sudah dimiliki seorang manusia, maka mulialah ia dimata manusia yang lain maupun pencipta kita. Tetapi bila kita tengok ke kenyataan yang ada, justru berkebalikan. Budaya dan sastra menjadi ikon yang dipandang sebelah mata, apalagi bagi kalangan elite, pejabat dan instansi pemerintahan. Mari kita tengok juga, beberapa nsane di Eropa sana, atau Jepang dimana memandang seni sastra adalah kebudayaan yang wajib untuk diperhatikan dan lihat juga betapa negara-negara tersebut menghasilkan sumber daya manusia brilian yang sangat memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam. Bertentangan dengan kita, begitu banyak orang yang cerdas tapi sayang tidak punya empati terhadap lingkungan.
Kemerosotan dunia sastra juga bisa kita rasakan sekarang, para kritikus sastra sudah jarang kita temukan bahkan karya yang juga dihasilkan sudah mengalami pengunduran bila dibandingkan pada era terdahulu. Mari bersama kita telaah ulang karya-karya A.A Navis, HAMKA, Umar Khayam, Pramoedya Ananta Toer, dan sebagainya yang mempunyai nilai eksotisitas yang mencerminkan budaya kita. Kita bandingkan dengan beberapa karya sastra yang ‘disastrakan’ di era ini seperti Ayat-Ayat Cinta yang dipoles sedemikian rupa agar kelihatan komplek dan eksotis, hal ini sangat bertolak belakang dengan cerita Siti Nurbaya yang ditulis Marah Rusli karena eksotisitasnya natural tidak dipaksakan dan alur ceritanya runtut, klimaks tidak dibuat-buat, berjalan secara alami. Atau tetralogi Laskar Pelangi yang kalau kita kupas sangat bertentangan dengan logika. Padahal karya sastra (non-scince fiction) harus logis. Ditambah lagi karya-karya ‘pop’ yang pada akhirnya merusak pola pikir remaja lewat cerita yang digambarkannya.
Di sisi lain, ketika hal ini akan disikapi oleh simpatisan budaya dan sastra malah beberapa instansi terkait bersikap apatis. Barangkali, karena hal ini tidak membawa hasil positif bagi kantong pribadinya. Sangat disayangkan instansi kebudayaan dan pendidikan tidak mau melibatkan personnya ke masalah ini. Padahal notabenenya adalah instansi pelindung dan bertanggungjawab yang menaungi segenap apapun yang mengansung unsur budaya (sastra). Di dalam tubuh budaya terkandung nilai sastra untuk memanusiakan manusia. Di dalam sastra ada tanggungjawab moral untuk melindungi manusia dari kebobrokan, ada filteralisasi yang tidak sengaja menjadi tameng manusia dalam berkehidupan.
Ujung dari eksistensi budaya dan sastra adalah kepenulisan. Barangkali ini jualah yang menjadikan Putu Wijaya sebagai maestro seni karena selain aktor kawakan, terlibat langsung di lapangan, dia juga berhasil menuangkan apa yang ada di pikirannya ke dalam tulisan. Menyoal mengenai kepenulisan, penulis yang berhasil pasti insan pengaruh, baik kepada individu tertentu maupun massa, eksplisit maupun insan. Penulis bahkan bisa melampaui zamannya, artinya pengaruh mereka melebihi ruang dan waktu setempat. Tulisan, ide, pemikiran, bisa menelusup dan mempengaruhi orang secara diam-diam, sampai akhirnya pemikiran itu mengendap dan menguat, menjadi sikap. Dengan pemikirannya, penulis menawarkan kesadaran tertentu, bahkan lewat sikap dan perbuatannya, penulis menawarkan nilai kepada banyak orang, terutama sekali pembaca dan peminat seni dan sastra. Entah pemikiran, sikap, cara pandang, dan perbuatan tersebut diterima atau ditolak masyarakat, itulah yang akan menjadi warisan budaya generasi berikutnya. Di sinilah pentingnya mencatat dan mendokumentasi agar penelitian dan kesinambungan generasi berikutnya cukup mudah ditelusuri. Salah satu kelemahan umum dari gerakan seni yang terjadi di Indonesia buruknya dokumentasi, yang pada gilirannya akan menyulitkan generasi selanjutnya kesulitan menelaah signifikansi gerakan tersebut bila gerakan tersebut sudah mati atau inaktif. Inilah yang sudah dilakukan oleh Putu wijaya disepanjang kariernya dalam dunia seni.
Kehadiran Putu Wijaya di Palu pada 24-27 Juni 2009 ini dijadikan bom sastra untuk bisa menyastrakan bumi teluk ini secara perlahan. Selain itu, ada agenda yang sudah direncanakan pada malam-malam maestro ini di palu. Ada diskusi panel dan tawuran seni yang di gelar di sejumlah tempat, antara lain: Café Nyoman Kampung Nelayan , Taman Budaya, dan Taman Ria. Diharapkan, setelah terjadi sharing, silang dan tukar informasi dengan maestro ini, ada bola-bola api yang akan dikembangkan dan dilakukan oleh insan seni ataupun kaderisasi untuk harmonisasi seni sastra dan budaya dengan eksistensi lokalitas setempat. Selain itu, harapan rekomendasi konkret untuk pembentukan Komunitas Sastra Indonesia (KSI) cabang Sulawesi Tengah, bahkan pengalihtempatan kegiatan Sastra Kepulauan tahun 2010 dan beberapa rekomendasi tak terduga lainnya. Semoga![]


)* diterbitkan di Media Alkhairat

Selasa, 23 Juni 2009

Selamat Datang Putu Wijaya di Palu



DISKUSI PANEL BERSAMA PUTU WIJAYA :PALU, 25-27 JUNI 2009


Dinamika kebudayan yang kemudian hadir dalam perjalanan proses kebudayaan-kesenian (sastra) kita dirasakan telah sampai pada titik jenuh, lemahnya pengelolaan (kebijakan) atas keberagaman seni-budaya yang ada oleh negara/daerah membawa dampak terkoyaknya persatuan dan kesatuan bangsa, berbagai konflik sosial yang terjadi hampir diseluruh wilayah di Indonesia (Sulawesi Tengah yang oleh Yayasan Tadulakota’ teridentifikasi 23 Komunitas Asli/Lokal dan 13 komunitas Urban ), krisis identitas yang dirasakan semakin memudar serta minimnya pengelolaan kekayaan budaya yang kasat mata (tangible) dan tidak kasat mata intangible dan berbagai masalah mendasar lainnya yang kian memberi dampak akan rapuhnya pemahaman, kesadaran, apresiasi kita atas kekayaan keragaman seni-budaya.
Untuk mencapai sebuah hasil yang diinginkan, pengawalan terhadap pola pengembangan dan adanya kesepahaman bersama dimana kebudayaan juga harus menjadi salah satu prioritas utama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara karena kebudayaan-kesenian; merupakan sebuah jalan yang akhirnya akan memberikan gambaran bahwa begitu beragamnya kondisi yang ada dimasyarakat menunjukan identitas kita dalam pembangunan karakter bangsa.
Sehingga perlu diadakannya sebuah kegiatan yang bisa merangkul seni-budaya yang ada di ranah kita ini agar eksistensinya bisa terlestarikan dan menumbuhkan cikal bakal kader muda yang berbaya nalar kritis, analitis, dan kreatif dalam konteks kontemporer kesenian khususnya sastra dan kebudayaan.
Menyoal Otoritas Kebudayaan dan Sastra Dalam Proses Kreatif maka ada beberapa perihal yang mencuat dibenak kita anatara lain seperti: sastra kontekstual, sastra dan ekonomi kreatif, pertunjukan film dan lumbung alihterasi. Untuk implementasinya maka Yayasan Tadulakota Palu, Sulawesi Tengah akan menggelar diskusi panel dan tawuran seni yang dilaksanakan pada:
Tanggal : 25-27 Juni 2009
Pemateri: I Gusti Ngurah Putu Wijaya
Tempat : Auditorium Taman Budaya Palu, Kampung Nelayan,
Taman Ria Hasan Bahasuan.

Penanggungjawab Pelaksana:
- Yayasan Tadulakota
- Koordinator Pelaksana: Hudan Nur
- Sekretaris: Moh. Rivai S
- Koor: Yan Suprandy, Khais Al Faritzy, Handoko, Ary Al Ghifary, Emhan Saja, Fatmawati

Informasi lanjut bisa ditanyakan langsung ke Sekretariat di Komplek Maleo Jalan Kasuari (Belakang Walikota Palu) Atau CP: Moh. Rivai S 081341209173, Hudan Nur 08170781239.

Sabtu, 02 Mei 2009

Kegiatan AUK Organizer


AUK ORGANIZER

Komunitas Pecinta Seni Banjarbaru

FESTIVAL MUSIKALISASI PUISI

TINGKAT SMA/SEDERAJAT 23-24 MEI 2009

Se-Kalimantan Selatan

Auditorium Museum Lambung Mangkurat

LATAR BELAKANG

Sebagai komunitas kalangan muda yang mencintai seni dan segenap kehidupan seni dan asas kekeluargaan di dalamnya dan berkomitmen untuk memajukan sastra puisi secara berkala di Bumi Lambung Mangkurat dalam artian memperkenalkan kepada khalayak ramai tentang ragam pemusikalisasian puisi yang sampai hari ini mempunyai pakem yang sangat beragam antar daerah satu dengan daerah lainnya.

Melalui Festival Musikalisasi Puisi ini diharapkan setiap peserta dapat mempelajari dan membuat kreativitas dalam pemusikalisasian. Hasilnya diharapkan agar para pemenang menemukan rekadaya yang berkaitan dengan kreatifitas dalam unsur musikalisasi. Sehingga lahir kader baru dalam ruang yang baru dengan ide yang lebih kreatif, mengusung budaya Kalimantan Selatan.

TUJUAN

1. Meningkatkan kecintaan terhadap seni khususnya Puisi.

2. Memberikan pencerahan tentang ragam musikalisasi puisi se-Kalimantan Selatan.

3. Mengasah kreativitas yang mereka punyai lewat pakem inovatif musikalisasi puisi.

TEMA

Pada kesempatan ini tema yang diangkat adalah “Membangun Kreativitas Anak Banua Untuk Mengusung Tradisi Budaya Dalam Warna Musikalisasi Puisi”.

PESERTA

Peserta pada festival ini adalah pelajar SMA/SMK/MA/Sederajat di Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan.

PERSYARATAN

1. Peserta Festival Musikalisasi Puisi adalah Kelompok yang mewakili sekolah (SMA, SMK, MA) di wilayah Kalimantan Selatan.

2. Setiap Kelompok maksimal terdiri dari 6 orang dan seorang guru pembimbing.

3. Pendaftaran Musikalisasi Puisi dari tanggal 10 April 2009 – 16 Mei 2009.

4. Peserta dan pembimbing harus menyerahkan alamat lengkap, fotocopy identitas diri, surat pengantar dari kepala sekolah kepada panitia pelaksana.

5. Setiap sekolah diperbolehkan mengirim lebih dari satu kelompok sebagai peserta.

6. Peserta harus memilih satu buah puisi yang telah disediakan oleh panitia.

7. Peserta harus membawa alat music sendiri (alat music tradisional/akustik nonelektris)

8. Waktu tampil setiap kelompok maksimal 8 menit.

9. Panitia tidak menyediakan akomodasi.

10. Setiap peserta membayar regsitrasi sebesar Rp. 100.000,00

PENILAIAN

1. Penilaian dan penentuan pemenang dilakukan oleh Dewan Juri.

2. Penilaian mencakup: penafsiran puisi, vokal, komposisi musikal, keselarasan, dan penyajian.

3. Putussan tim juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.

TEMPAT DAN WAKTU PELAKSANAAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan di Auditorium Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Banjarbaru Pada 23-24 Mei 2009.

HADIAH

Pemenang I, II, II harapan I, II, III akan mendapatkan hadiah berupa piala, uang pembinaan dan piagam penghargaan dari Walikota Banjarbaru.

Total Hadiah Rp. 5. 000.000,00.

PENYERAHAN HADIAH

Penyerahan hadiah akan dilaksanakan pada 24 Mei 2009.

PENDAFTARAN

Peserta festival bisa mendaftakan di ke Book Café Rumah Cerita Banjarbaru, Jalan Rajawali Samping Museum Lambung Mangkurat Kalimantan Selatan di Banjarbaru Pukul 10.00 - 16.00 WITA.

PERTEMUAN TEKNIS

Pertemuan Teknis akan diadakan pada hari Sabtu, 16 Mei 2009 Pukul 15.00 WITA di Auditorium Museum Lambung Mangkurat.

LAIN-LAIN

Apabila ada hal-hal yang kurang jelas bisa ditanyakan langsung ke Saudari Hudan Nur (0817 078 1239) atau via email ke kanatoshi_ariwa@yahoo.com/ aukorganizer@yahoo.com.

Lomba Baca Cerpen se-Kalimantan Selatan

Naskah: Hajriansyah (Monologila), Nailiya Nikmah (Episode Durian), Rismiyana (Hitam Putih Kotaku), Dewi Alfianti (Ujung Musim Penghujan Kali Ini), Ratih Ayuningrum (Dongeng Kesetian)

TM: 16 Mei 2009

Kegiatan: 23-24 Mei 2009

Pendaftaran: Rp. 35.000

Durasi: 20 menit termasuk setting

Peserta: Umum se Kalimantan Selatan, 25 pendaftar pertama mendapat Antologi karya Nahdiansyah Abdi

Sabtu, 11 April 2009

JANGAN TIRU NABI MUHAMMAD

Kawan, perjalanan itu berat, kau saksikam itu. Liku-liku, darah jatuh menganak sungai. Miris…setiap kepak buarng camar serta Nazar, mentasbihkan bahwa hidup hanyalah urusan waktu. Aku rindu sosok Syekh Siti Djenar, yang dipenggal oleh kesombongan manusia yang menganggap dirinya “Waliyullah”.
Kawan, jangan contoh Nabi Muhammad, tapi contohlah Machiaveli. Bukan Musa tapi dekati Hitler. Sungguh…aku tak mengada ada. Menjadi Nabi Muhammad, berarti kita harus berani memperhatikan sekeliling, menyantuni, dan tidak lagi berpikir demi diri sendiri. Pun ketika keu memutuskan menjadi Musa, berarti kau siap merasakan sakit akibat usahamu menegakan kalimat Tuhan.
Terlalu berat kawan, tiru saja Machiaveli dan Hitler, walau mereka sombong, bengis, tapi mereka lakukan itu kareana diri mereka sendiri. Dan merekapun bertanggung jawab atas kesombongan dan kebengisan yang mereka tunjukkan.
Kawan, tak pantas kita meniru Nabi Muhammad atau Rosul Musa. Tingkah laku kita terlalu jauh dari apa yang mereka lakukan dulu. Jangan kau mengelak dengan berkata bahwa hidup adalah proses perbaikan. Terlalu sombong ketika kita berucap itu. Meniru Machiaveli dan Hitler saja belum bisa bagaimana mungkin mengekor nabi nabi.Bertanggungjawab atas apa yang dilakukan diri sendiri saja tak bisa, apalagi memperbaiki sekelilikg kita.
Kawan, jangan tiru Nabi Muhammad.Kawan, ini semua perenungan. kembali pada diri kita. Selama ini kita telah menemukan Tuhan, selama berabad-abad lamanya, engan masing-masing perspektif pencarian dan pemahanan di era tertentu mulai majusi, era pertengahan hingga paham akan konsep diri abad yang lalu. Semua renungan ini aku cuplik dari [sangmerdeka.blogspot.com] sebagai kontemplasi diri.

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI