Sabtu, 12 November 2011

2012: Temu Teater Indonesia di Palu


Setelah pementasan Teater Api, beberapa waktu yang lalu di Taman Budaya, Sulawesi Tengah oleh Dewan Kesenian Palu. Rupanya diakhir pertunjukan dan diskusi Brongkos, ketua Dewan Kesenian Palu, Dr. Nirwan Sahiri menyatakan bahwa ada niat untuk mewujudkan temu teater Indonesia di Palu tahun depan. Hal ini diamini oleh sejumlah komunitas seni, yayasan, termasuk para pemain Teater Api yang hadir pada waktu itu, seperti; Luhur Kayungga, Dedik Obenk, S. Ridho, Memet, dan M. Soleh. Betapa tidak, kini temu teater sekaliber Mimbar Teater Indonesia dan Federasi Teater Indonesia sangat mainstream sekali.  

Dalam workshop Teater Api yang dilaksakanan sehari sebelum pertunjukan Luhur Kayungga, selaku sutradara sekaligus pemateri utama menyampaikan materinya seperti ini: Dalam dunia. Lebih khusus lagi di dalam dunia teater, tata artistik merupakan bagian penting  dalam sebuah pementasan, selain lighting, penataan musik, dan permainan handal para aktornya. Tentu saja banyak kaidah yang harus dikenali dari berbagai macam bentuk atau aliran teaternya

Dalam teater konvensional (realis), kita tidak hanya melakukan “peniruan“ terhadap realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari secara fisikal, lebih dari itu artistik harus peka menangkap dan menciptakan atmosfir  sesuai kebutuhan dalam pementasan di panggung. Karena di dalam prosesnya kita mesti banyak mengenali realitas itu sendiri (terutama  soal visual) atau seorang penata artistik harus mampu merekonstruksikan realitas yang dia tangkap untuk membangun sebuah realitas baru dalam sebuah pementasanya.

Berbeda dengan teater non konvensional yang tidak hanya menyerap realitas–realitas seperti halnya teater konvensional dan membangun atmosfirnya, lebih dari itu juga ungkapan visualnya lebih cenderung dibungus dalam bentuk abstraksi yang lain lewat simbol, ikon, dan lain sebagainya.

Sebagai catatan terakhir, sebuah gagasan, ide dan perencanaan yang telah kita susun mesti  berhadapan lagi dengan realitas yang kita miliki seperti: tempat pertunjukkan, properti yang kadang justru diluar perencanaan dan diluar dugaan kita.

Apapun realitasnya mesti kita hadapi sebagai bagian dari dinamika untuk menyusun realitas baru : REALITAS GAGASAN DALAM KARYA.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

bang pasang link saya donk di blog ini...
http://dulida.blogspot.com

TERIMA KASIH ANDA MENGUNJUNGI BLOG SAYA. HARAPAN JUMPA LAGI